PERCOBAAN II
SPEKTRUM UV-VIS
I.
TUJUAN
Mahasiswa dapat mempelajari sifat
ion logam melalui karaterisasi
spektrum UV-VIS.
II.
WAKTU DAN TEMPAT
Waktu : 13.30
WITA - selesai
Hari/tanggal : jumat/01 November 2013
Tempat : Laboratorium pendidikan kimia lanjut FKIP UNTAD
III.
ALAT DAN BAHAN
1.
Alat
a. Spectronik
20
b. Kuvet
c. Pipet
tetes
d. Tissue
e. Tabung reaksi
f. Rak
tabung reaksi
g. Botol
semprot
2.
Bahan
a. Larutan
NiSO4 0,005 M
b. Larutan
CoCl2 0,005 M
c. Larutan
KSCN 0,005 M
d. Larutan
FeCl3 1%
e. Larutan
K2CrO4 0,005 M
f. Larutan
KMnO4 0,005 M
g. Larutan
CuSO4 0,005 M
h. Aquades
IV.
HASIL PENGAMATAN
1.
Larutan Cr (VI)
|
No
|
Panjang gelombang
|
Transmitan (%)
|
Absorben
|
|
1.
|
440
|
21
|
0,68
|
|
2.
|
450
|
24
|
0,62
|
|
3.
|
460
|
25
|
0,60
|
|
4.
|
470
|
27
|
0,57
|
|
5.
|
480
|
29
|
0,54
|
|
6.
|
490
|
30
|
0,53
|
|
7.
|
500
|
31
|
0,51
|
|
8.
|
510
|
31
|
0,51
|
2.
Larutan CuSO4
|
No
|
Panjang gelombang
|
Transmitan (%)
|
Absorben
|
|
1.
|
640
|
18
|
0,74
|
|
2.
|
650
|
16
|
0,79
|
|
3.
|
660
|
15
|
0,82
|
|
4.
|
670
|
15
|
0,82
|
|
5.
|
680
|
14
|
0,85
|
|
6.
|
690
|
16
|
0,79
|
|
7.
|
700
|
20
|
0,69
|
|
8.
|
710
|
28
|
0,55
|
|
9.
|
720
|
38
|
0,42
|
|
10.
|
730
|
48
|
0,31
|
3.
Larutan KmnO4
|
No
|
Panjang gelombang
|
Transmitan (%)
|
absorben
|
|
1.
|
480
|
22
|
0,65
|
|
2.
|
490
|
15
|
0,82
|
|
3.
|
500
|
10
|
1
|
|
4.
|
510
|
7
|
1,16
|
|
5.
|
520
|
5
|
1,30
|
|
6.
|
530
|
4
|
1,39
|
4.
Larutan NiSO4
|
No
|
Panjang gelombang
|
Transmitan (%)
|
Absorben
|
|
1.
|
620
|
49
|
0,31
|
|
2.
|
630
|
45
|
0,35
|
|
3.
|
640
|
42
|
0,38
|
|
4.
|
650
|
37
|
0,43
|
|
5.
|
660
|
38
|
0,42
|
|
6.
|
670
|
45
|
0,35
|
|
7.
|
680
|
47
|
0,33
|
|
8.
|
690
|
49
|
0,31
|
5.
Larutan CoCl2
|
No
|
Panjang gelombang
|
Transmitan (%)
|
Absorben
|
|
1.
|
490
|
23
|
0,64
|
|
2.
|
500
|
25
|
0,60
|
|
3.
|
510
|
25
|
0,60
|
|
4.
|
520
|
26
|
0,59
|
|
5.
|
530
|
30
|
0,52
|
|
6.
|
540
|
37
|
0,43
|
|
7.
|
550
|
45
|
0,35
|
VIII. PEMBAHASAN
Spektrofotometri adalah suatu metode analisis yang berdasarkan pada pengukuran
serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang
gelombang yang spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi
difraksi dan detector vacuum phototube atau tabung foton hampa. Alat yang
digunakan adalah spektrofotometer,
yaitu sutu alat yang digunakan untuk menentukan suatu senyawa baik secara
kuantitatif maupun kualitatif dengan mengukur transmitan ataupun absorban dari
suatu cuplikan sebagai fungsi dari konsentrasi
(Underwood, 1981).
Menurut hukum Bouguer-Beer, suatu alur
absorban dengan konsentrasi molar akan berupa garis lurus dengan arah lereng.
Tetapi sering kali pengukuran terhadap sistem kimia riil menghasilkan alur
Hukum Beer yang tidak linear sepanjang seluruh jangka konsentrasi untuk
system-sistem semacam itu, namun pemahaman yang lebih mendalam menimbulkan
suatu pandangan yang agak lebih canggih. Pengukuran spektrofotometri
menggunakan alat spektrofotometer yang melibatkan energi elektronik yang cukup
besar pada molekul yang dianalisis, sehingga spektrofotometer UV-Vis lebih
banyak dipakai untuk analisis kuantitatif dibandingkan kualitatif. Spektrum
UV-Vis sangat berguna untuk pengukuran secara kuantitatif. Konsentrasi dari
analit di dalam larutan bisa ditentukan dengan mengukur absorban pada panjang
gelombang tertentu dengan menggunakan hukum Lambert-Beer. Prinsip kerja dari spektrofotometri UV-Vis mengacu
pada hukum Lambert-Beer. Apabila cahaya monokromatik melalui suatu media
(larutan), maka sebagian cahaya tersebut akan diserap, sebagian dipantulkan dan
sebagian lagi akan dipancarkan (Underwood,
1996).
Cara kerja dari spektrofotometer UV-Vis
yaitu cahaya yang berasal dari lampu deuterium maupun
wolfram yang bersifat polikromatis di teruskan melalui lensa menuju ke
monokromator pada spektrofotometer dan filter cahaya pada fotometer.
Monokromator kemudian akan mengubah cahaya polikromatis menjadi cahaya
monokromatis (tunggal). Berkas-berkas cahaya dengan panjang tertentu kemudian
akan dilewatkan pada sampel yang mengandung suatu zat dalam konsentrasi
tertentu. Oleh karena itu, terdapat cahaya yang diserap (diabsorbsi) dan ada
pula yang dilewatkan. Cahaya yang dilewatkan ini kemudian di terima oleh
detektor. Detektor kemudian akan menghitung cahaya yang diterima dan mengetahui
cahaya yang diserap oleh sampel. Cahaya yang diserap sebanding dengan
konsentrasi zat yang terkandung dalam sampel sehingga akan diketahui
konsentrasi zat dalam sampel secara kuantitatif.
Atau dengan cara menempatkan larutan pembanding, misalnya blangko dalam sel
pertama sedangkan larutan yang akan dianalisis pada sel kedua. Kemudian pilih
foto sel yang cocok 200 nm-650 nm (650 nm-1100 nm) agar daerah λ yang
diperlukan dapat terliputi. Dengan ruang foto sel dalam keadaan tertutup “nol”
galvanometer didapat dengan menggunakan tombol dark-current. Pilih h yang diinginkan, buka fotosel dan lewatkan
berkas cahaya pada blangko dan “nol” galvanometer didapat dengan memutar tombol
sensitivitas. Dengan menggunakan tombol transmitansi, kemudian atur besarnya
pada 100%. Lewatkan berkas cahaya pada larutan sampel yang akan dianalisis.
Skala absorbansi menunjukkan absorbansi larutan sampel (Underwood, 1996).
Berdasarkan hukum
Lambert-Beer dinyatakan bahwa suatu alur absorbans dengan konsentrasi molar
akan berupa garis lurus dengan arah lereng. Tetapi sering kali pengukuran
terhadap sistem kimia riil menghasilkan alur Hukum Beer yang tidak linear sepanjang
seluruh jangka konsentrasi untuk system-sistem semacam itu, namun pemahaman
yang lebih mendalam menimbulkan suatu pandangan yang agak lebih canggih.
Senyawa-senyawa yang diukur dengan metoda spektrofotometri harus memenuhi hukum
Lambert-Beer, yaitu :
Ø Bila
suatu sinar monokromatis dilewatkan pada medium pengabsorbsi, maka berkurangnya
intensitas cahaya per unit tebal medium sebanding dengan intensitas cahaya
tersebut.
Ø Berkurangnya
intensitas cahaya per unit konsentrasi akan berbanding lurus dengan intensitas
cahaya.
(Rohman, 2007).
Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui
sifat ion logam melalui karakteristik spectrum UV-VIS, dimana pada percobaan
ini Pada percobaan ini digunakan 5 sampel berupa larutan, Cr(VI)
0,005 M, CuSO4 0,005 M, KMnO4 0,005 M, NiSO4 0,005
M, dan CoCl2 0,005 M Setiap
perlakuan dari kelima larutan tersebut yang pertama kali dilakukan yaitu
memasukkan sampel kedalam kuvet sampat batas yang ditentukan. Lalu seteiap kali
perlakuan, ketika kuvet yang berisi sampel dimasukkan kedalam spektronik
terlebih dahulu dilap dengan tisu. Adapun tujuan dari kuvet dilap terlebih
dahulu yaitu untuk membersihkan kotoran yang menempel pada didinding kuvet agar
tdak mempengaruhu pada panjang gelombang suatu sampel pada saat sinar yang
masuk atau sinar yang mengenai sel. Kemudian recorder yang merupakan sistem
baca terlebih dahulu dalam posisi nol.
Untuk perlakuan pertama
menggunakan larutan Cr(VI) 0,005 M dilakukan kalibrasi
dengan menggunakan larutan yang tidak berwarna seperti aquades. Dimana tujuan kalibrasi ini yaitu untuk
menstandarisasi alat agar hasil yang diperoleh lebih akurat dan tujuan
digunakan aquades karena aquades merupakan larutan yang netral sehingga
memberikan standarisasi yang baik dalam melakukan kalibrasi sampel, Setelah
proses kalibrasi dilakukan, maka langkah selanjutnya yang dilakukan yaitu
memasukkan larutan sampel yang sudah dimasukkan ke dalam kuvet tadi tempat
cuplikan, lalu absorbansi atau persen transmitansi dapat terbaca pada skala
pembacaan. Dimana absorbansi merupakan penyerapan energi cahaya sesuai
kebutuhan energi yang dibutuhkan untuk melakukan perubahan molekul dan
transmitan adalah bagian dari cahaya yang diteruskan oleh suatu larutan. Pada larutan Cr(VI)
0,005 M dapat diketahui nilai absorbansinya yaitu dari 440 nm-510 nm. Pada
pengukuran yang dilakukan untuk larutan Cr(VI) dari panjang 440 nm-510 nm
diperoleh nilai transmitan sebesar 21, 24, 25, 27, 29, 30,31, 31 dan nilai
absorbansinya sebesar 0,68, 0,62, 0,60, 0,57, 0,54, 0,53, 0,51, dan 0,51.
Selanjutnya dilakukan pengukuran nilai
transmitan dan absorbansi untuk larutan
CuSO4, KMnO4, NiSO4, dan CoCl2.
Prosesnya sama dengan yang dilakuan untuk larutan Cr(VI). Dari pengukuran yang
dilakukan untuk larutan CuSO4 dengan panjang gelombang dari 640-730
diperoleh nilai transmitan sebesar 18, 16, 15, 15, 14, 16, 20, 28, 38, 48 dan
nilai absorbansinya sebesar 0,74, 0,79, 0,82, 0,82, 0,85, 0,79, 0,69, 0,55,
0,42, dan 0,31. Pada larutan CuSO4 diperoleh nilai λ max pada
panjang gelombang 680 nm dengan nilai ε sebesar 170 cm-1M-1.
Untuk larutan KMnO4 dengan panjang gelombang dari 480-530 diperoleh
nilai transmitan sebesar 22, 15, 10, 7, 5, 4 dan nilai absorbansinya sebesar
0,65, 0,82, 1, 1,16, 1,30, dan 1,39. Untuk larutan NiSO4 dengan
panjang gelombang dari 620-690 diperoleh nilai transmitan sebesar 49, 45, 42,
37, 38, 45, 47, 49 dan nilai absorbansinya sebesar 0,31, 0,35, 0,38, 0,43,
0,42, 0,35, 0,33, 0,31. Pada larutan NiSO4 diperoleh nilai λ max
pada panjang gelombang 650 nm dengan nilai ε sebesar 86 cm-1M-1.
Dan untuk larutan CoCl2 dengan panjang gelombang dari absorbansinya
sebesar 23, 25, 25, 26, 30, 37, 45, 54 dan nilai absorbansinya sebesar 0,64,
0,60, 0,60, 0,59, 0,52, 0,43, 0,35, dan 0,27.
Suatu grafik
yang menghubungkan antara banyaknya sinar yang diserap dengan frekuensi
(panjang gelombang) sinar merupakan spektrum absorpsi. Transisi yang dibolehkan
untuk suatu molekul dengan struktur kimia yang berbeda adalah tidak sama
sehingga spektra absorpsinya juga berbeda. Dengan demikian, spektra dapat digunakan
sebagai bahan informasi yang bermanfaat untuk analisis kualitatif. Banyaknya
sinar yang diabsorpsi pada panjang gelombang tertentu sebanding dengan
banyaknya molekul yang menyerap radiasi, sehingga spektra absorpsi juga dapat
digunakan untuk analisis kuantitatif (Khopkar, 1990).
Adapun bagian-bagian spektofotometri
yaitu :
a. Sumber
cahaya
Sumber sinar
polikromatis berfungsi sebagai sumber sinar polikromatis dengan berbagai macam
rentang panjang gelombang. Untuk sepktrofotometer.
b. Monokromator
Monokromator
berfungsi sebagai penyeleksi panjang gelombang yaitu mengubah cahaya yang
berasal dari sumber sinar polikromatis menjadi cahaya monaokromatis.
c. Sel
sampel
Sel sampel
berfungsi sebagai tempat meletakan sampel. UV, VIS dan UV-VIS menggunakan kuvet
sebagai tempat sampel.
d. Detektor
Detektor berfungsi menangkap cahaya
yang diteruskan dari sampel dan mengubahnya menjadi arus listrik.
e.
Read out (Pembaca)
Read out
merupakan suatu sistem baca yang menangkap besarnya isyarat listrik yang
berasal dari detektor.
Jika
zat menyerap cahaya tampak dan UV maka akan terjadi perpindahan elektron dari
keadaan dasar menuju ke keadaan tereksitasi. Perpindahan elektron ini disebut transisi elektronik. Apabila cahaya yang diserap adalah cahaya inframerah
maka elektron yang ada dalam atom atau elektron ikatan pada suatu molekul dapat
hanya akan bergetar (vibrasi). Sedangkan gerakan berputar elektron terjadi pada
energi yang lebih rendah lagi misalnya pada gelombang radio. Namun pada percobaan kali ini, alat yang digunakan
adalah spektronik 20 yang termasuk alat spektrometer visibel. Spektronik 20 adalah suatu alat yang
mempunyai rentang panjang gelombang dari 340nm sampai 600nm. Alat ini hanya
dapat mengukur absorbansi dengan sampel larutan yang berwarna. Sehingga apabila
didapatkan sampel yang tidak berwarna maka sampel itu harus dikomplekkan
sehingga sampel itu dapat berwarna. Larutan yang berwarna dalam tabung reaksi
khusus dimasukan ke tempat cuplikan dan absorbansi atau persen transmitansi
dapat dibaca pada sekala pembacaan. Sistem optik dari alat ini dapat
dikembangkan sebagai berikut: sumber cahaya berupa lampu tungsten akan
memancarkan sinar polikromatik. Setelah melewati pengatur panjang gelombang,
hanya sinar yang mono kromatik dilewatkan ke larutan dan sinar yang melewati
larutan dideteksi oleh foto detektor. Suatu sumber cahaya yaitu lampu wolfram
yang berkesinambungan yang meliputi daerah 380 – 750 nm (daerah sinar tampak).
Suatu monokromator, yakni suatu komponen untuk menyeleksi pita sempit panjang
gelombang dari spektrum lebar yang dipancarkan oleh sumber cahaya. Suatu wadah
sampel atau cuvet dari gelas/kaca. Suatu detektor, yang berupa tranduser yang
mengubah energi cahaya menjadi suatu isyarat listrik (detektor fotolistrik,
tabung foton). Suatu pengganda (amplifier) dan rangkaian yang berkaitan dalam
membuat isyarat listrik itu dapat terbaca. Suatu sistem baca (skala absorbansi
atau % T dengan jarum penunjuk) yang menyatakan besarnya isyarat listrik.
Dari percobaan ini, juga dapat diketahui sifat-sifat yang dimiliki oleh logam transisi
yaitu antara lain :menghasilkan warna, memiliki bilangan oksidasi yang tinggi,
dan dapat
membentuk ion/senyawa kompleks.
IX.
KESIMPULAN
Berdasarkan tujuan dan hasil
pengamatan maka dapat diperoleh kesimpulan pada
percobaan ini yaitu sebagai berikut :
1.
Spektrofotometer UV-VIS
merupakan alat dengan teknik spektrofotometer pada daerah ultra-violet dan
sinar tampak. Spektronik 20 merupakan
suatu alat yang digunakan untuk menganalisis suatu sampel dimana alat ini
dilengkapi dengan sumber sinar,detektor, monokromator, sel sampel dan red out.
2. Spektrofotometri
visible disebut juga sebagai spektrofotometri sinar tampak yang merupakan sinar
yang dapat dilihat oleh mata manusia. Cahaya yang dapat dilihat oleh mata
manusia adalah cahaya dengan panjang gelombang 400-800 nm dan memiliki energy
sebesar 299-149 kJ/mol.
3. Intensitas
warna larutan yang digunakan terkadang bersifat lemah. Oleh karena itu, untuk
membuat larutan tersebut dapat dilihat dengan jelas, maka larutan tersebut
dikomplekskan dengan member reagent tertentu yang spesifik. Dikatakan spesifik
karena hanya bereaksi dengan spesi yang akan dianalisis sehingga reagent ini
disebut dengan reagent pembentuk warna (Chromagenik Reagen).
DAFATAR PUSTAKA
Anonim. 2011. Chemistry Science
Spektrofotometer UV-VIS. http: // chemistry htm.co.id/ Diunduh
tanggal 01 November 2013.
Dosen Penanggung Mata Kuliah. 2013. Kimia Anorganik Fisik. Palu : Pend.
Kimia FKIP UNTAD
Khopkar,
S.M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta. UI-Press.
Tim
Dosen. 2011. Penuntun Praktikum Kimia
Anorganik Fisik. Palu : Untad.
Underwood. 1986. Analisis
Kimia Kuantitatif Edisi Keempat. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar