PERCOBAAN
III
ASAM
AMINO DAN PROTEIN
I.
Tujuan
Adapun
tujuan dari percobaan ini adalah
untuk menentukan sifat-sifat asam amino dan protein.
II.
Dasar
Teori
Asam amino adalah sembarang senyawa
organik yang memiliki gugus fungsional karboksil (-COOH) dan amina (biasanya -NH2). Dalam biokimia seringkali pengertiannya dipersempit:
keduanya terikat pada satu atom karbon (C) yang sama (disebut atom
C "alfa" atau α).
Gugus karboksil memberikan sifat asam dan gugus amina memberikan sifat basa. Dalam bentuk larutan, asam amino bersifat amfoterik: cenderung menjadi asam pada larutan basa
dan menjadi basa pada larutan asam. Perilaku ini terjadi karena asam amino
mampu menjadi zwitter-ion. Asam amino termasuk golongan senyawa yang
paling banyak dipelajari karena salah satu fungsinya sangat penting dalam organisme, yaitu sebagai penyusun protein (Dholy, 2010).
Struktur asam amino secara umum adalah satu
atom C yang mengikat empat gugus: gugus amina (NH2), gugus karboksil (COOH), atom hidrogen (H), dan satu gugus sisa (R, dari residue) atau disebut juga gugus atau
rantai samping yang membedakan satu asam amino dengan asam amino lainnya. Atom C pusat tersebut dinamai atom Cα
("C-alfa") sesuai dengan penamaan senyawa bergugus karboksil, yaitu
atom C yang berikatan langsung dengan gugus karboksil. Oleh karena gugus amina
juga terikat pada atom Cα ini, senyawa tersebut merupakan asam
α-amino. Asam amino biasanya diklasifikasikan
berdasarkan sifat kimia rantai samping tersebut menjadi empat kelompok. Rantai
samping dapat membuat asam amino bersifat asam lemah, basa lemah, hidrofilik
jika polar, dan hidrofobik jika nonpolar. Terdapat
20 asam amino yang terbagi menjadi dua kelompok, asam amino non-enensial dan asam amino esensial. 12 jenis asam amino non-enensial di produksi
oleh tubuh. Sedangkan 8 sisanya, berupa asam amino esensial yang harus
didapatkan melalui makanan (Ratna, 2009).
Protein
merupakan polimer alami yang terdiri atas sejumlah unit asam amino yang
berikatan satu dengan lainnya lewat ikatan amida (atau peptida). Jaring
laba-laba, bulu hewan, dan otot, putih telur, dan hemoglobin (molekul yang
mengangkut oksigen dalam tubuh ke tempat yang memerlukan) ialah beberapa contoh
protein (Lehninger, 1982).
1.
Sifat
Mengion Asam Amino
Asam
amino bersifat amfoterik, artinya berperilaku sebagai asam dan mendonasikan
proton pada basa kuat, atau dapat juga berperilaku sebagai basa dan menerima
proton dari asam kuat. Perilaku ini dinyatakan dalam kesetimbangan berikut
untuk asam amino dengan satu gugus amino dan satu gugus karboksil. Keadaan ion
ini sangat tergantung pada pH larutan. Apabila larutan asam amino dalam air
ditambah dengan basa, maka asam amino akan terdapat dalam bentuk (I) karena
konsentrasi ion OH- yang tinggi mampu mengikat ion-ion H+
yang terdapat pada gugus -NH3+.
(Ratna, 2009)
Sebaliknya
apabila ditambahkan asam ke dalam larutan asam amino, maka konsentrasi ion H+
yang tinggi mampu berikatan dengan ion –COO-, sehingga terbentuk
gugus –COOH. Dengan demikian asam amino terdapat dalam bentuk (II). Asam
amino mengandung suatu gugus amino yang bersifat basa dan gugus karboksil yang
bersifat asam dalam molekul yang sama. Suatu asam amino mengalami reaksi
asam-basa internal yang menghasilkan suatu ion dipolar, yang juga disebut
zwitterion (dari kata Jerman zwitter,
“hibrida”). Karena terjadinya muatan ion, suatu asam amino mempunyai banyak
sifat garam. Tambahan pula, pKa suatu asam amino bukanlah pKa dari
gugus –CO2H, melainkan dari gugus –NH3+. pKb
bukan dari gugus amino yang bersifat basa, melainkan dari gugus –COO-
yang bersifat basa sangat lemah (Dholy, 2010).
2. Titik Isoelektrik dan Kelarutan
Kasein.
Pada
Zwitterion asam amino yang rantai sampingnya tak bermuatan, maka muatan positif
dan negatif saling meniadakan, sehingga tak ada muatan bersih pada molekul.
Setiap asam amino yang muatan positif dan negatifnya berimbang dikatakan berada
pada titik isoelektrik. pH pada saat perimbangan ini terjadi disebut pH
isoelektrik. Titik isoelektrik asam amino dengan rantai samping tak bermuatan
terjadi di sekitar pH 7,0 pada larutan berair. Asam amino cenderung paling
kurang larut pada titik isoelektriknya, karena muatan bersihnya nol (Lehninger,
1982).
Suatu
asam amino netral, titik isoelektriknya yang terutama bergantung pada harga pKa
dan pKb dari gugus –NH3+ dan –COO-, adalah
sekitar 5,5 – 6,0. Sementara untuk asam amino asam berarti bahwa ada suatu
gugus lain yang dapat berinteraksi dengan air. Suatu larutan air dari suatu
asam amino asam jelas bersifat asam, dan ion asam aminonya mengemban muatan
negatif. Diperlukan konsentrasi H+ lebih tinggi untuk memungkinkan asam amino
asam sampai ke titik isoelektriknya daripada yang diperlukan untuk asam amino
netral. Titik isoelektrik asam amino asam adalah berkisar pH = 3. Asam amino ini
memiliki rantai samping berupa gugus karboksil (Ratna, 2009).
Sementara
asam amino yang mengandung rantai samping dengan gugus amino merupakan suatu
asam amino basa, mempunyai gugus amino kedua yang bereaksi dengan air membentuk
suatu ion positif. Diperlukan ion-ion hidroksida untuk menetralkan asam amino
basa dan untuk membawanya sampai ke titik isoelektriknya. Untuk asam amino basa
titik isoelektriknya terletak di atas pH = 7 (Dholy, 2010).
3. Penggaraman Protein (Salting Out).
Kebanyakan
protein (terutama protein Globular) di dalam air akan membentuk koloid
hidrofil. Karena itu, faktor pengendapan pengendapan koloid berlaku pula pada
protein. Pada percobaan ini kami
menggunakan putih telur sebagai sampel
proteinnya. Protein-protein ini bersifat khas yaitu pada titik isoelektriknya
menghasilkan larutan yang mantap dan tetap larut dalam air (Lehninger, 1982).
Biuret adalah
senyawa dengan dua ikatan peptida yang terbentuk pada pemanasan dua mulekul
urea. Ion Cu2+ dari preaksi Biuret dalam suasana basa akan berekasi
dengan polipeptida atau ikatan-ikatan peptida berwarna ungu. Untuk
percobaan penggaraman digunakan albumin telur ayam yang direaksikan dengan
kristal amonium sulfat. Kristal amonium sulfat ini bertujuan untuk mengendapkan
albumin yang disebabkan karena terjadinya penetralan partikel protein sekaligus
dehidrasi. Dan setelah diperoleh campuran dalam keadaan jenuh, langkah
selanjutnya adalah melakukan penyaring. Filtrat dan residu yang diperoleh diuji
dengan menggunakan uji biuret (Ratna, 2009).
III.
Alat
dan Bahan
Adapun
alat dan bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah sebagai berikut :
I.
Sifat
mengion asam amino
Ø Alat
1.
pH meter
2.
Gelas
kimia 100
mL
3.
Pipet
tetes
4.
Gelas
ukur 25 mL
5.
Batang
pengaduk
6.
Spatula
7.
Tissue
8.
Neraca
digital
Ø Bahan
1.
Padatan
glisin
2.
Aquades
3.
Larutan NaOH 10%
4.
Larutan H2SO4 2 N
II.
Titik
isoelektrik dan kelarutan asam amino
Ø Alat
1.
Pipet tetes
2.
Tabung reaksi
3.
Rak tabung reaksi
4.
Gelas ukur 10 mL
5.
Stopwatch
Ø Bahan
1.
Larutan CH3COOH 0,01 M
2.
Larutan CH3COOH 0,1 M
3.
Larutan CH3COOH 1 M
4.
Aquades
5.
Larutan
kasein – Na – asetat
III.
Penggaraman protein (Salting – Out)
Ø Alat
1.
Gelas kimia 100 mL
2.
Kertas saring
3.
Batang pengaduk
4.
Spatula
5.
Corong
6.
Gelas
aqua
7.
Erlenmeyer 100 mL
8.
Pipet tetes
9.
Tissue
Ø Bahan
1.
Albumin
telur ayam kampung
2.
Albumin
telur bebek
3.
Kuning telur ayam kampung
4.
Kuning telur bebek
5.
Larutan CuSO4 2 %
6.
Larutan NaOH 0,1 N
7.
Kristal ammonium sulfat
IV.
Prosedur
Kerja
Adapun
prosedur kerja yang
dilakukan pada percobaan ini adalah sebagai berikut :
A. Sifat
Mengion Asam Amino
Ø Penambahan dengan larutan H2SO4
2 N
1.
Menimbang dengan teliti 400 mg padatan glisin dan melarutkan dengan 10
mL
air suling di dalam sebuah gelas
kimia.
2.
Menuang 10 ml air suling ke dalam gelas kimia yang lain
3.
Menambahkan dengan larutan H2SO4
2 N 10 tetes, untuk
10 tetes pertama, mengocok gelas
kimia
tiap-tiap satu tetes dan
mengukur pH-nya setiap penambahan 1 tetes. Untuk 10 tetes
selanjutnya, mengocoknya
setiap penambahan 2
tetes, lalu mengukur
pH-nya setiap penambahan 2 tetes.
4.
Menambahkan
4 tetes dan mengocoknya setiap
penambahan 4 tetes hingga tercapai pH 1,2.
5.
Mencatat pH dan jumlah asam yang
digunakan tiap kali penetesan asam.
Ø Penambahan dengan larutan NaOH 10%
1.
Menimbang dengan teliti 400 mg padatan glisin dan melarutkan dengan 10
mL
air suling di dalam sebuah gelas
kimia.
2.
Menuang 10 ml air suling ke dalam gelas kimia yang lain
3.
Menambahkan dengan larutan NaOH 10 % sebanyak 10 tetes, untuk 10 tetes pertama,
mengocok gelas kimia
tiap-tiap satu tetes dan
mengukur pH-nya setiap penambahan 1 tetes. Untuk 10 tetes selanjutnya, mengocoknya setiap penambahan 2 tetes, lalu mengukur pH-nya setiap penambahan 2 tetes.
4.
Menambahkan
4 tetes dan mengocoknya setiap
penambahan 4 tetes hingga tercapai pH 12.
5.
Mencatat pH dan jumlah asam yang
digunakan tiap kali penetesan asam.
B. Titik
isoelektrik dan kelarutan kasein
1.
Menyiapkan
9 buah tabung reaksi yang bersih dengan larutan sebagai berikut :
|
Nomor tabung
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
|
mL air suling
Asam asetat 0,01 M
mL Asam asetat 0,1 M
mL Asam asetat 1 M
|
8,38
0,62
-
-
|
7,75
1,25
-
-
|
8,75
0,25
-
|
8,5
0,5
-
|
8
1
-
|
7
2
-
|
5
4
-
|
1
8
-
|
7,4
-
1,6
|
2.
Selanjutnya, ke dalam tiap tabung
menambahkan masing-masing 1 ml larutan kasein yang ditiupkan dari pipet.
Mengocok tabung segera. Mencatat kekeruhan yang terjadi segera setelah dikocok
dan setelah 10 menit, dengan tanda sebagai berikut:
(-)
= tidak terjadi kekeruhan sama sekali
(+/-)
= kekeruhan tipis sekali
(+)
= kekeruhan sedikit
(++)
= kekeruhan lebih banyak
(+++)
= kekeruhan paling banyak
3. Menentukan
titik isoelektrik kasein.
C. Penggaraman
protein (Salting – Out)
1.
Memasukkan
5 mL albumin telur ayam ras ke dalam gelas kimia dan menambahkan 4 gram
kristal ammonium sulfat.
2.
Mengaduk
campuran tersebut kemudian menyaringnya sehingga terpisah antara filtrat dan
residunya.
3.
Menambahakan
1 tetes larutan biuret pada filtratnya dan menambahkan 2 tetes larutan biuret
pada residunya.
4.
Mengulangi
langkah 1 – 3 dengan menggunakan albumin telur ayam kampung.
V.
Hasil
Pengamatan
Adapun
hasil pengamatan yang diperoleh dari percobaan ini yaitu sebagai berikut :
1. Sifat Mengion Asam Amino
A. Untuk penambahan asam
|
No
|
Perlakuan
|
pH
|
|
1.
|
400 mg glisin +
H2SO4
2 N
·
Untuk penambahan 10 tetes pertama
1 tetes
2 tetes
3 tetes
4 tetes
5 tetes
6 tetes
7 tetes
8 tetes
9 tetes
10 tetes
·
Untuk penambahan 10 tetes kedua
12 tetes
14 tetes
16 tetes
18 tetes
20 tetes
·
Untuk penambahan terakhir
24 tetes
|
5,36
3,46
3,22
3,04
2,92
2,82
2,72
2,62
2,54
2,44
2,38
2,20
2,02
1,84
1,70
1,54
1,26
|
B.
Untuk penambahan basa
|
No
|
Perlakuan
|
pH
|
|
1.
|
400 mg glisin +
NaOH
10%
·
Untuk penambahan 10 tetes pertama
1 tetes
2 tetes
3 tetes
4 tetes
5 tetes
6 tetes
7 tetes
8 tetes
9 tetes
10 tetes
·
Untuk penambahan 10 tetes kedua
12 tetes
14 tetes
16 tetes
|
5,18
6,60
7,12
7,44
7,74
8,15
8,32
8,55
9,02
9,43
9,78
10,65
11,71
12,61
|
2. Titik Isoelektrik dan Kelarutan
Kasein.
|
Nomor tabung
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
|
mL Air suling
mL Asam asetat 0,01 M
mL Asam asetat 0,1 M
mL Asam asetat
pH larutan
Kelarutan segera
Kelarutan setelah 10 menit
|
8,38
0,62
-
-
5,9
-
-
|
7,75
1,25
-
-
5,6
-
-
|
8,75
-
0,25
-
5,3
-
-
|
8,50
-
0,5
-
5,0
-
+/-
|
8,0
-
1,0
-
4,7
-
+/-
|
7,0
-
2,0
-
4,4
+/-
+
|
5,0
-
4,0
-
4,1
+/-
+
|
1,0
-
8,0
-
3,8
+/-
+
|
7,4
-
-
1,6
3,5
+
++
|
Keterangan :
(-) = Tidak terjadi kekeruhan sama sekali
(+/-) = Kekeruhan tipis sekali
(+) = Kekeruhan sedikit
(++) = Kekeruhan lebih banyak
(+++) = Kekeruhan paling banyak
3. Penggaraman Protein
(SALTING – OUT )
A.
Telur Ayam Kampung
|
No.
|
Perlakuan
|
Hasil
|
|
1.
|
a. 5
ml putih telur
b. 5
ml putih telur + Ammonium sulfat (5 sendok spatula)
c. 5
ml putih telur + Ammonium sulfat + disaring
ü Residu
1. Residu + 10 tetes
CuSO4
2.
Perlakuan 1 + 5 tetes NaOH
ü Filtrat
1. Filtrat + 10 tetes
CuSO4
2.
Perlakuan 1 + 5 tetes NaOH
|
ü Berwarna
bening
ü Larutan
mengental, ammonium sulfat larut dan terdapat endapan.
ü Endapan
berwarna biru
ü Endapan
berwarna biru
ü Terdapat
2 lapisan (biru diatas putih dibawah)
ü Endapan
berwarna biru dan terdapat gumpalan
|
|
a. 5
ml kuning telur
b. 5
ml kuning telur + 4 sendok spatula ammonium sulfat
c. Perlakuan
b + 10 tetes CuSO4
d. Perlakuan
d + 5 tetes NaOH
|
ü Berwarna
kuning dan kurang larut
ü Berwarna
kuning kental
ü Berwarna
hijau muda
|
B. Telur Bebek
|
No.
|
Perlakuan
|
Hasil
|
|
1.
|
a. 5
ml putih telur
b. 5
ml putih telur + Ammonium sulfat (5 sendok spatula)
c. 5
ml putih telur + Ammonium sulfat + disaring
ü Residu
1. Residu + 10 tetes
CuSO4
2.
Perlakuan 1 + 5 tetes NaOH
ü Filtrat
1. Filtrat + 10 tetes
CuSO4
2.
Perlakuan 1 + 5 tetes NaOH
|
ü Berwarna
bening
ü Larutan
mengental, berwarna bening dan larut
ü Berwarna
biru kehijauan
ü Berwarna
biru kehijauan
ü Berwarna
biru muda
ü Berwarna
biru pekat
|
|
a. 5
ml kuning telur
b. 5
ml kuning telur + 4 sendok spatula ammonium sulfat
c. Perlakuan
b + 10 tetes CuSO4
d. Perlakuan
d + 5 tetes NaOH
|
ü Berwarna
orange
ü Larutan
mengental dan berwarna orange
ü Berwarna
hijau muda
|
VI.
Pembahasan
Asam amino adalah sembarang senyawa
organik yang memiliki gugus fungsional karboksil (-COOH) dan amina (biasanya -NH2). Dalam biokimia seringkali pengertiannya dipersempit:
keduanya terikat pada satu atom karbon (C) yang sama (disebut atom
C "alfa" atau α).
Gugus karboksil memberikan sifat asam dan gugus amina memberikan sifat basa. Dalam bentuk larutan, asam amino bersifat amfoterik: cenderung menjadi asam pada larutan basa
dan menjadi basa pada larutan asam (Dholy, 2010).
Protein
merupakan polimer alami yang terdiri atas sejumlah unit asam amino yang
berikatan satu dengan lainnya lewat ikatan amida (atau peptida). Jaring
laba-laba, bulu hewan, dan otot, putih telur, dan hemoglobin (molekul yang
mengangkut oksigen dalam tubuh ke tempat yang memerlukan) ialah beberapa contoh
protein. Hidrolisa protein menghasilkan suatu campuran 20 asam amino ‘biasa’
ditambah satu atau lebih dari asam amino ‘kurang biasa’. Sebagian besar asam
amino dalam organisme hidup adalah asam α-amino; yaitu fungsi amino yang
terdapat pada atom karbon yang selanjutnya menjadi gugus fungsional asam
karboksilat. Karena struktur dasar semua asam α-amino adalah sama, maka asam
amino tertentu menetapkan identitasnya dengan sifat gugus rantai sampingnya
(R). karena kerangka kovalen protein adalah tetap dan menyangkut fungsi
karboksil asam amino dan amino, maka gugus R-lah yang memberi suatu kedudukan
bagi sifat-sifat fisik dan kimianya di dalam rantai protein (Ratna, 2009).
Pada
percobaan ini dilakukan pengujian terhadap sifat-sifat dari asam amino dan
protein. Asam amino tidak selalu bersifat seperti senyawa-senyawa organik.
Misalnya, titik lelehnya di atas 200oC, sedangkan kebanyakan senyawa
organik dengan bobot molekul sekitar itu berupa cairan pada temperatur
kamar. Asam amino larut dalam air dan
pelarut polar lain, tetapi tidak larut dalam pelarut nonpolar seperti dietil
eter atau benzena. Asam amino juga mempunyai momen dipol yang besar, kurang
bersifat asam dibandingkan sebagian besar asam karboksilat dan kurang basa
dibandingkan sebagian besar asam amina (Tim Pengajar Biokimia, 2013).
1. Sifat Mengion Asam Amino
Percobaan
ini menggunakan aquades sebagai larutan pengkalibrasi. Pertama-tama dilakukan yaitu menimbang glisin sebanyak 400 mg kemudian melarutkannya
dengan aquades sebanyak 10 mL dan memasukkannya ke dalam gelas kimia. Pada gelas kimia lainnya, memasukkan aquades sebanyak 10 mL. Kemudian menambahkan 10 tetes larutan H2SO4
2 N pada larutan glisin dimana tiap 1 tetes
dilakukan pengocokkan hingga homogen dan mengukur pH-nya.
Larutan H2SO4 2 N
berfungsi untuk melihat bagaimana pengaruh asam terhadap glisin dan sistin. Selanjutnya, menambahkan lagi dengan 10 tetes larutan
H2SO4 2 N, dimana tiap 2 tetesnya dilakukan pengocokan dan mengukur
pH-nya. Sedangkan pada perlakuan terakhir menambahkan lagi 4 tetes kemudian
mengocoknya, dimana panambahan ini dihentikan ketika sudah mencapai pH 1,2 (Tim
Pengajar Biokimia, 2013).
Pada perlakuan
selanjutnya yaitu menambahkan glisin yang telah ditimbang tadi dengan larutan
NaOH dimana tiap 1 tetes
dilakukan pengocokkan hingga homogen dan mengukur pH-nya. Selanjutnya, menambahkan lagi dengan 10 tetes larutan NaOH, dimana tiap 2 tetesnya dilakukan pengocokan dan mengukur
pH-nya. Sedangkan pada perlakuan terakhir menambahkan lagi 4 tetes kemudian
mengocoknya, dimana panambahan ini dihentikan ketika sudah mencapai pH 1,2. (Lehninger,
1982).
Semua
asam amino berrsifat amfolit, karena setidak-tidaknya
mengandung satu gugus karboksil (asam) dan satu gugus amin (α-amino,
basa). Selain itu, banyak asam amino yang mengandung gugus lain yang mudah
mengion seperti imidazol, sulfuhidril, dan hidroksifenil, di samping gugus
karboksil dan gugus amin. Karena itu, penambahan gugus-gugus tersebut dan
adanya gugus amin terminal dan gugus karboksil pada asam amino akan
mempengaruhi sifat ion asam amino. Selain
itu, asam amino bersifat amfoterik, artinya berperilaku sebagai asam dan
mendonasikan proton pada basa kuat, atau dapat juga berperilaku sebagai basa
dan menerima proton dari asam kuat. Perilaku ini dinyatakan dalam kesetimbangan
berikut untuk asam amino dengan satu gugus amino dan satu gugus karboksil.
Keadaan ion ini sangat tergantung pada pH larutan (Ratna, 2009).
Asam
amino mengandung suatu gugus amino yang bersifat basa dan gugus karboksil yang
bersifat asam dalam molekul yang sama. Suatu asam amino mengalami reaksi
asam-basa internal yang menghasilkan suatu ion dipolar, yang juga disebut
zwitterion (dari kata Jerman zwitter,
“hibrida”). Karena terjadinya muatan ion, suatu asam amino mempunyai banyak
sifat garam. Tambahan pula, pKa suatu asam amino bukanlah pKa dari
gugus –CO2H, melainkan dari gugus –NH3+. pKb
bukan dari gugus amino yang bersifat basa, melainkan dari gugus –COO-
yang bersifat basa sangat lemah (Dholy, 2010).
2. Titik Isoelektrik dan Kelarutan Kasein
Pada
perlakuan ini yang dilakukan yaitu menentukan titik isoelektrik dan kelarutan kasein. Dimana kasein memiliki titik isoelektrik pada pH 4,6 –
4,7 artinya apabila kasein memiliki pH di atas atau di bawah pH tersebut maka
kasein terlarut. Sedangkan apabila kasein berada pada range pH tersebut maka
kasein akan mengendap/tidak larut. Yang pertama-tama dilakukan
pada percobaan ini yaitu menyediakan 9 buah tabung reaksi yang diisi dengan
larutan asam asetat dengan konsentrasi yang berbeda-beda. Lalu, kesembilan
tabung reaksi tersebut ditambahkan dengan kasein. Berdasarkan hasil yang diperoleh, pada tabung 1, 2, 3 dan 4, 5 kekeruhan tipis sekali, pada tabung 6, 7,
8 kekeruhan sedikit dan tabung 9 kekeruhan paling banyak.
Setelah itu menunggu kembali selama 10 menit untuk mengetahui titik
isoelektriknya. Dan hasil tersebut, dapat diketahui bahwa titik isoelektrik
terletak pada tabung reaksi 9 yaitu
ditandai dengan kekeruhan paling banyak. Berdasarkan literatur, dikatakan bahwa
asam amino cenderung paling kurang larut pada titik isoelektriknya, karena
muatan bersihnya nol (Dholy, 2010).
Pada
Zwitter ion asam amino yang rantai sampingnya tak bermuatan, maka muatan
positif dan negatif saling meniadakan, sehingga tak ada muatan bersih pada
molekul. Setiap asam amino yang muatan positif dan negatifnya berimbang dikatakan
berada pada titik isoelektrik. pH pada saat perimbangan ini terjadi disebut pH
isoelektrik. Titik isoelektrik asam amino dengan rantai samping tak bermuatan
terjadi di sekitar pH 7,0 pada larutan berair. Asam amino cenderung paling
kurang larut pada titik isoelektriknya, karena muatan bersihnya nol. Penambahan
asam terhadap n membuat ion H+ dari asam tertarik ke terminal N pada
kasein, dan kasien membuat NH2 menjadi bermuatan dan
mulai bersifat basa (Ratna, 2009).
Sebagai
tambahan untuk suatu asam amino netral, titik isoelektriknya yang terutama
bergantung pada harga pKa dan pKb dari gugus –NH3+ dan
–COO-, Sementara asam amino yang mengandung rantai samping dengan
gugus amino merupakan suatu asam amino basa, mempunyai gugus amino kedua yang
bereaksi dengan air membentuk suatu ion positif. Diperlukan ion-ion hidroksida
untuk menetralkan asam amino basa dan untuk membawanya sampai ke titik
isoelektriknya. Untuk asam amino basa titik isoelektriknya terletak di atas pH
= 7 (Dholy, 2010).
3.
Penggaraman
Asam Amino (Salting – Out)
Pada
perlakuan selanjutnya
yaitu melakukan penggaraman asam amino (salting out). Protein dapat diendapkan atas dasar
sifat-sifatnya seperti koloid. Kebanyakan protein (terutama protein Globular)
di dalam air akan membentuk koloid hidrofil. Karena itu, faktor pengendapan
pengendapan koloid berlaku pula pada protein. Pada
percobaan ini menggunakan putih telur sebagai sampel proteinnya.
Protein-protein ini bersifat khas yaitu pada titik isoelektriknya menghasilkan
larutan yang mantap dan tetap larut dalam air (Ratna, 2009).
Pada
percobaan ini yang pertama-tama
dilakukan yaitu memasukkan 5 mL
albumin lalu direaksikan dengan 5 sendok spatula ammonium sulfat. Berdasarkan
percobaan yang dilakukan, campuran menyatu/melarut dan semakin diaduk semakin membentuk koloid. Setelah itu menyaring dan menguji larutan
tersebut. Filtrat dan endapannya kemudian diuji dengan biuret. Setelah diuji
keduanya berubah menjadi berwarna biru.
Dimana uji
biuret bertujuan untuk mengetahui adanya ikatan peptida dalam suatu protein.
Dimana hasil positifnya adalah terbentuknya larutan berwarna ungu. Namun, pada percobaan yang dilakukan tidak terbentuk warna ungu, melainkan
yang timbul adalah warna biru. Hal ini menandakan bahwa protein albumin hanya
mengandung sedikit ikatan peptida. Warna biru yang diperoleh berasal dari ion
Cu2+ pada biuret. Biuret adalah senyawa dengan dua ikatan
peptida yang terbentuk pada pemanasan dua mulekul urea. Ion Cu2+
dari preaksi Biuret dalam suasana basa akan berekasi dengan polipeptida atau
ikatan-ikatan peptida
berwarna ungu. Untuk
percobaan penggaraman digunakan albumin telur ayam yang direaksikan dengan
kristal amonium sulfat. Kristal amonium sulfat ini bertujuan untuk mengendapkan
albumin yang disebabkan karena terjadinya penetralan partikel protein sekaligus
dehidrasi (Lehninger, 1982).
VII.
Kesimpulan
Berdasarkan
tujuan dan hasil pengamatan maka dapat ditarik kesimpulan dari percobaan
ini adalah sebagai berikut :
1. Asam
amino mampu mengalami perubahan pH karena adanya ion karboksilat dan amina
serta gugus R yang berlainan sehingga dengan penambahan beberapa asam ataupun
basa akan merubah pH asam amino tersebut.
2. Titik
isoelektrik asam amino adalah titik dimana jumlah muatan negatif dinetralkan
oleh muatan positif sehingga menjadi netral.
3. Penambahan
sejumlah garam tertentu ke dalam asam amino akan mengendapkan asam amino
tersebut karena terjadi penetralan protein sekaligus dehidrasi.
DAFTAR PUSTAKA
Dholy, Arif. 2010. Lipida. (http://arifdholy.wordpress.com).
Diakses 2 Desember 2013.
Lehninger,
Albert L. 1982. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta : Erlangga.
Ratna, dkk. 2009. Pengertian Lipida dan Jenis-Jenisnya.
(http://chemistry.wordpress.com).
Diakases 2 Desember 2013.
Tim Pengajar Biokimia.
2013. Penuntun Praktikum Biokimia Dasar.
Palu
: Universitas Tadulako.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar