PERCOBAAN III
PEMBUATAN NATRIUM
TIOSULFAT
I.
Tujuan
Adapun tujuan dari percobaan ini
adalah untuk mempelajari cara pembuatan garam natrium tiosulfat dan sifat-sifat
kimianya.
II.
Waktu
dan Tempat Pelaksanaan
Hari/Tanggal :
Selasa, 11 Desember 2012
Waktu :
13.00 – Selesai
Tempat : Laboratorium pendidikan
kimia Lanjut FKIP UNTAD
III.
Hasil
Pengamatan
Adapun hasil pengamatan yang diperoleh pada percobaan ini adalah sebagai
berikut :
|
NO
|
NAMA
|
PERLAKUAN
|
HASIL
|
|
1.
2.
|
Pembuatan Natrium Tiosulfat Pentahidrat
Sifat-sifat
kimia
Na2S2O3
|
Ø Sebelum direfluks
Na2SO3
+ S + H2O
Ø Setelah
direfluks
Na2S2O3
.5H2O
Ø Massa
Kristal
1. Pengaruh
pemanasan
a. Na2S2O3
.5H2O
(hasil
percobaan)
b. Na2S2O3
.5H2O
(Murni)
2. Reaksi
dengan klor
a.
Na2S2O3
+ HCl
b.
Na2S2O3
+ HCl + BaCl2
3. Reaksi
dengan asam encer
a.
Na2S2O3
+ HCl
4. Reaksi
dengan iodine
a.
Na2S2O3
+ I2
|
Campuran tidak menyatu,(heterogen) masih terdapat endapan sulfur
berwarna kuning.
Campuran tidak menyatu, masih terdapat endapan
sulfur berwarna kuning
19,94 gram.
Sebelum dan sesudah pemanasan tetap berbentuk larutan.
Sebelum dipanaskan berbentuk padatan dan setelah
dipanaskan mencair dan setelah didinginkan menjadi padat.
Larut dan bening
Terbentuk endapan putih, larutan keruh
Larutan bening.
Warna merah kecoklatan dari iodine berubah menjadi
bening.
|
IV.
Persamaan
Reaksi
1.
a. Reaksi
pembuatan tiosulfat
8NaSO3(s) + S8(s) + 5H2O(l)
→ 8Na2S2O3.5H2O(aq)
2.
Sifat-sifat natrium tiosulfat
a.
Reaksi pemanasan
tiosulfat
Na2S2O3.5H2O(s)
→ Na2S2O3(s)
+ 5H2O(l)
b.
Reaksi
natrium dengan Iodium
Redoks : I2(aq) + 2S2O32-(aq) → 2I- + S4O62-(aq)
Jadi,
I2(aq) + 2N2S2O3(aq) →
2NaI(aq) + Na2S4O6(aq)
c.
Reaksi dengan ion klor
Na2S2O3(aq)
+ 2HCl(aq) → H2S2O3(aq) +
2NaCl(aq)
d.
Reaksi dengan asam encer
V.
Perhitungan
Diketahui ;
Massa Na2S2O3 = 25 gram
Mr Na2SO3 = 126 gram/mol
Massa belerang (S8) = 3 gram
Volume H2O = 50 ml
Mr S8 = 256 gram/mol
pH2O = 1 gr/ml
Mr H2O = 18 gr/ml
Ditanyakan
:
a. Mol Na2S2O3 = .........?
b. Mol belerang = .........?
c. Mol air =..................?
d. Mol (teoritis) = .........?
e. Mol (praktikum) = ....?
f. Rendamen = .............?
Penyelesaian
:
a.
=
= 0,198 mol
b.
=
= 0,012 mol
c.
d. Mol teoritis hasil reaksi Na2SO3.5H2O
M : 0,198 mol 0,012mol
2,778 mol
-
R
: 0,096
mol 0,12 mol -0,06 mol
+0,096 mol + 0,06 mol
S
: 0,102 mol −
2,718 mol 0,096 mol 0,06 mol
e. Massa teoritis hasil reaksi
Mr Na2S2O3.5H2O
= 248 g/mol
Massa = n x Mr
= 0,096mol x 248
g/mol
= 23,808 gram
f.
=
= 83,75
%
VI.
Pembahasan
Natrium Tiosulfat (Na2S2O3) adalah salah
satu jenis dari garam terhidrat. Garam terhidrat adalah garam yang terbentuk
dari senyawa-senyawa kimia yang dapat mengikat molekul-molekul air pada suhu
kamar. Garam ini
memiliki sifat hidroskopis (mudah menyerap air di udara) sehingga seringkali
dijumpai dalam bentuk hidratnya dibandingkan bentuk murninya. Bentuk hidrat
dari garam natrium tiosulfat paling banyak dalam bentuk 5-hidrat dan
10-hidratnya, karena garam natrium tiosulfat berbentuk serbuk putih, tetapi
untuk mereaksikannya tetap dalam bentuk padat karena tingkat kelarutannya yang
cukup tinggi dan dapat pula dijadikan dalam bentuk larutan. Natrium
Tiosulfat berupa hablur besar, tidak berwarna, atau serbuk hablur kasar.
Mengkilap dalam udara lembab dan mekar dalam udara kering pada suhu lebih dari
33°C. Larutannya netral atau basa lemah terhadap lakmus. Sangat mudah larut
dalam air dan tidak larut dalam etanol. Natrium tiosulfat juga berperan sebagai
antidot untuk keracunan sianida (Puput, 2010).
Pada percobaan ini yakni
pembuatan natrium tiosulfat, dimana natrium tiosulfat ini dihasilkan dengan
mereaksikan Natrium sulfit dengan belerang melalui beberapa tahapan reaksi
sampai akhirnya menghasilkan endapan (Raharjo,
2010).
Percobaan ini dilakukan
bertujuan untuk mempelajari cara pembuatan garam natrium tiosulfat dan
sifat-sifat kimianya. Dalam percobaan ini terbagi atas dua prosedur,
yaitu cara pembuatan garam natrium tiosulfat dan mempelajari sifat-sifat
kimianya. Secara ringkas, pembahasan pada percobaan ini dapat diuraikan sebagai
berikut:
1.
Pembuatan Natrium Tiosulfat-Hidrat
Pada perlakuan ini, yang pertama
dilakukan yaitu menimbang padatan natrium sulfit dan serbuk belerang, kemudian
mencampurkannya dengan aquades kedua senyawa dicampur dan diaduk terlebih dahulu ke dalam gelas kimia sampai terbentuk suspensi hal ini agar serbuk sulfur tidak mengapung jika
dimasukkan ke dalam labu refluks atau campuran dapat
larut terlebih dahulu. Setelah itu, campuran tersebut direfluks diatas penangas
listrik proses refluks akan dihentikan ketika larutan yang semula berwarna
kuning telah berubah membentuk 2 lapisan
yang di bawahnya ada endapan kuning, dimana endapan kuning yang terbentuk
tersebut berasal dari natrium sulfit dan serbuk belerang ,sedangkan warna
kuning yang ada pada larutan tersebut berasal dari warna sulfur sambil
digoyangkan terus menerus sembari menunggu selama 60 menit. Proses refluks ini
dilakukan untuk memecah struktur dari cincin S8. Adapun fungsi
pemanasan yaitu sebagai katalis untuk mempercepat berlangsungnya proses
perefluksan tersebut dimana pada suhu yang tinggi energi kinetik dari
molekul-molekul zat terlarut akan meningkat sehingga tumbukan antar partikel
juga meningkat (Puput, 2008).
Setelah 60 menit pada
larutan tersebut terbentuk endapan dimana berdasarkan persamaan reaksi endapan
ini merupakan natrium tiosulfat. proses refluks kemudian dihentikan
kemudian dengan cepat menyaringnya dengan menggunakan kertas saring. Adapun
fungsi penyaringan dalam keadaan panas yaitu untuk mencegah terbentuknya kristal
pada kertas saring, jika terbentuknya kristal tersebut dapat mempengaruhi berat
kristal yang terbentuk nantinya. Filtrat hasil penyaringan kemudian diuapkan
sampai volume larutan tersisa ialah setengah dari volume awal yang digunakan,
tujuannya yaitu untuk menguapkan air bukan pentahidrat yang masih ada dalam
filtrat tersebut serta untuk menghilangkan molekul air yang masih terdapat pada
larutan yang bukan pentahidrat,.kemudian filtrat
didinginkan dalam lemari es sampai terbentuk kristal putih. Fungsi dari
pendinginan ini yaitu agar kristal dapat terbentuk lebih cepat.
Berdasarkan
perhitungan, diperoleh massa natrium tiosulfat pentahidrat yang digunakan yaitu
25 gram sedangkan massa
natrium tiosulfat hidrat yang diperoleh dari percobaan yaitu 23,808 gram. Berdasarkan data
tersebut, dapat ditentukan persen rendemen dari natrium tiosulfat hidrat.
Dimana persen rendemen adalah perbandingan massa yang diperoleh dengan massa
sampel dikali 100%. Dan diperoleh persen rendeman yaitu 83,75% artinya terbentuk 83,75% kristal dan sisanya 16,25 yaitu molekul air yang
bukan pentahidrat. Persen rendemen yang harusnya dicapai yaitu antara 90-99%.
Hasil yang diperoleh tersebut masih berbeda sedikit dengan nilai literatur,
dimana sehurusnya diperoleh persen rendemen lebih kecil atau sama dengan 100%.
Kesalahan terjadi kemungkinan diakibatkan penyimpulan endapan yang telah
terbentuk, dimana endapan masih harus direfluks, karena saat campuran belum
begitu homogen dan juga kesalahan dalam, memanaskan, menimbang, merefluks
ataupun menyaring (Anonim, 2009)
2. Sifat-Sifat Kimia
Natrium Tiosulfat
Pada perlakuan pertama
yaitu melakukan pemanasan terhadap natrium tiosulfat-hidrat pada prosedur awal,
dengan natrium tiosulfat-hidrat yang tersedia. Pemanasan ini dilakukan untuk membandingkan
tingkat kestabilan dari kedua senyawa tersebut. Dari hasil yang diperoleh,
terlihat bahwa natrium tiosulfat-hidrat yang dibuat sebelumnya, sebelum
dipanaskan masih terdapat kristal dan setelah dipanaskan, mencair seluruhnya.
Sedangkan natrium tiosulfat-hidrat murni sebelum dipanaskan berbentuk padatan
dan setelah dipanaskan masih berbentuk padatan. Hal ini disebabkan karena pada
kristal natrium tiosulfat-hidrat yang dibuat lebih banyak mengandung uap air
sehingga pada saat pemanasan kristal tersebut mulannya akan mengering terlebih
dahulu dengan melepaskan uap air baru kemudian akan mencair kembali setelah
mencapai titik lelehnya. Sehingga lebih lambat mencair dari pada kristal
natrium tiosulfat-hidrat murni karena kristal ini sudah dalam bentuk kristal
yang kering sehingga pada saat dipanaskan tidak mencair. Dari hasil tersebut
natrium tiosulfat-hidrat yang murni lebih stabil dibandingkan yang telah dibuat
pada saat percobaan. Dikarenakan natrium tiosulfat-hidrat yang dibuat telah
mencair sebagian pada suhu kamar, dan mencair seluruhnya pada saat dipanaskan,
sedangkan natrium tisulfat-hidrat yang murni pada suhu kamar masih berbentuk
padatan dan setelah dipanaskan mencair dan setelah itu terbentuk kristal
pentahidrat (Anonim, 2009).
Adapun kestabilan termal antara Na2S2O3.5H2O
dengan Na2S2O3.H2O yaitu natrium
tiosulfat pentahidrat lebih stabil dibandingkan natrium tiosulfat dikarenakan polarisasi ion-ion pada natrium tiosulfat
pentahidrat lebih besar. Hal ini dapat terlihat pada saat natrium
tiosulfat pentahidrat berada pada suhu kamar tidak mencair sedangkan natrium tiosulfat hidrat mencair
sebagian. Adapun pada saat dipanaskan natrium tiosulfat pentahidrat akan
mencair namun membentuk padatan kembali, sedangkan natrium tiosulfat hidrat
mencair semuanya
Pada perlakuan kedua,
yaitu mereaksikannya dengan larutan iodin. Pada saat larutan iodin dicampurkan
dengan natrium tiosulfat-hidrat, dimana larutan iodin yang sebelumnya berwarna
merah kecoklatan larut. dan berubah menjadi bening. Hal ini disebabkan pada
saat pencampuran, terjadi reaksi redoks. Reaksi redoks adalah suatu reaksi
dimana keadaan oksidasi berubah, dan disertai pertukaran elektron antara
pereaksi. Dalam hal ini I2 mengalami reduksi menjadi I-,
dan biloksnya mengalami penurunan dari 0 menjadi -1. Sedangkan 2S2O32-
mengalami oksidasi menjadi S4O62-, dan
biloksnya meningkat dari -4 menjadi -2. Dalam hal ini I2 sebagai
oksidator yang mengoksidasi ion tiosulfit menjadi ion sulfat, dan iod sendiri
mengalami reduksi dari I2 menjadi I-. Sedangkan S2O32-
bertindak sebagai reduktor. Adapun penyebab larutan menjadi bening karena ion
tiosulfat merupakan pengoksidator yang kuat sehingga dapat mereduksi I2
menjadi I- yang meyebabkan larutan tersebut menjadi bening (Anonim,
2010).
Pada perlakuan ketiga,
yaitu mereaksikan natrium tiosulfat-hidrat dengan larutan klor. Dimana pada
saat ditambahkan HCl, warna larutan tetap bening, fungsi HCl yaitu sebagai
pelarut. Dan ketika ditambahkan lagi dengan larutan BaCl2 terbentuk
endapan putih yang berdasarkan persamaan reaksi merupakan endapan BaS2O3.
Endapan ini terbentuk disebabkan barium merupakan unsur golongan IIA dan
oksidanya bersifat basa serta mempunyai kelarutan yang rendah dalam air dan
asam encer. Selain itu, logam golongan IIA seperti Barium merupakan logam yang
lebih keras, lebih rapat dan melebur pada temperatur yang lebih tinggi. Maka
dari itu pada saat dicampurkan dengan BaCl2 larutan yang terbentuk
sangat keruh, berwarna putih dan terbentuk endapan (Svehla, 1985).
Pada perlakuan terakhir, yaitu mereaksikan natrium
tiosulfat-hidrat dengan asam encer yaitu HCl. Pada saat penambahan, terbentuk
larutan berwarna bening dan berbau seperti sulfur. Berdasarkan persamaan
reaksi, bau sulfur yang timbul yaitu berasal dari gas SO2 yang
terbentuk pada saat pencampuran dimana asam klorida encer disini berfungsi
untuk menguapkan sulfur dioksida dan mengendapkan sulfur(Anonim, 2009).
VII.
Kesimpulan
Berdasarkan tujuan
dan hasil pengamatan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Kristal natrium
tiosulfat pentahidrat dapat dibuat dengan cara merefluks natrium sulfit yang ditambahkan dengan serbuk
belerang dan aquades, kemudian menyaringnya, menguapkan dan mendingikan hingga
berbentuk kristal natrium tiosulfat pentahidrat.
2. Natrium tiosulfat
pentahidrat lebih stabil dibandingkan natrium riosulfat hidrat yang disebabkan
polarisasi ion natrium tiosulfat pentahidrat lebih besar dari pada polarisasi
ion natrium tiosulfat hidrat.
3. Natrium tiosulfat
pentahidrat mempunyai sifat yaitu :
a. Pada saat dipanaskan
natruim tiosulfat hidrat mencair, sedangkan natrium tiosulfat pentahidrat ketika dipanaskan akan
mencair namun akan membentuk kristal kembali
b. Reaksi iodine dengan
natrium tiosulfat terjadi reaksi redoks, dimana yang berperan sebagai pereduksi
yaitu I2. Sedangkan yang berperan sebagai pengoksidasi yaitu S2O32-.
c. Natrium tiosulfat
dicampur dengan HCl larutan menyatu. Setelah dicampur dengan larutan BaCl2 larutan
membentuk endapan BaS2O3.
d. Natrium tiosulfat
dicampurkan dengan larutan asam encer menghasilkan larutan yang menyatu dan berbau sulfur.
(http://putrikeongdanpangerankudaputih.blogspot.com/2010/10/pembuatan-natrium-tiosulfat.html). Diakses pada
tanggal 8 November 20l2.
Penanggung Jawab Mata Kuliah, 2012. Penuntun Praktikum Kimia Anorganik I. Untad Press Palu.
Puput. 2010. Pembuatan
Natrium Tiosulfat.(http://aboutchemistry21.blogspot.com.).diakses pada tanggal 12
November 2012.
Raharjo, Alip. 2010. Pembuatan Natrium Tiosulfat.
http://alipart.blogspot.com/2011/02/pembuatan-natrium-tiosulfat.html). Diakses pada tanggal 8 November 20l2.
Svehla, G. Vogel. 1985. Analisis Anorganik Kualtatif Makro
Dan Semimikro. PT.Kalman Media Pustaka. Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar