Sabtu, 25 Oktober 2014

ASAM AMINO DAN PROTEIN

PERCOBAAN III
ASAM AMINO DAN PROTEIN
I.            Tujuan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan sifat-sifat asam amino dan protein.
II.            Dasar Teori
                   Asam amino adalah sembarang senyawa organik yang memiliki gugus fungsional karboksil (-COOH) dan amina (biasanya -NH2). Dalam biokimia seringkali pengertiannya dipersempit: keduanya terikat pada satu atom karbon (C) yang sama (disebut atom C "alfa" atau α). Gugus karboksil memberikan sifat asam dan gugus amina memberikan sifat basa. Dalam bentuk larutan, asam amino bersifat amfoterik: cenderung menjadi asam pada larutan basa dan menjadi basa pada larutan asam. Perilaku ini terjadi karena asam amino mampu menjadi zwitter-ion. Asam amino termasuk golongan senyawa yang paling banyak dipelajari karena salah satu fungsinya sangat penting dalam organisme, yaitu sebagai penyusun protein (Dholy, 2010).
Struktur asam amino secara umum adalah satu atom C yang mengikat empat gugus: gugus amina (NH2), gugus karboksil (COOH), atom hidrogen (H), dan satu gugus sisa (R, dari residue) atau disebut juga gugus atau rantai samping yang membedakan satu asam amino dengan asam amino lainnya. Atom C pusat tersebut dinamai atom Cα ("C-alfa") sesuai dengan penamaan senyawa bergugus karboksil, yaitu atom C yang berikatan langsung dengan gugus karboksil. Oleh karena gugus amina juga terikat pada atom Cα ini, senyawa tersebut merupakan asam α-amino. Asam amino biasanya diklasifikasikan berdasarkan sifat kimia rantai samping tersebut menjadi empat kelompok. Rantai samping dapat membuat asam amino bersifat asam lemah, basa lemah, hidrofilik jika polar, dan hidrofobik jika nonpolar. Terdapat 20 asam amino yang terbagi menjadi dua kelompok, asam amino non-enensial dan asam amino esensial. 12 jenis asam amino non-enensial di produksi oleh tubuh. Sedangkan 8 sisanya, berupa asam amino esensial yang harus didapatkan melalui makanan (Ratna, 2009).
Protein merupakan polimer alami yang terdiri atas sejumlah unit asam amino yang berikatan satu dengan lainnya lewat ikatan amida (atau peptida). Jaring laba-laba, bulu hewan, dan otot, putih telur, dan hemoglobin (molekul yang mengangkut oksigen dalam tubuh ke tempat yang memerlukan) ialah beberapa contoh protein (Lehninger, 1982).


1.      Sifat Mengion Asam Amino
                     Asam amino bersifat amfoterik, artinya berperilaku sebagai asam dan mendonasikan proton pada basa kuat, atau dapat juga berperilaku sebagai basa dan menerima proton dari asam kuat. Perilaku ini dinyatakan dalam kesetimbangan berikut untuk asam amino dengan satu gugus amino dan satu gugus karboksil. Keadaan ion ini sangat tergantung pada pH larutan. Apabila larutan asam amino dalam air ditambah dengan basa, maka asam amino akan terdapat dalam bentuk (I) karena konsentrasi ion OH- yang tinggi mampu mengikat ion-ion H+ yang terdapat pada gugus -NH3+.


            (Ratna, 2009)
               Sebaliknya apabila ditambahkan asam ke dalam larutan asam amino, maka konsentrasi ion H+ yang tinggi mampu berikatan dengan ion –COO-, sehingga terbentuk gugus –COOH. Dengan demikian asam amino terdapat dalam  bentuk (II). Asam amino mengandung suatu gugus amino yang bersifat basa dan gugus karboksil yang bersifat asam dalam molekul yang sama. Suatu asam amino mengalami reaksi asam-basa internal yang menghasilkan suatu ion dipolar, yang juga disebut zwitterion (dari kata Jerman  zwitter, “hibrida”). Karena terjadinya muatan ion, suatu asam amino mempunyai banyak sifat garam. Tambahan pula, pKa suatu asam amino bukanlah pKa dari gugus –CO2H, melainkan dari gugus –NH3+. pKb bukan dari gugus amino yang bersifat basa, melainkan dari gugus –COO- yang bersifat basa sangat lemah (Dholy, 2010).
2.      Titik Isoelektrik dan Kelarutan Kasein.
                     Pada Zwitterion asam amino yang rantai sampingnya tak bermuatan, maka muatan positif dan negatif saling meniadakan, sehingga tak ada muatan bersih pada molekul. Setiap asam amino yang muatan positif dan negatifnya berimbang dikatakan berada pada titik isoelektrik. pH pada saat perimbangan ini terjadi disebut pH isoelektrik. Titik isoelektrik asam amino dengan rantai samping tak bermuatan terjadi di sekitar pH 7,0 pada larutan berair. Asam amino cenderung paling kurang larut pada titik isoelektriknya, karena muatan bersihnya nol (Lehninger, 1982).
                     Suatu asam amino netral, titik isoelektriknya yang terutama bergantung pada harga pKa dan pKb dari gugus –NH3+ dan –COO-, adalah sekitar 5,5 – 6,0. Sementara untuk asam amino asam berarti bahwa ada suatu gugus lain yang dapat berinteraksi dengan air. Suatu larutan air dari suatu asam amino asam jelas bersifat asam, dan ion asam aminonya mengemban muatan negatif. Diperlukan konsentrasi H+ lebih tinggi untuk memungkinkan asam amino asam sampai ke titik isoelektriknya daripada yang diperlukan untuk asam amino netral. Titik isoelektrik asam amino asam adalah berkisar pH = 3. Asam amino ini memiliki rantai samping berupa gugus karboksil (Ratna, 2009).
                     Sementara asam amino yang mengandung rantai samping dengan gugus amino merupakan suatu asam amino basa, mempunyai gugus amino kedua yang bereaksi dengan air membentuk suatu ion positif. Diperlukan ion-ion hidroksida untuk menetralkan asam amino basa dan untuk membawanya sampai ke titik isoelektriknya. Untuk asam amino basa titik isoelektriknya terletak di atas pH = 7 (Dholy, 2010).
3.      Penggaraman Protein (Salting Out).
                     Kebanyakan protein (terutama protein Globular) di dalam air akan membentuk koloid hidrofil. Karena itu, faktor pengendapan pengendapan koloid berlaku pula pada protein.  Pada percobaan ini kami menggunakan putih telur  sebagai sampel proteinnya. Protein-protein ini bersifat khas yaitu pada titik isoelektriknya menghasilkan larutan yang mantap dan tetap larut dalam air (Lehninger, 1982).
                     Biuret adalah senyawa dengan dua ikatan peptida yang terbentuk pada pemanasan dua mulekul urea. Ion Cu2+ dari preaksi Biuret dalam suasana basa akan berekasi dengan polipeptida atau ikatan-ikatan peptida berwarna ungu. Untuk percobaan penggaraman digunakan albumin telur ayam yang direaksikan dengan kristal amonium sulfat. Kristal amonium sulfat ini bertujuan untuk mengendapkan albumin yang disebabkan karena terjadinya penetralan partikel protein sekaligus dehidrasi. Dan setelah diperoleh campuran dalam keadaan jenuh, langkah selanjutnya adalah melakukan penyaring. Filtrat dan residu yang diperoleh diuji dengan menggunakan uji biuret (Ratna, 2009).




III.            Alat dan Bahan
                        Adapun alat dan bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah sebagai berikut :
       I.            Sifat mengion asam amino
Ø  Alat
1.      pH meter
2.      Gelas kimia  100 mL
3.      Pipet tetes
4.      Gelas ukur 25 mL
5.      Batang pengaduk
6.      Spatula
7.      Tissue
8.      Neraca digital
Ø  Bahan
1.      Padatan glisin
2.      Aquades
3.      Larutan NaOH 10%
4.      Larutan H2SO2 N
    II.            Titik isoelektrik dan kelarutan asam amino
Ø  Alat
1.      Pipet tetes
2.      Tabung reaksi
3.      Rak tabung reaksi
4.      Gelas ukur 10 mL
5.      Stopwatch
Ø  Bahan
1.      Larutan CH3COOH 0,01 M
2.      Larutan CH3COOH 0,1 M
3.      Larutan CH3COOH 1 M
4.      Aquades
5.      Larutan kasein – Na – asetat



 III.            Penggaraman protein (Salting – Out) 
Ø  Alat
1.      Gelas kimia 100 mL
2.      Kertas saring
3.      Batang pengaduk
4.      Spatula
5.      Corong
6.      Gelas aqua
7.      Erlenmeyer 100 mL
8.      Pipet tetes
9.      Tissue
Ø  Bahan
1.      Albumin telur ayam kampung
2.      Albumin telur bebek
3.      Kuning telur ayam kampung
4.      Kuning telur bebek
5.      Larutan CuSO4 2 %
6.      Larutan NaOH 0,1 N
7.      Kristal ammonium sulfat














IV.            Prosedur Kerja
                   Adapun prosedur kerja yang dilakukan pada percobaan ini adalah sebagai berikut :
A.    Sifat Mengion Asam Amino
Ø  Penambahan dengan larutan H2SO4 2 N
1.      Menimbang dengan teliti 400 mg padatan glisin dan melarutkan dengan 10 mL air suling di dalam sebuah gelas kimia.
2.      Menuang 10 ml air suling ke dalam gelas kimia yang lain
3.      Menambahkan dengan larutan H2SO4 2 N 10 tetes, untuk 10 tetes pertama, mengocok gelas kimia tiap-tiap satu tetes dan mengukur pH-nya setiap penambahan 1 tetes. Untuk 10 tetes selanjutnya, mengocoknya setiap penambahan 2 tetes, lalu mengukur pH-nya setiap penambahan 2 tetes.
4.      Menambahkan 4 tetes dan mengocoknya setiap penambahan 4 tetes hingga tercapai pH 1,2.
5.      Mencatat pH dan jumlah asam yang digunakan tiap kali penetesan asam.
Ø  Penambahan dengan larutan NaOH 10%
1.      Menimbang dengan teliti 400 mg padatan glisin dan melarutkan dengan 10 mL air suling di dalam sebuah gelas kimia.
2.      Menuang 10 ml air suling ke dalam gelas kimia yang lain
3.      Menambahkan dengan larutan NaOH 10 % sebanyak 10 tetes, untuk 10 tetes pertama, mengocok gelas kimia tiap-tiap satu tetes dan mengukur pH-nya setiap penambahan 1 tetes. Untuk 10 tetes selanjutnya, mengocoknya setiap penambahan 2 tetes, lalu mengukur pH-nya setiap penambahan 2 tetes.
4.      Menambahkan 4 tetes dan mengocoknya setiap penambahan 4 tetes hingga tercapai pH 12.
5.      Mencatat pH dan jumlah asam yang digunakan tiap kali penetesan asam.
B.     Titik isoelektrik dan kelarutan kasein
1.      Menyiapkan 9 buah tabung reaksi yang bersih dengan larutan sebagai berikut :
Nomor tabung
1
2
3
4
5
6
7
8
9
mL air suling

 Asam asetat 0,01 M

mL Asam asetat 0,1 M

mL Asam asetat 1 M
8,38

0,62


-


-
7,75

1,25


-


-
8,75




0,25


-
8,5




0,5


-
8




1


-
7




2


-
5




4


-
1




8


-



7,4




-


1,6
2.      Selanjutnya, ke dalam tiap tabung menambahkan masing-masing 1 ml larutan kasein yang ditiupkan dari pipet. Mengocok tabung segera. Mencatat kekeruhan yang terjadi segera setelah dikocok dan setelah 10 menit, dengan tanda sebagai berikut:
(-) = tidak terjadi kekeruhan sama sekali
(+/-) = kekeruhan tipis sekali
(+) = kekeruhan sedikit
(++) = kekeruhan lebih banyak
(+++) = kekeruhan paling banyak
3.      Menentukan titik isoelektrik kasein.
C.    Penggaraman protein (Salting – Out)
1.      Memasukkan 5 mL albumin telur ayam ras ke dalam gelas kimia dan menambahkan 4 gram kristal  ammonium sulfat.
2.      Mengaduk campuran tersebut kemudian menyaringnya sehingga terpisah antara filtrat dan residunya.
3.      Menambahakan 1 tetes larutan biuret pada filtratnya dan menambahkan 2 tetes larutan biuret pada residunya.
4.      Mengulangi langkah 1 – 3 dengan menggunakan albumin telur ayam kampung.








V.            Hasil Pengamatan
                        Adapun hasil pengamatan yang diperoleh dari percobaan ini yaitu sebagai berikut :
1.      Sifat Mengion Asam Amino
      A. Untuk penambahan asam
No
Perlakuan
pH
1.
















400 mg glisin + H2SO4 2 N
·      Untuk penambahan 10 tetes pertama
1 tetes
2 tetes
3 tetes
4 tetes
5 tetes
6 tetes
7 tetes
8 tetes
9 tetes
10 tetes
·      Untuk penambahan 10 tetes kedua
12 tetes
14 tetes
16 tetes
18 tetes
20 tetes
·      Untuk penambahan terakhir
24 tetes
5,36

3,46
3,22
3,04
2,92
2,82
2,72
2,62
2,54
2,44
2,38

2,20
2,02
1,84
1,70
1,54

1,26





            B. Untuk penambahan basa
No
Perlakuan
pH
1.















400 mg glisin + NaOH 10%
·      Untuk penambahan 10 tetes pertama
1 tetes
2 tetes
3 tetes
4 tetes
5 tetes
6 tetes
7 tetes
8 tetes
9 tetes
10 tetes
·      Untuk penambahan 10 tetes kedua
12 tetes
14 tetes
16 tetes
5,18

6,60
7,12
7,44
7,74
8,15
8,32
8,55
9,02
9,43
9,78

10,65
11,71
12,61

2.      Titik Isoelektrik dan Kelarutan Kasein.
Nomor tabung
1
2
3
4
5
6
7
8
9
mL Air suling
mL Asam asetat 0,01 M
mL Asam asetat 0,1 M
mL Asam asetat
pH larutan
Kelarutan segera
Kelarutan setelah 10 menit
8,38
0,62

-

-
5,9
-

-
7,75
1,25

-

-
5,6
-

-
8,75
-

0,25

-
5,3
-

-
8,50
-

0,5

-
5,0
-

+/- 
8,0
-

1,0

-
4,7
-

+/-
7,0
-

2,0

-
4,4
+/-

+
5,0
-

4,0

-
4,1
+/-

+
1,0
-

8,0

-
3,8
+/-

+
7,4
-

-

1,6
3,5
+

++
Keterangan    :
(-)        =  Tidak terjadi kekeruhan sama sekali
(+/-)     =  Kekeruhan tipis sekali
(+)       =  Kekeruhan sedikit
(++)     =  Kekeruhan lebih banyak
(+++)   =  Kekeruhan paling banyak
3.      Penggaraman Protein (SALTING – OUT )
            A. Telur Ayam Kampung
No.
Perlakuan
Hasil
1.
a.    5 ml putih telur
b.    5 ml putih telur + Ammonium sulfat (5 sendok spatula)
c.    5 ml putih telur + Ammonium sulfat + disaring
ü  Residu
1. Residu + 10 tetes CuSO4
2. Perlakuan 1 + 5 tetes NaOH
ü  Filtrat
1. Filtrat + 10 tetes CuSO4

2. Perlakuan 1 + 5 tetes NaOH
ü  Berwarna bening
ü  Larutan mengental, ammonium sulfat larut dan terdapat endapan.


ü  Endapan berwarna biru
ü  Endapan berwarna biru


ü  Terdapat 2 lapisan (biru diatas putih dibawah)
ü  Endapan berwarna biru dan terdapat gumpalan

a.    5 ml kuning telur
b.    5 ml kuning telur + 4 sendok spatula ammonium sulfat
c.    Perlakuan b + 10 tetes CuSO4
d.   Perlakuan d + 5 tetes NaOH

ü  Berwarna kuning dan kurang larut
ü  Berwarna kuning kental
ü  Berwarna hijau muda


B. Telur Bebek
No.
Perlakuan
Hasil
1.
a.    5 ml putih telur
b.    5 ml putih telur + Ammonium sulfat (5 sendok spatula)
c.    5 ml putih telur + Ammonium sulfat + disaring
ü  Residu
1. Residu + 10 tetes CuSO4
2. Perlakuan 1 + 5 tetes NaOH
ü  Filtrat
1. Filtrat + 10 tetes CuSO4
2. Perlakuan 1 + 5 tetes NaOH
ü  Berwarna bening
ü  Larutan mengental, berwarna bening dan larut


ü  Berwarna biru kehijauan
ü  Berwarna biru kehijauan



ü  Berwarna biru muda
ü  Berwarna biru pekat

a.    5 ml kuning telur
b.    5 ml kuning telur + 4 sendok spatula ammonium sulfat
c.    Perlakuan b + 10 tetes CuSO4

d.   Perlakuan d + 5 tetes NaOH

ü  Berwarna orange

ü  Larutan mengental dan berwarna orange
ü  Berwarna hijau muda









VI.            Pembahasan
                        Asam amino adalah sembarang senyawa organik yang memiliki gugus fungsional karboksil (-COOH) dan amina (biasanya -NH2). Dalam biokimia seringkali pengertiannya dipersempit: keduanya terikat pada satu atom karbon (C) yang sama (disebut atom C "alfa" atau α). Gugus karboksil memberikan sifat asam dan gugus amina memberikan sifat basa. Dalam bentuk larutan, asam amino bersifat amfoterik: cenderung menjadi asam pada larutan basa dan menjadi basa pada larutan asam (Dholy, 2010).
                        Protein merupakan polimer alami yang terdiri atas sejumlah unit asam amino yang berikatan satu dengan lainnya lewat ikatan amida (atau peptida). Jaring laba-laba, bulu hewan, dan otot, putih telur, dan hemoglobin (molekul yang mengangkut oksigen dalam tubuh ke tempat yang memerlukan) ialah beberapa contoh protein. Hidrolisa protein menghasilkan suatu campuran 20 asam amino ‘biasa’ ditambah satu atau lebih dari asam amino ‘kurang biasa’. Sebagian besar asam amino dalam organisme hidup adalah asam α-amino; yaitu fungsi amino yang terdapat pada atom karbon yang selanjutnya menjadi gugus fungsional asam karboksilat. Karena struktur dasar semua asam α-amino adalah sama, maka asam amino tertentu menetapkan identitasnya dengan sifat gugus rantai sampingnya (R). karena kerangka kovalen protein adalah tetap dan menyangkut fungsi karboksil asam amino dan amino, maka gugus R-lah yang memberi suatu kedudukan bagi sifat-sifat fisik dan kimianya di dalam rantai protein (Ratna, 2009).
                        Pada percobaan ini dilakukan pengujian terhadap sifat-sifat dari asam amino dan protein. Asam amino tidak selalu bersifat seperti senyawa-senyawa organik. Misalnya, titik lelehnya di atas 200oC, sedangkan kebanyakan senyawa organik dengan bobot molekul sekitar itu berupa cairan pada temperatur kamar.  Asam amino larut dalam air dan pelarut polar lain, tetapi tidak larut dalam pelarut nonpolar seperti dietil eter atau benzena. Asam amino juga mempunyai momen dipol yang besar, kurang bersifat asam dibandingkan sebagian besar asam karboksilat dan kurang basa dibandingkan sebagian besar asam amina (Tim Pengajar Biokimia, 2013).
1.      Sifat Mengion Asam Amino
                     Percobaan ini menggunakan aquades sebagai larutan pengkalibrasi. Pertama-tama dilakukan yaitu menimbang glisin sebanyak 400 mg kemudian melarutkannya dengan aquades sebanyak 10 mL dan memasukkannya ke dalam gelas kimia. Pada gelas kimia lainnya, memasukkan aquades sebanyak 10 mL. Kemudian menambahkan 10 tetes larutan H2SO4 2 N pada larutan glisin dimana tiap 1 tetes dilakukan pengocokkan hingga homogen dan mengukur pH-nya. Larutan H2SO4 2 N berfungsi untuk melihat bagaimana pengaruh asam terhadap glisin dan sistin. Selanjutnya, menambahkan lagi dengan 10 tetes larutan H2SO4 2 N, dimana tiap 2 tetesnya dilakukan pengocokan dan mengukur pH-nya. Sedangkan pada perlakuan terakhir menambahkan lagi 4 tetes kemudian mengocoknya, dimana panambahan ini dihentikan ketika sudah mencapai pH 1,2 (Tim Pengajar Biokimia, 2013).
                     Pada perlakuan selanjutnya yaitu menambahkan glisin yang telah ditimbang tadi dengan larutan NaOH dimana tiap 1 tetes dilakukan pengocokkan hingga homogen dan mengukur pH-nya. Selanjutnya, menambahkan lagi dengan 10 tetes larutan NaOH, dimana tiap 2 tetesnya dilakukan pengocokan dan mengukur pH-nya. Sedangkan pada perlakuan terakhir menambahkan lagi 4 tetes kemudian mengocoknya, dimana panambahan ini dihentikan ketika sudah mencapai pH 1,2.  (Lehninger, 1982).
                     Semua asam amino berrsifat amfolit, karena setidak-tidaknya mengandung satu gugus karboksil (asam) dan satu gugus amin (α-amino, basa). Selain itu, banyak asam amino yang mengandung gugus lain yang mudah mengion seperti imidazol, sulfuhidril, dan hidroksifenil, di samping gugus karboksil dan gugus amin. Karena itu, penambahan gugus-gugus tersebut dan adanya gugus amin terminal dan gugus karboksil pada asam amino akan mempengaruhi sifat ion asam amino. Selain itu, asam amino bersifat amfoterik, artinya berperilaku sebagai asam dan mendonasikan proton pada basa kuat, atau dapat juga berperilaku sebagai basa dan menerima proton dari asam kuat. Perilaku ini dinyatakan dalam kesetimbangan berikut untuk asam amino dengan satu gugus amino dan satu gugus karboksil. Keadaan ion ini sangat tergantung pada pH larutan (Ratna, 2009).
                     Asam amino mengandung suatu gugus amino yang bersifat basa dan gugus karboksil yang bersifat asam dalam molekul yang sama. Suatu asam amino mengalami reaksi asam-basa internal yang menghasilkan suatu ion dipolar, yang juga disebut zwitterion (dari kata Jerman  zwitter, “hibrida”). Karena terjadinya muatan ion, suatu asam amino mempunyai banyak sifat garam. Tambahan pula, pKa suatu asam amino bukanlah pKa dari gugus –CO2H, melainkan dari gugus –NH3+. pKb bukan dari gugus amino yang bersifat basa, melainkan dari gugus –COO- yang bersifat basa sangat lemah (Dholy, 2010).
2.      Titik Isoelektrik dan Kelarutan Kasein
                     Pada perlakuan ini yang dilakukan yaitu menentukan titik isoelektrik dan kelarutan kasein. Dimana kasein memiliki titik isoelektrik pada pH 4,6 – 4,7 artinya apabila kasein memiliki pH di atas atau di bawah pH tersebut maka kasein terlarut. Sedangkan apabila kasein berada pada range pH tersebut maka kasein akan mengendap/tidak larut. Yang pertama-tama dilakukan pada percobaan ini yaitu menyediakan 9 buah tabung reaksi yang diisi dengan larutan asam asetat dengan konsentrasi yang berbeda-beda. Lalu, kesembilan tabung reaksi tersebut ditambahkan dengan kasein. Berdasarkan hasil yang diperoleh, pada tabung 1, 2, 3 dan 4, 5 kekeruhan tipis sekali, pada tabung 6, 7, 8 kekeruhan sedikit dan tabung 9 kekeruhan paling banyak. Setelah itu menunggu kembali selama 10 menit untuk mengetahui titik isoelektriknya. Dan hasil tersebut, dapat diketahui bahwa titik isoelektrik terletak pada tabung reaksi 9 yaitu ditandai dengan kekeruhan paling banyak. Berdasarkan literatur, dikatakan bahwa asam amino cenderung paling kurang larut pada titik isoelektriknya, karena muatan bersihnya nol (Dholy, 2010).
                     Pada Zwitter ion asam amino yang rantai sampingnya tak bermuatan, maka muatan positif dan negatif saling meniadakan, sehingga tak ada muatan bersih pada molekul. Setiap asam amino yang muatan positif dan negatifnya berimbang dikatakan berada pada titik isoelektrik. pH pada saat perimbangan ini terjadi disebut pH isoelektrik. Titik isoelektrik asam amino dengan rantai samping tak bermuatan terjadi di sekitar pH 7,0 pada larutan berair. Asam amino cenderung paling kurang larut pada titik isoelektriknya, karena muatan bersihnya nol. Penambahan asam terhadap n membuat ion H+ dari asam tertarik ke terminal N pada kasein, dan kasien membuat NH2 menjadi bermuatan dan mulai bersifat basa (Ratna, 2009).
                     Sebagai tambahan untuk suatu asam amino netral, titik isoelektriknya yang terutama bergantung pada harga pKa dan pKb dari gugus –NH3+ dan –COO-, Sementara asam amino yang mengandung rantai samping dengan gugus amino merupakan suatu asam amino basa, mempunyai gugus amino kedua yang bereaksi dengan air membentuk suatu ion positif. Diperlukan ion-ion hidroksida untuk menetralkan asam amino basa dan untuk membawanya sampai ke titik isoelektriknya. Untuk asam amino basa titik isoelektriknya terletak di atas pH = 7 (Dholy, 2010).
3.      Penggaraman Asam Amino (Salting – Out)
                     Pada perlakuan selanjutnya yaitu melakukan penggaraman asam  amino (salting out). Protein dapat diendapkan atas dasar sifat-sifatnya seperti koloid. Kebanyakan protein (terutama protein Globular) di dalam air akan membentuk koloid hidrofil. Karena itu, faktor pengendapan pengendapan koloid berlaku pula pada protein. Pada percobaan ini menggunakan putih telur sebagai sampel proteinnya. Protein-protein ini bersifat khas yaitu pada titik isoelektriknya menghasilkan larutan yang mantap dan tetap larut dalam air (Ratna, 2009).
                     Pada percobaan ini  yang pertama-tama dilakukan yaitu memasukkan 5 mL albumin lalu direaksikan dengan 5 sendok spatula ammonium sulfat. Berdasarkan percobaan yang dilakukan, campuran menyatu/melarut dan semakin diaduk semakin membentuk koloid. Setelah itu menyaring dan menguji larutan tersebut. Filtrat dan endapannya kemudian diuji dengan biuret. Setelah diuji keduanya berubah menjadi berwarna biru. Dimana uji biuret bertujuan untuk mengetahui adanya ikatan peptida dalam suatu protein. Dimana hasil positifnya adalah terbentuknya larutan berwarna ungu. Namun, pada percobaan yang dilakukan tidak terbentuk warna ungu, melainkan yang timbul adalah warna biru. Hal ini menandakan bahwa protein albumin hanya mengandung sedikit ikatan peptida. Warna biru yang diperoleh berasal dari ion Cu2+ pada biuret. Biuret adalah senyawa dengan dua ikatan peptida yang terbentuk pada pemanasan dua mulekul urea. Ion Cu2+ dari preaksi Biuret dalam suasana basa akan berekasi dengan polipeptida atau ikatan-ikatan peptida berwarna ungu. Untuk percobaan penggaraman digunakan albumin telur ayam yang direaksikan dengan kristal amonium sulfat. Kristal amonium sulfat ini bertujuan untuk mengendapkan albumin yang disebabkan karena terjadinya penetralan partikel protein sekaligus dehidrasi (Lehninger, 1982).















VII.            Kesimpulan
                        Berdasarkan tujuan dan hasil pengamatan maka dapat ditarik kesimpulan dari percobaan ini adalah sebagai berikut :
1.      Asam amino mampu mengalami perubahan pH karena adanya ion karboksilat dan amina serta gugus R yang berlainan sehingga dengan penambahan beberapa asam ataupun basa akan merubah pH asam amino tersebut.
2.      Titik isoelektrik asam amino adalah titik dimana jumlah muatan negatif dinetralkan oleh muatan positif sehingga menjadi netral.
3.      Penambahan sejumlah garam tertentu ke dalam asam amino akan mengendapkan asam amino tersebut karena terjadi penetralan protein sekaligus dehidrasi.
























DAFTAR PUSTAKA

Dholy, Arif. 2010. Lipida. (http://arifdholy.wordpress.com).
               Diakses 2 Desember 2013.
Lehninger, Albert L. 1982. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta : Erlangga.
Ratna, dkk. 2009. Pengertian Lipida dan Jenis-Jenisnya.
               (http://chemistry.wordpress.com).  Diakases 2 Desember 2013.
Tim Pengajar Biokimia. 2013. Penuntun Praktikum Biokimia Dasar.

               Palu : Universitas Tadulako.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar