PERCOBAAN II
“ISOLASI DNA”
I.
Tujuan
Adapun tujuan percobaan ini adalah untuk mengisolasi DNA
dari berbagai jenis buah-buahan
II.
Dasar
Teori
DNA adalah asam nukleat yang mengandung materi genetik
dan berfungsi untuk mengatur perkembangan biologis seluruh bentuk kehidupan
secara seluler. DNA terdapat pada nukleus, mitikondria, dan kloroplas.
Perbedaan ketiganya adalah DNA nukleus berbentuk linier dan berasosiasi sangat
erat dengan protein histon, sedangkan DNA mitokondria dan kloroplas berbentuk
sirkular dan tidak berasosiasi dengan protein histon. Selain itu DNA
mitokondria dan kloroplas memiliki ciri khas, yaitu hanya mewariskan
sifat-sifat yang berasal dari garis ibu. Sedangkan DNA nukleus memiliki pola
pewarisan sifat dari kedua orangtua. Dilihat dari organismenya, struktur DNA
prokariot tidak memiliki protein histon dan berbentuk sirkular, sedangkan DNA
eukariot berbentuk linier dan memiliki protein histon
(Ridwan, 2010).
DNA memiliki
struktur pilinan utas ganda yang anti pararel dengan komponen-komponennya,
yaitu gula pentosa (deoksiribosa), gugus fosfat dan pasangan basa. Sebuah sel
memiliki DNA yang merupakan materi genetik dan bersifat herediter pada seluruh
sistem kehidupan. Genom adalah set lengkap dari materi genetik (DNA) yang
dimiliki suatu organisme dan terorganisasi menjadi kromosom.
DNA juga dapat diisolasi, baik pada manusia maupun
tumbuhan. DNA manusia dapat diisolasi melalui darah. Komponen darah yang
diisolasi yaitu sel darah putih, karena memiliki nukleus dimana terdapat DNA
didalamnya. Asam ribonukleat terdiri benang panjang
ribonukleotida. Walaupun molekul ini jauh lebih pendek dari DNA, RNA ditemukan
dalam jumlah yangt jauh lebih banyak di dalam kebanyakan sel. Pada sel
prokariotik dan eukariotik, ketiga golongan utama RNA adalah RAN data (mRNA =
messenger RNA), RNA Ribosom (rRNA), dan RNA pemindah (tRNA = transfer RNA).
Masing-masing terdiri dari satu rantai ribonukleotida, dan masing-masing
mempunyai molekul urutan nukleotida, dan fungsi biologis yang khas. DNA mengandung 2 basa pirimidin utama,
sitosin (C) dan timin (T), dan dua basa urin utama adenine (A) dan guanin (G).
RNA juga mengandung dua pirimidin utama sitosin (C) dan urasil (U), dan dua
basa purin, adenine (A) dan guanine (G). Seperti pada gamber
berikut :
Adapula
perbedaan antara DNA dan RNA yaitu :
|
Pembanding
|
RNA
|
DNA
|
|
Letak
|
Nukleus
mitokondria, kloroplas, sitoplasma dan ribosom
|
Nukles,
kloroplas dan mitokondria
|
|
Fungsi
|
Umumnya
sintesis protein
|
Pembawa
informasi genetic dan sintesis protein
|
|
Rantai
|
Tunggal
dan tidak terpilin
|
Tangga
tali terpilin (double helix)
|
|
Kadar
|
Berubah-ubah
tergantung aktivitas sintesis protein
|
Tetap
|
|
Gula
pentosa
|
Ribose
|
Deoxiribosa
|
|
Basa
Nitrogen
|
Pirimidin:
Urasil dan Citosin/ Sitosin
|
Pirimidin:
Timin dan Sitosin/ Citosin
|
(Muslimah, 2011).
Pada dasarnya Isolasi DNA merupakan
langkah mempelajari DNA. Salah satu prinsisp isolais DNA yaitu dengan
sentrifugasi. Sentrifugasi merupakan teknik untuk memisahkan campuran
berdasarkan berat molekul komponennya. Molekul yang mempunyai berat molekul
besar akan berada di bagian bawah tabung dan molekul ringan akan berada pada
bagian atas tabung. DNA ini tersusun atas 3 komponen utama yaitu gula
deoksiribosa, basa nitrogen, dan fosfat yang tergabung membentuk nukleotida. DNA
terdapat di dalam setiap sel makhluk hidup yang sangat berperan penting sebagai
pembawa informasi hereditas yang menentukan stuktur protein dan proses
metabolisme lain. Isolasi DNA
dapat dilakukan melalui tahapan-tahapan antara lain: preparasi ekstrak sel,
pemurnian DNA dari ekstrsk sel dan presipitasi DNA. Meskipun isolasi DNA dapat
dilakukan dengan berbagai cara, akan tetapi pada setiap jenis atau bagian
tanaman dapat memberikan hasil yang berbeda, hal ini dikarenakan adanya senyawa
polifenol dan polisakarida dalam konsentrasi tinggi yang dapat menghambat
pemurnian DNA. Jika isolasi DNA dilakukan dengan sample buah, maka kadar air
pada masing-masing buah berbeda, dapat memberi hasil yang berbeda-beda pula.
Semakin tinggi kadar air, maka sel yang terlarut di dalam ekstrak akan semakin
sedikit, sehingga DNA yang terpretisipasi juga akan sedikit. Penambahan
deterjen dalam isolasi DNA dapat menyebabkan rusaknya membrane sel, melalui
ikatan yang dibentuk melalui sisi hidrofobik deterjen dengan protein dan lemak
pada membrane membentuk senyawa “lipid protein-deterjen kompleks”. Senyawa
tersebut dapat terbentuk karena protein dan lipid memiliki ujung hidrofilik dan
hidrofobik, demikian juga dengan deterjen, sehingga dapat membentuk suatu
ikatan kimia (Krisman,
2011).
Tahap
Isolasi DNA
1. Isolasi jaringan
Tahap
pertama yang dilakukan yaitu mengisolasi jaringan yang ingin digunakan.
2. Pelisisan dinding dan membran sel
Tahap
selanjutnya yaitu melisiskan dinding dan membran sel dengan cara penggerusan
(homogenasi), sentrifugasi dengan kecepatan lebih dari 10.000 rpm atau dengan
menggunakan larutan pelisis sel atau buffer ekstraksi. Inti sel harus
dilisiskan, karena substansi gen yang diinginkan ada didalamnya. Penambahan
larutan pelisis sel ini bertujuan untuk melisiskan sel yang tidak mengandung
DNA agar sel yang mengandung inti sel dapat diisolasi atau dipisahkan dari
komponen-komponen sel lainnya yang tidak berfungsi.
3. Pengekstraksian dalam larutan
Selanjutnya
supernatan yang terbentuk dibuang dan kemudian dilakukan ekstraksi di dalam
larutan. Hal tersebut bertujuan agar didapat ekstrak.
4. Purifikasi
Tahap
ini bertujuan untuk membersihkan hasil ekstrak dari zat-zat lainnya. Pada
larutan tersebut kemudian diberikan RNAse dan diinkubasi selama 10 menit pada
suhu 65°C. Hal tersebut bertujuan untuk mengoptimalkan kerja enzim yang sangat
dipengaruhi oleh temperatur. Penambahan RNAse berguna untuk menyingkirkan
kontaminasi RNA sehingga DNA dapat diisolasi secara utuh.
5. Presipitasi
Tahap
terakhir, yaitu presipitasi bertujuan untuk mengendapkan protein histon,
sehingga untai-untai DNA tidak lagi menggulung (coiling) dan berikatan dengan
protein histon, yang menyebabkan DNA menjadi terlihat. Tahap presipitasi
dilakukan dengan cara meneteskan larutan presipitasi protein dan kemudian
divortex yang bertujuan untuk menghomogenkan larutan. Larutan presipitasi
protein terdiri atas amonium asetat yang jika berikatan dengan protein
mengakibatkan terbentuknya senyawa baru dengan kelarutan lebih rendah, sehingga
menyebabkan protein mengendap. Larutan tersebut kemudian disentrifugasi kembali
selama 5 menit dengan kecepatan 13.000 rpm. Prinsip utama sentrifugasi adalah
memisahkan substansi berdasarkan berat jenis molekul dengan cara memberikan
gaya sentrifugal sehingga substansi yang lebih berat akan berada di dasar,
sedangkan substansi yang lebih ringan akan terletak di atas ( Anonim, 2010).
Manfaat isolasi DNA
Isolasi DNA
diperlukan untuk analisis genetik, yang digunakan untuk tujuan ilmiah, medis,
atau forensik. Para ilmuwan menggunakan DNA di sejumlah aplikasi, seperti
pengenalan DNA ke dalam sel dan binatang atau tanaman, atau untuk tujuan
diagnostik. Dalam obat aplikasi yang terakhir adalah yang paling umum. Di sisi
lain, ilmu forensic perlu memulihkan DNA untuk identifikasi individu (bagi
pemerkosa misalnya, pencuri kecil, kecelakaan, atau korban perang), penentuan
ayah, dan pabrik atau identifikasi hewan (Aisyatun, 2013).
III.
Alat dan Bahan
Adapun
alat dan bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah sebagai berikut :
A. Alat
1. Sendok
dan garpu
2. Corong
3. Tabung
reaksi
4. Rak
tabung reaksi
5. Pisau
6. Batang pengaduk
7. Spatula
8. Loyang
9. Erlenmeyer
10. Kertas label
11. Kertas
saring
12. Aqua
plastik
13. Kaca arloji
14. Talenan
15. Neraca
digital
B. Bahan
1.
Buah Sirsak
2.
Buah Pepaya
3.
Buah Pisang
4.
Buah Mangga
5.
Buah Semangka
6.
Buah Alpukat
7.
Buah Nanas
8.
Buah Nangka
9.
Sabun sunlight
10. Aquades
11. Etanol
absolut dingin
12. Garam dapur (NaCl)
13. Es
batu
IV.
Prosedur
Kerja
Adapun prosedur kerja yang dilakukan pada percobaan ini adalah sebagai berikut :
1. Mengupas dan memotong-motong kecil buah pisang, kemudian melumatkan
buah tersebut hingga halus.
2. Menambah
8
gram garam dapur lalu melumatkannya kembali secara berlahan-lahan.
3. Menambahkan
campuran sunlight dan
aquades dengan perbandingan 1 : 1, kemudian menambahkan lagi dengan 20 mL aquades.
4. Mengaduknya secara perlahan hingga homogen kemudian
mendiamkannya selama + 15 menit.
5. Menyaring
ekstrak dan memasukkan filtratnya ke dalam tabung reaksi sekitar
volume tabung reaksi.
6. Menambahkan
etanol absolut dingin dengan cara mengalirkannya melalui dinding tabung reaksi
secara perlahan.
7. Mengamati
pemisahan massa bening (DNA) dari ekstrak buah.
8. Mengambil
gambar hasil yang diperoleh.
9. Hasil
positif terlihat adanya 3 lapisan yaitu lapisan di dasar tabung adalah ekstrak
buah, lapisan tengah berisi etanol dan lapisan ketiga massa putih (DNA).
10. Mengulangi langkah 1 – 7 dengan menggunakan buah sirsak, pepaya, mangga, semangka, alpukat, nenas, dan nangka.
V.
Hasil
Pengamatan
Adapun hasil
pengamatan yang diperoleh dari percobaan ini yaitu sebagai berikut :
Adapun hasil pengamatan
yang diperoleh pada percobaan ini yaitu sebagai berikut :
|
No
|
Perlakuan
|
Hasil Pengamatan
|
|
1.
|
Ø
Buah Pisang
a.
Buah pisang dipotong-potong
kemudian dilumatkan
b.
Perlakuan a + NaCl
c.
Perlakuan b + Sabun
d.
Menyaring
e.
Perlakuan d + Etanol absolut
dingin
|
Berwarna
putih kekuningan
Berwarna
putih
Berwarna
hijau kebiruan
- Filtrat : Bening keputihan
- Residu : Hijau
kebiruan
Tidak
terbentuk untaian DNA
|
|
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
|
Ø Buah
Sirsak
a.
Buah sirsak dipotong-potong
kemudian dilumatkan
b.
Perlakuan a + NaCl
c.
Perlakuan b + Sabun
d.
Menyaring
e.
Perlakuan d + Etanol absolut
dingin
Ø
Buah Pepaya
a.
Buah pepaya dipotong-potong
kemudian dilumatkan
b.
Perlakuan a + NaCl
c.
Perlakuan b + Sabun
d.
Menyaring
e.
Perlakuan d + Etanol absolut
dingin
Ø
Buah Mangga
a.
Buah mangga dipotong-potong
kemudian dilumatkan
b.
Perlakuan a + NaCl
c.
Perlakuan b + Sabun
d.
Menyaring
e.
Perlakuan d + Etanol absolut
dingin
Ø
Buah Semangka
a.
Buah semangka dipotong-potong
kemudian dilumatkan
b.
Perlakuan a + NaCl
c.
Perlakuan b + Sabun
d.
Menyaring
e.
Perlakuan d + Etanol absolut
dingin
Ø
Buah Alpukat
a.
Buah alpukat dipotong-potong
kemudian dilumatkan
b.
Perlakuan a + NaCl
c.
Perlakuan b + Sabun
d.
Menyaring
e.
Perlakuan d + Etanol absolut
dingin
Ø
Buah Nenas
a.
Buah nenas dipotong-potong
kemudian dilumatkan
b.
Perlakuan a + NaCl
c.
Perlakuan b + Sabun
d.
Menyaring
e.
Perlakuan d + Etanol absolut
dingin
Ø
Buah Nenas
a.
Buah nenas dipotong-potong
kemudian dilumatkan
b.
Perlakuan a + NaCl
c.
Perlakuan b + Sabun
d.
Menyaring
e.
Perlakuan d + Etanol absolut
dingin
|
Berwarna
putih
Berwarna
putih
Berwarna
hijau kebiruan
- Filtrat : Bening kekuningan
- Residu : Hijau
kebiruan
Terbentuk
untaian DNA
Berwarna
orange
Berwarna
orange
Berwarna
hijau tua
- Filtrat : Bening kehijauan
- Residu : Hijau tua
Tidak
terbentuk untaian DNA
Berwarna
kuning
Berwarna
kuning
Berwarna
hijau
- Filtrat : Bening kekuningan
- Residu : Hijau
Terbemtuk
untaian DNA
Berwarna
merah
Berwarna
merah
Berwarna
hijau kebiruan
- Filtrat : Bening kemerahan
- Residu : Hijau kebiruan
Tidak
terbemtuk untaian DNA
Berwarna
hijau
Berwarna
hijau keputihan
Berwarna
hijau
- Filtrat : Bening kehijauan
- Residu : Hijau
Tidak
terbemtuk untaian DNA
Berwarna
kuning
Berwarna
kuning keputihan
Berwarna
hijau
- Filtrat : Bening kekuningan
- Residu : Hijau
Tidak
terbemtuk untaian DNA
Berwarna
kuning
Berwarna
kuning keputihan
Berwarna
hijau
- Filtrat : Kuning keputihan
- Residu : Hijau
Tidak
terbemtuk untaian DNA
|
VI.
Pembahasan
DNA tersusun
atas 3 komponen utama yaitu gula deoksiribosa, basa nitrogen, dan fosfat yang
tergabung membentuk nukleotida. DNA
terdapat di dalam setiap sel makhluk hidup yang sangat berperan penting sebagai
pembawa informasi hereditas yang menentukan stuktur protein dan proses
metabolisme lain.
DNA memiliki struktur pilinan utas ganda yang anti
pararel dengan komponen-komponennya, yaitu gula pentosa (deoksiribosa), gugus fosfat
dan pasangan basa. Sebuah sel memiliki DNA yang merupakan materi genetik dan
bersifat herediter pada seluruh sistem kehidupan. Genom adalah set lengkap dari
materi genetik (DNA) yang dimiliki suatu organisme dan terorganisasi menjadi
kromosom. DNA juga dapat diisolasi, baik pada manusia maupun tumbuhan
(Muslimah, 2011).
Pada
dasarnya Isolasi DNA merupakan langkah mempelajari DNA. Salah satu prinsisp
isolais DNA yaitu dengan sentrifugasi. Sentrifugasi merupakan teknik untuk
memisahkan campuran berdasarkan berat molekul komponennya. Molekul yang
mempunyai berat molekul besar akan berada di bagian bawah tabung dan molekul
ringan akan berada pada bagian atas tabung. Isolasi DNA
dapat dilakukan melalui tahapan-tahapan antara lain: preparasi ekstrak sel,
pemurnian DNA dari ekstrsk sel dan presipitasi DNA (Krisman, 2011).
Isolasi
DNA diperlukan untuk analisis genetik, yang digunakan untuk tujuan ilmiah,
medis, atau forensik. Para ilmuwan menggunakan DNA di sejumlah aplikasi,
seperti pengenalan DNA ke dalam sel dan binatang atau tanaman, atau untuk
tujuan diagnostik. Dalam obat aplikasi yang terakhir adalah yang paling umum.
Di sisi lain, ilmu forensik perlu memulihkan DNA untuk identifikasi individu
(bagi pemerkosa misalnya, pencuri kecil, kecelakaan, atau korban perang),
penentuan ayah, dan pabrik atau identifikasi hewan (Aisyatun, 2013).
Secara umum tujuan dari dilakukannya percobaan ini yaitu
untuk mengisolasi DNA dari
berbagai jenis buah-buahan. Adapun buah-buahan yang digunakan yaitu buah pisang,
buah sirsak, buah pepaya, buah mangga, buah semangka, buah alpukat, buah nanas,
dan buah nangka (Tim Penyusun, 2013).
Pada
perlakuan awal, yaitu mengupas kulit buah diisolasi DNA-nya. Kemudian dilakukan
pelumatan buah tersebut dengan menggunakan garpu atau sendok. Proses pelumatan
ini bertujuan untuk memisahkan DNA dengan partikel lain yang tidak
diinginkan. Proses
ekstraksi ini harus dilakukan dengan sebaik mungkin dan secara hati-hati, agar
tidak terjadi kerusakan pada DNA dari buah tersebut. Selanjutnya, menambahkan 8 gram garam dapur (NaCl) pada masing-masing hasil pelumatan sampel buah yang ada. Penambahan
garam ini bertujuan untuk memekatkan DNA. Ion Na+ yang terkandung
dalam garam akan mampu membentuk ikatan dengan kutub negatif pada ikatan fosfat
DNA, saat ion Na+ dari garam tersebut berikatan
dengan fosfat, pada saat itulah DNA akan berkumpul atau memekat. Setelah itu, menambahkan campuran sabun sunlight dan aquades 1 : 1.
Penambahan ini bertujuan
untuk merusak
membran sel dan membran plasma yang terdapat di dalam buah tersebut, dimana
perusakan ini terjadi melalui ikatan yang dibentuk pada sisi hidrofobik sabun dengan
protein dan lemak, pada membran sel membentuk senyawa lipid-protein-sabun
kompleks. Senyawa tersebut dapat terbentuk karena pada protein dan lipid yang memiliki
ujung hidrofobik dan hidrofilik. Demikian juga dengan sabun sehingga dapat membentuk
suatu ikatan kimia dan diperoleh DNA dari tanaman tersebut. Kemudian menambahkan
dengan 20 mL aqaudes, tujuannya untuk melarutkan semua zat yang
ditambahkan seperti garam dan sabun dan mengaduknya secara perlahan agar tidak
merusak struktur DNA. Selain itu tujuan pengadukan agar larutan bercampur
hingga homogen. Selanjutnya mendiamkan selama + 15 menit, tujuannya untuk
merekasikan semua zat-zat yang ada dalam larutan tersebut (Tim Penyusun, 2013).
Pada perlakuan
berikutnya, melakukan penyaringan
larutan
dan memasukkan filtrat
hasil penyaringan tersebut ke dalam tabung reaksi. Penyaringan ini bertujuan
agar komponen-komponen
sel lainnya yang tidak diinginkan selain sampel DNA, tidak mengkontaminasi sampel DNA buah yang akan diisolasi. Selain itu, penyaringan ini
bertujuan untuk memisahkan antara residu dan filtratnya. Kemudian menambakan etanol
absolut dingin melalui
dinding tabung yang bertujuan agar tidak merusak proses pemurnian DNA pada
bagian tengah. Penambahan ini juga berfungsi sebagai pengkoagulan DNA, dimana molekul etanol absolut dingin yang tak bermuatan akan
menarik molekul DNA yang bermuatan negative sehingga terjadi koagulasi atau
penggumpalan. Sehingga DNA yang bersifat transparan dapat terlihat dengan jelas
berupa benang-benang halus pada lapisan tengah campuran buah dan sabun. Etanol yang digunakan harus dalam
keadaan dingin, sebab jika etanol tersebut dalam keadaan panas, maka DNA yang
terkandung dalam ekstrak buah akan mengalami denaturasi (kerusakaan) sehingga
tidak dapat teramati (Lehninger, 1982).
Setelah
penambahan etanol, beberapa saat kemudian akan terbentuklah tiga lapisan di
dalam larutan tersebut, dimana etanol absolut berada pada lapisan atas,
kemudian pada lapisan tengah asam nukleat atau massa putih DNA, sedangkan pada
lapisan ketiga yang berada paling bawah adalah filtrat buah. Terbentuknya 3
lapisan ini diakibatkan perbedaan massa jenis dari ketiga senyawa tersebut.
Hasil positif yang terlihat pada percobaan yang telah kami lakukan merupakan
suatu hasil yang dapat membuktikan serta menunjukkan cara isolasi DNA tumbuhan
(Krisman, 2011).
Berdasarkan
percobaan yang dilakukan, warna ekstrak dari masing buah-buahan berbeda-beda.
Hal ini disebabkan karena perbedaan susunan DNA yang terdapat dalam tiap buah.
Dimana struktur DNA memiliki ciri khas untuk setiap buah, meski hanya disusun
dari sitosin (C), timin (T), adenine (A) dan guanin (G), tetapi perbedaan
susunan kombinasinya di dalam sel makhluk hidup dapat menyebabkan ciri khusus
untuk tiap buah. Selain itu, dari hasil yang diperoleh, banyaknya lapisan
endapan asam nukleat yang diperoleh dari tiap-tiap sampel buah yang
berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena perbedaan sifat serta struktur dari
ekstrak buah tersebut.
Selain itu, pada percobaan ini hanya sampel buah pepaya sajay yang
dapat dibentuk untaian DNA-nya selebihnya dari sampel tidak terbentuk. Hal ini dikarenakan adanya kesalahan dari praktikan
pada saat pelumatan dan eksraksi, dimana DNA dari buah tersebut mengalami kerusakan (Anonim, 2010).
Meskipun
isolasi DNA dapat dilakukan dengan berbagai cara, akan tetapi pada setiap jenis
atau bagian tanaman dapat memberikan hasil yang berbeda, hal ini dikarenakan
adanya senyawa polifenol dan polisakarida dalam konsentrasi tinggi yang dapat
menghambat pemurnian DNA. Jika isolasi DNA dilakukan dengan sample buah, maka
kadar air pada masing-masing buah berbeda, dapat memberi hasil yang
berbeda-beda pula. Semakin tinggi kadar air, maka sel yang terlarut di dalam
ekstrak akan semakin sedikit, sehingga DNA yang terpretisipasi juga akan
sedikit. Penambahan deterjen dalam isolasi DNA dapat menyebabkan rusaknya
membrane sel, melalui ikatan yang dibentuk melalui sisi hidrofobik deterjen
dengan protein dan lemak pada membrane membentuk senyawa “lipid
protein-deterjen kompleks”. Senyawa tersebut dapat terbentuk karena protein dan
lipid memiliki ujung hidrofilik dan hidrofobik, demikian juga dengan deterjen,
sehingga dapat membentuk suatu ikatan kimia (Krisman, 2011).
VII.
Kesimpulan
Berdasarkan tujuan dan hasil pengamatan maka dapat
ditarik
kesimpulan dari percobaan ini yaitu DNA dapat diisolasikan dari sumber DNA berupa buah-buahan dengan cara mengekstrak sari buah dan selanjutnya
melakukan penambahan larutan garam (NaCl),
detergen dan
etanol absolut
dingin untuk membantu koagulasi dalam pembentukan benang-benang DNA pada
setiap sampel buah.
Daftar
Pustaka
Aisyatun, Nur. (2013). Isolasi DNA. http://aisyatunnurlaelyshare.wordpress.com/2013/04/24/isolasi-dna
Diakses pada tanggal 18 desember 2013
Anonim. (2010). Isolasi Dna. http://www.macnature.com.
Diakses
pada tanggal 18 desember 2013
Diakses
pada tanggal 18 desember 2013
Lehninger, Albert. L. (1982). Dasar-Dasar Biokimia Jidid 1. Jakarta:Erlangga.
Diakses
pada tanggal 18 desember 2013
Ridwan, Maulana. (2013). Laporan isolasi DNA dan Elektroforesis DNA. http://ridwanmaulana.blogspot.com/2013/06/laporan-isolasi-dna-elekroforesis.html. Diakses pada tanggal 18 desember 2013
Tim Penyusun Biokimia. (2013). Penuntun Praktikum Biokimia Dasar. Palu:Universitas Tadulako.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar