PERCOBAAN
II
“Karbohidrat”
I.
Tujuan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mempelajari hidrolisis
karbohidrat dengan asam.
II.
Dasar
Teori
Karbohidrat biasanya
didefinisikan sebagai polihidroksi aldehida dan keton atau zat yang
dihidrolisis menghasilkan polihidroksi aldehidaa dan keton. Karbohidrat biasa
disebut juga karbon hidrat, hidrat arang, sacharon (sakarida) atau gula.
Karbohidrat berarti karbon yang terhidrat. Rumus umumnya adalah Cx(H2O)y.
Karbohidrat dibuat oleh tanaman melalui proses fotosintesis.
|
x CO2 + y H2O + energi matahari → Cx (H2O)y
+ x O2
|
Karbohidrat adalah
senyawa karbonil alami dengan beberapa gugus hidroksil. Yang tergolong
karbohidrat adalah gula (monosakarida) dan polimernya yaitu oligosakarida dan
polisakarida. Berdasarkan letak gugus karbonilnya, dapat dibedakan 2 jenis
monosakarida yaitu: aldosa yang gugus karbonilnya berada di ujung rantai dan
berfungsi sebagai aldehida dan ketosa yang gugus karbonilnya berlokalisasi di
dalam rantai (Lutfi, 2013).
Klasifikasi
Karbohidrat
1. Monosakarida (gula sederhana/saccharum)
Monosakarida
adalah karbohidrat paling sederhana. Jika dihidrolisis, senyawa-senyawa
monosakarida sudah tidak dapat diuraikan lagi menjadi senyawa gula menjadi
senyawa gula yang lebih sederhana. Contoh: glikosa dan fruktosa.
2. Disakarida
Disakarida
terdiri atas dua monosakarida yang terikat satu sama lain dengan ikatan
glikosidik. Ikatan glikosidik biasanya terjadi antara atom C no. 1 dengan atom
C no. 4 dengan melepaskan 1 mol air. Ikatan glikosidik terdapat pada gugus
fungsi dalam karbohidrat, yaitu gugus aldehid pada glukosa dan gugus keton pada
fruktosa. Disakarida dapat terbentuk dari hasil antara proses hidrolisis
oligosakarida dan poli sakarida. Disakarida biasanya larut dalam air
(hidrofilik). Beberapa contoh disakarida yakni:
a.
Sukrosa.
Sukrosa
terdapat dalam batang tebu, bit, sorgum, nanas dan wortel. Hidrolisis dengan
enzim sukrase menghasilkan glukosa dan fruktosa (fruktosa + glukosa = sukrosa).
b.
Laktosa.
Laktosa
(gula susu) terdapat dalam air susu hewan mamalia. Pada proses hidrolisis
menggunakan asam atau enzim lactase, dihasilkan glukosa dan galaktosa
(galaktosa + glukosa = laktosa).
c.
Maltosa.
Maltose
termasuk gula pereduksi yang dapat diperoleh dari amilum, glikogen, dan biji
gandum yang sedang berkecambah. Hidrolisis maltose menghasilkan dua molekul
glukosa (gukosa + glukosa = maltose).
3. Oligosakarida.
Senyawa yang
termasuk oligosakarida mempunyai moleku 2-10 monosakarida, yaitu trisakarida
yang terdiri dari 3 molekul monoskarida dan tetrasakarida yang terbentuk dari
empat molekul monosakarida. Salah satu trisakarida penting adalah rafinosa tang
terdiri atas tiga molekul monoakarida yamg berikatan yaitu
galaktosa-glukosa-fruktosa. Ikatan tersebut terbentuk antara atom karbon nomor
1 pada galaktosa dengan atom karbon 6 pada glukosa. Selanjutnya atom karbon
nomor 1 pada glukosa berikatan dengan atom karbon 2 ada fruktosa.
4. Polisakarida.
Polisakarida
terdiri atas banyak molekul monosakarida, sehingga molekul polisakarida
mempunyai berat molekul hingga beberapa ratus ribu. Polisakarida yang
dihasilkan antara monosakarida sejenis (satu macam monosakarida) disebut homo
polisakarida, sedangkan yang mengandung senyawa lain disebut
heteropolisakarida. Polisakarida pada umumnya berupa senyawa putih dan tidak
berasa manis. Beberapa polisakarida dapat larut dalam air. Polisakarida
mempuyai rumus molekul (C6H10O5)n
dengan harga n yang besar. Contoh
golongan polisakarida yang penting antara lain pati (amilum), glikogen, dan
selulosa.
a.
Pati (amilum atau zat tepung)
Pati
merupakan cadangan makanan pada biji, akar, batang, dan umbi.[1][11]zat pati terdiri atas rantai-rantai
tidak bercabang (amilosa) dan
rantai-rantai yang bercabang (amilopektin).
Pati merupakan homopolimer glukosa dengan ikatan alfa-glikosidik. Berbagai
macam pati tidak sama sifatnya, tergantung dari panjang rantai C-nya, serta
apakah lurus atau bercabang rantai
molekulnya. Pati terdiri dari dua fraksi yang dapat dipisahkan dengan air
panas. Fraksi terlarut disebut amilosa dan fraksi tidak terlarut disebut
amilopektin. Pati sediki sekali larut dalam air dingin, tetapi jika dipanaskan
dengan air, butir-butir zat pati tersebut berkembang menjadi sebuah gel (kanji)
dan pada pemanasan selanjutnya yang disertai cukup air menghasilkan koloid. Amilum
dapat dihidrolisis sempurna menggunakan asam sehingga menghasilkan glukosa.
Hidrolisis juga dapat dilakukan mengguakan enzim amilase. Amilase dikeluarkan
oleh ludah dan cairan yang dikeluarkan oleh pangkreas.
b.
Glikogen.
Glikogen
juga sering disebut gula otot, karena jenis gula ini banyak ditemukan dalam
otot dan hati vertebrata, yang berfungsi sebagai cadangan makanan. Glikogen
menunjukkan sifat kimia yang sama dengan zat tepung. Zat ini dapat larut oidal
dalam air dingin, tetapi tidak membentuk gel-gel seperti pada kanji. Larutan
koloidal glikogen tidak menunjukkan daya reduksi yang kuat terhadap larutan
fehling. Hidrolisis dengan asam-asam encer menghasilkan glukosa, sedangkan
hidrolisis dengan amilosa terutama menghasilkan maltosa. Dalam
pertanian Glikogen juga telah berhasil diisolasi dari benih jagung (sweet
corn).
c.
Selulosa.
Selulosa
merupakan serat-serat panjang yang bersama-sama hemiselulosa, pektin, dan
protein membentuk struktur jaringan yang memperkuat dinding sel tanaman. Atau
dapat dikatakan selulosa merupakan penyusun utama dinding sel tumbuhan. Tanaman
kapas sebagian besar terdiri selulosa. Kertas saring seluruhnya terdiri atas
selulosa. Selulosa dapat diubah oleh asam sulfat menjadi hasil yang dapat
larut, jika larutan ini diencerkan dengan air dan direbus, terjadi hidrolisis
dan terbentuk glukosa sebagai hasil akhir. Selulosa
tudak dapat larut dalam air, tetapi dapat larut dalam pelarut Schweitzer (larutan kuprioksida-amonia). Tidak
seperti amilum, selulosa tidak dapat dicerna ileh perut manusia atau mamalia
lainnya, tetapi dapat dicerna oleh sapi dan dan hewan ruminansia lain dengan
prtolongan bakteri.
d.
Pektin.
Pektin
secara umum terdapat dalam dinding sel primer tanaman, khususnya di sela-sela antara
selulosa dan hemiselulosa. Senyawa pektin berfungsi sebagai perekat antara
dinding sel satu dengan yang lain. Pada umumnya senyawa pektin dapat
diklasifikasi menjadi tiga kelompok senyawa yaitu asam pektat, asam pektinat
(pektin), dan protopektin. Kandungan pektin dalam tanaman sangat bervariasi
baik berdasarkan jenis tanamannya maupun bagian-bagian jaringannya. Komposisi
kandungan protopektin, pektin, dan asam pektat di dalam buah sangat bervariasi
tergantung pada derajat pematangan buah (Lutfi, 2013).
III.
Alat dan Bahan
Adapun
alat dan bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah sebagai berikut :
A. Alat
1. Tabung
reaksi
2. Rak
tabung reaksi
3. Gelas
kimia
4. Penangas
listrik
5. Pipet
tetes
6. Gelas
ukur 5 mL dan 10 mL
7. Plat tetes
8. Stopwatch
9. Tissue
10. Penjepit
tabung
B. Bahan
1. Aquades
2. Larutan sukrosa 0,1 %
3. Larutan amilum 0,1 %
4. Reagen
benedict
5. Larutan
HCl 3 M
6. Larutan
iodin
7. Larutan
Na2CO3 5
%
IV.
Prosedur
Kerja
Adapun prosedur kerja yang dilakukan pada percobaan ini adalah sebagai berikut :
a. Proses
hidrolisis
1. Memasukkan 5 mL larutan amilum 0,1% ke dalam tabung
reaksi kemudian menambahkan dengan larutan HCl 3 M sebanyak 3 mL.
2. Memanaskan
tabung reaksi tersebut
dengan menggunakan penangas listrik,
kemudian menambahkan 3 tetes larutan Na2CO3
dan mengamati perubahan yang terjadi.
3. Mengulangi langkah 1 dan 2 dengan menggunakan larutan
sukrosa 0,1%
b.
Proses pengujian
1. Uji dengan iodin
a) Memasukkan larutan amilum 0,1% sebanyak 5 mL dan 3 mL larutan HCl 3 M ke dalam tabung reaksi. Kemudian
memanaskan campuran larutan tersebut,
b) Mengambil 3 tetes setiap 5 menit dari larutan tersebut
dan memindakan ke dalam plat tetes. Kemudian menambahkan dengan larutan iodin
sebanyak 3 tetes,
c) Mengamati perubahan yang terjadi, bila tidak terbentuk
lagi warna biru pada larutan hentikan proses pemanasan,
d) Mengulangi
langkah a-c dengan menggunakan larutan sukrosa 0,1 %
2. Uji
Benedict
a) Memasukkan 5 mL larutan amilum 0,1% dan larutan HCl 3
M sebanyak 3
mL ke dalam tabung reaksi. Kemudian memanaskan larutan tersebut dengan
meggunakan penangas listrik.
b) Menambahkan 3 tetes larutan Na2CO3 5% dan 3
tetes reagen benedict
kemudian memanaskan kembali larutan tersebut selama 30 menit dan mengamati
perubahan yang terjadi.
c) Mengulangi langkah a dan b dengan menggunakan larutan
sukrosa 0,1%.
V.
Hasil
Pengamatan
Adapun hasil
pengamatan yang diperoleh dari percobaan ini yaitu sebagai berikut :
Adapun hasil pengamatan
yang diperoleh pada percobaan ini yaitu sebagai berikut :
A. Proses
hidrolisis
1.
Sampel amilum
|
No
|
Perlakuan
|
Hasil
|
|
1.
2.
3.
|
5 mL Amilum 0,1 % + 3 mL HCl 3 M
Perlakuan 1 +
dipanaskan 15 menit
Perlakuan 2 + 2 tetes Na2CO3 5 %
|
Larutan bening
Larutan bening
Larutan bening
|
2.
Sampel sukrosa
|
No
|
Perlakuan
|
Hasil
|
|
1.
2.
3.
|
5
mL Sukrosa 0,1 %
+ 3
mL HCl 3 M
Perlakuan 1 +
dipanaskan 15 menit
Perlakuan 2 + tetes Na2CO3 5 %
|
Larutan bening
Larutan bening
Larutan bening
|
B.
Proses pengujian
1.
Pengujian
dengan iodin
A.
Sampel amilum
|
No
|
Perlakuan
|
Lama pemanasan (menit)
|
|||
|
0
|
5
|
10
|
15
|
||
|
1.
|
5 mL amilum + 3 mL HCl 3 M +
dipanaskan (disetiap 5 menit larutan diambil 3 tetes + 1 tetes larutan iodin
|
Kuning
(++++)
|
Kuning (+++)
|
Kuning (++)
|
Kuning (+)
|
B.
Sampel sukrosa
|
No
|
Perlakuan
|
Lama pemanasan (menit)
|
|||
|
0
|
5
|
10
|
15
|
||
|
1.
|
5 mL sukrosa + 3 mL HCl 3 M + dipanaskan
(disetiap 5 menit larutan diambil 3 tetes + 1 tetes larutan iodin
|
Kuning
(++++)
|
Kuning (+++)
|
Kuning (++)
|
Kuning (+)
|
2.
Pengujian
benedict
A. Sampel
amilum
|
No
|
Perlakuan
|
Hasil
|
|
1.
2.
3.
4.
5.
|
5
mL amilum + 3
mL HCl 3 M Perlakuan 1 + dipanaskan 5 menit Perlakuan 2 +
3 tetes Na2CO3
5 %
Perlakuan 3 + reagen benedict
Perlakuan 4 + dipanaskan
selama
30 menit
|
Larutan bening
Larutan bening
Larutan bening
Larutan berwarna biru muda (++)
Larutan berwarna biru
Muda
(+)
|
B. Sampel
sukrosa
|
No
|
Perlakuan
|
Hasil
|
|
1.
2.
3.
4.
5.
|
5
mL sukrosa+ 3
mL HCl 3 M Perlakuan 1 + dipanaskan 5 menit Perlakuan 2 +
3 tetes Na2CO3
5 %
Perlakuan 3 + reagen benedict
Perlakuan 4 + dipanaskan selama 30 menit
|
Larutan bening
Larutan bening
Larutan bening
Larutan berwarna biru muda (++)
Larutan berwarna biru
Muda
(+)
|
G.
Pembahasan
Karbohidrat adalah
senyawa karbonil alami dengan beberapa gugus hidroksil. Yang tergolong
karbohidrat adalah gula (monosakarida) dan polimernya yaitu oligosakarida dan
polisakarida. Berdasarkan letak gugus karbonilnya, dapat dibedakan 2 jenis
monosakarida yaitu: aldosa yang gugus karbonilnya berada di ujung rantai dan
berfungsi sebagai aldehida dan ketosa yang gugus karbonilnya berlokalisasi di
dalam rantai (Lutfi, 2013).
Karbohidrat
merupakan persenyawaan antara karbon, hidrogen dan oksigen yang terbentuk di
alam dengan rumus umum Cn(H2O)n. Melihat rumus empiris tersebut,
maka senyawa ini dapat diduga sebagai ”hidrat dari karbon”, sehingga disebut
karbohidrat. Rumus empiris seperti itu tidak hanya dimiliki oleh karbohidrat
melainkan juga oleh hidrokarbon seperti asam asetat. Oleh karena itu suatu
senyawa termasuk karbohidrat tidak hanya ditinjau dari rumus empirisnya saja,
tetapi yang paling penting ialah rumus strukturnya. Dari rumus struktur akan
terlihat bahwa ada gugus fungsi penting yang terdapat pada molekul karbohidrat
yaitu gugus fungsi karbonil (aldehid dan keton). Gugus-gugus fungsi itulah yang
menentukan sifat senyawa tersebut. Berdasarkan gugus yang ada pada molekul
karbohidrat, maka senyawa tersebut didefinisikan sebagai polihidroksialdehida
dan polihidroksiketon. Berdasarkan
jumlah monomer pembentuk suatu karbohidrat maka dapat dibagi atas tiga golongan
besar yaitu monosakarida, disakarida dan polisakarida. Istilah sakarida berasal
dari bahasa latin dan mengacu pada rasa manis senyawa karbohidrat sederhana
(Anonim, 2011).
Secara umum pada percobaan ini yang
ingin dilakukan yaitu untuk mempelajari hidrolisis karbohidrat
dengan asam, dimana bahan uji yang digunakan yaitu sukrosa dan amilum. Secara khusus pada percobaan ini akan
dibahas proses hidrolisis dan pengujian dari golongan karbohidrat (Tim
Penyusun, 2013). Secara ringkas pembahasannya dapat diuraikan sebagai berikut :
1.
Proses
hidrolisis
|
(C6H10O5)x
+ x H2O → x C6H12O6
|
(C6H10O5)x
+ x H2O → x C6H12O6 (Zulfikar,
2011).
Pada tahap ini, akan melakukan hidrolisis
atau penguraian terhadap karbohidrat. Sampel yang digunakan yaitu amilum dan
sukrosa. Larutan tersebut
dimasukkan ke dalam tabung reaksi
sebanyak 5 mL, dan ditambahkan dengan 3 mL larutan HCl. Penambahan HCl bertujuan
untuk menyempurnakan proses hidrolisis senyawa tersebut nantinya. Terlebih
untuk amilum yang dapat dihirolisis sempurna dengan menggunakan
asam. Selain itu, pada
tubuh kita proses hidrolisis
juga dapat dilakukan dengan bantuan enzim amilase. Dalam ludah dan dalam cairan
yang dikeluarkan oleh pancreas terdapat amilase yang bekerja terhadap amilum
yang terdapat dalam makanan.
Selanjutnya memanaskan tabung di atas penangas listrik. Tujuannya untuk
mempercepat terjadinya reaksi
hidrolisis. Kemudian menambahkan dengan larutan Na2CO3,
tujuan penambahan tersebut untuk mengidentifkasi ion-ion Ca2+ yang
terkandung di dalam sampel tersebut. Sehingga diperoleh pada kedua larutan
tersebut bening (Tim Penyusun, 2013).
2.
Proses
pengujian
a) Uji dengan
iodine (I2)
Pada perlakuan pertama yaitu masukkan larutan sebanyak
5 mL dan larutan HCl 3 M 3 mL ke dalam
tabung reaksi. Kemudian memanaskan larutan tersebut, tujuannya untuk
mempercepat terjadinya proses hidrolisis. Setelah itu, mengambil 3 tetes setiap
5 menit dari larutan tersebut dan memindahkannya ke dalam plat tetes. Kemudian
menambahkan dengan larutan iodin. Tujuannya, untuk mengatahui apakah amilum
yang terkandung dalam larutan tersebut telah terhidrolisis secara sempurna.
Berdasarkan pengujian yang telah
dilakukan
sempurna
pada saat 3 x 5 menit atau
setelah 15 menit pemanasan terlihat terjadinya perubahan warna larutan secara
non-signifikan ketika ditambahkan dengan larutan iodin, dimana larutan hanya
berkurang intensitas dari warna kuning yang dihasilkan. Selain itu, hasil ini juga menunjukkan pengindikasian polisakarida
tersebut telah terurai dengan sempurna (Tim Penyusun, 2013).
Amilum dapat
dihidrolisis sempurna dengan menggunakan asam sehingga menghasilkan glukosa.
hidrolisis juga dapat dilakukan dengan bantuan enzim amylase. Dalam ludah dan
dalam cairan yang dikeluarkan oleh pankreas terdapat amylase yang bekerja
terhadap amilum yang terdapat dalam makanan kita. Oleh enzim amylase, amilum
diubah dalam bentuk maltosa (Lutfi, 2013).
Berdasarkan teori, larutan pati atau glikogen
yang struktur makromolekulnya berbentuk heliks, dengan larutan iodium akan
berwarna merah, biru sampai dengan biru tua. Bila larutan yang berwarna
tersebut kembali dipanaskan maka warnanya akan hilang. Dan, bila larutan
kembali norma, suhu warnanya akan timbul lagi. Ada teori yang mengatakan bahwa
larutan akan berwarna kemerahan, biru sampai biru tua disebabkan molekul iod
terperangkap ke dalam heliks rantai polimer karbohidrat. Sewaktu dipanaskan,
gelungan heliks makromolekul polimer melurus (membuka) maka molekul iod
terlepas, akibatnya warnanya hilang. Bila suhu larutan normal kembali, molekul
iod terjebak lagi dan warnanya timbul lagi seperti semula (Anonim, 2011).
b)
Uji
Benedict
Pada tahap ini, sama hal
yang dilakukan pada tahap hidrolisis. Namnu pada tahap ini dilakukan penambahan larutan Benedict. Sehingga
diperoleh larutan berwarna biru, kemudian dipanaskan selama 30 menit, larutan tetap berwarna biru. Namum kedua
larutan tersebut tidak terbentuk endapan warna merah bata. Hal
ini disebabkan karena pada kedua larutan bukan merupakan gula pereduksi. Pada uji benedict (untuk menentukan
gula pereduksi) pada larutan uji terbentuk endapan merah bata, yang menunjukkan
positif (+) mengandung gula pereduksi (Tim Penyusun, 2013).
Pereaksi
benedict berupa larutan yang mengandung kuprisulfat, natrium karbonat dan
natrium sitrat. Glukosa dapat mereduksi ion Cu2+ dari kuprisulfat
menjadi ion Cu+ yang kemudian mengendap sebagai Cu2O (endapan merah
bata). Adanya natrium
karbonat dan natrium sitrat membuat peraksi benedict bersifat basa lemah.
Endapan yang terbentuk dapat berwarna hijau, kuning
atau merah bata. Warna endapan ini tergantung pada konsentrasi karbohidrat yang
diperiksa. Pereaksi Benedict lebih
banyak digunakan pada pemeriksaan glukosa dalam urine daripada pereaksi Fehling
karena beberapa alasan. Apabila dalam
urine terdapat asam urat atau kreatinin, kedua senyawa ini dapat mereduksi
pereaksi Fehling, tetapi tidak dapat mereduksi pereaksi Benedict. Di samping
itu pereaksi Benedict lebih peka daripada pereaksi Fehling. Penggunaan pereaksi
Benedict juga lebih mudah karena hanya terdiri atas satu macam larutan,
sedangkan pereaksi Fehling terdiri atas dua macam larutan (Lehninger, 1982).
H.
Kesimpulan
Berdasarkan tujuan dan hasil pengamatan maka dapat
ditarik
kesimpulan dari percobaan ini adalah
sebagai berikut :
1. Karbohidrat
(amilum dan sukrosa) dapat dihidrolisis menjadi unit monosakarida penyusunnya
dengan cara mereaksikannya dengan suatu asam kuat dengan pemanasan.
2. Pada
uji benedict
sukrosa dan amilum tidak bereaksi
positif
karena tidak terbentuknya endapan merah bata.
Daftar
Pustaka
Anonim. (2011). Karbohidrat.
(http://sweetir1s.multiply.com.
Diakses pada tanggal 18 Desember 2013.
Lehninger, Albert. L. (1982). Dasar-Dasar Biokimia Jidid 1. Jakarta:Erlangga.
Lutfi, Arifin. (2013). Makalah Karbohidrat. (http://lutfiarifin.blogspot.com/2013/06/makalah-karbohidrat.html). Diakses pada tanggal 18 desember 2013
Tim Penyusun Biokimia. (2013). Penuntun Praktikum Biokimia Dasar. Palu:Universitas Tadulako.
Zulfikar,
Achmad. (2011). Biokimia Karbohidrat.
(http://www.gudangmateri.com). Diakses 18 Desember 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar