PERCOBAAN
IV
ENZIM
I.
Tujuan
Percobaan
Adapun tujuan
dari percobaan ini adalah untuk mempelajari pengaruh temperatur, derajat
keasaman (pH) dan konsentrasi substrat terhadap kerja aktivitas enzim.
II.
Dasar
Teori
Enzim berasal
dari bahasa Yunani “enzyme” yang berarti “di dalam sel”. Willy Kuchne
(1876) mendefinisikan enzim sebagai fermen (ragi) yang bentuknya tidak tertentu
dan tidak teratur, yang dapat bekerja tanpa adanya mikroba dan dapat bekerja di
luar mikroba. Definisi tersebut berubah setelah dilakukan penelitian lanjutan
oleh Buchner pada tahun 1897 (Budiarta, 2011).
Enzim merupakan
senyawa berstruktur protein yang dapat
berfungsi sebagai katalisator dan dikenal sebagai biokatalisator. Enzim
berperan sebagai katalisator yang mengkatalisis reaksi-reaksi kimia yang
terjadi dalam sistem biologis. Enzim dapat mengkatalisis sebuah reaksi yang
secara reaksi kimia biasa tidak mungkin terjadi dan seperti halnya katalisator
biasa, enzim juga tidak ikut bereaksi atau pun terurai menjadi produk reaksi
(Purnomo, 2011).
Enzim
dapat diperoleh dari sel-sel hidup dan dapat bekerja baik untuk reaksi-reaksi
yang terjadi di dalam sel maupun di luar sel. Pemanfaatan enzim untuk
reaksi-reaksi yang terjadi di luar sel Sekarang banyak diaplikasikan dalam
dunia industri seperti industri makanan, detergen, penyamakan kulit, kosmetik, dll. Pemanfaatan enzim dapat dilakukan secara
langsung menggunakan enzim hasil isolasi maupun dengan cara pemanfaatan
mikroorganisme yang dapat menghasilkan enzim yang diinginkan (Purnomo, 2011).
Enzim bekerja dengan cara bereaksi
dengan molekul substrat untuk menghasilkan senyawa intermediat melalui
suatu reaksi kimia organik yang membutuhkan energi aktivasi lebih
rendah, sehingga percepatan reaksi kimia terjadi karena reaksi kimia dengan
energi aktivasi lebih tinggi membutuhkan waktu lebih lama (Budiarta, 2011).
Aktivitas
katalitik suatu enzim pada prinsipnya adalah proses katalisis pemindahan
elektron, artom, atau gugus fungsional yang kesemuanya dapat dikelompokkan
dalam 6 kelas utama. Keenam kelompok enzim yang dikategorikan berdasarkan tipe
reaksinya, yaitu :
a. Oksidareduktase
: katalis reaksi redoks, substrat yang satu tereduksi sedangkan substrat yang
lain teroksidasi, yaitu reaksi pengikatan oksigen dan pelepasan hidrogen.
Contohnya adalah etanol dehidrogenase yang mengkatalisis reaksi oksidasi etanol
menjadi asetaldehida dengan bantuan kofaktor NAD. Elektron dalam bentuk
hidrogen yang dilepaskan oleh etanol diikat atau diterima oleh NAD, sehingga
terbentuklah NADH dan H+.
b. Transferase
: katalis reaksi pemindahan sebuah gugus fungsional dari satu substrat ke substrat
lainnya. Gugus fungsional yang dimaksud adalah gugus amino, asil, fosfat, gugus
satu karbon, gugus glikosil, dan sebagainya.
c. Hidrolase
: katalis reaksi hidrolisis suatu substrat. Golongan ini penting di dalam
mengkatalisis pemecahan molekul polimer seperti pati, pectin, protein, lipida,
asam nukleat dan sebagainya.
d. Lyase
: katalis reaksi eliminasi sebuah gugus dari substrat sehingga terbentuk ikatan
peptida. Golongan ini mengkatalisis reaksi penambahan atau pemindahan
gugus-gugus air, amonia atau CO2 dari suatu asam α-keto atau asam
amino. Enzim ini berperan penting di dalam metabolisme asam amino. Contohnya
adalah histidin dekarboksilase yang mengkatalisis pengubahan histidin menjadi
histamin.
e. Isomerase
: katalis reaksi isomerasi bentuk cis-trans, keto-enol, aldosa-ketosa, dan
sebagainya. Golongan yang mengkatalisis reaksi penyerahan karbon asimetris
dikenal sebagai epimerase atau rasemiase yang mengkatalisis pengubahan bentuk D
menjadi L.
f. Ligase
: katalis reaksi penggabungan dua molekul dengan bantuan ATP atau sumber energi
lainnya. Golongan ini sering dinamakan sebagai “sintetase”. Contohnya adalah
amino asil t-RNA sintetase, glutamine sintetase, piruvat karboksilase, dan
sebagainya (Tim Pembina Mata Kuliah, 2013).
Enzim
sebagai biokatalisator berstruktur protein dalam mekanisme kerjanya aktiitasnya
dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu antara lain, pH, Suhu, konsentrasi
substrat, konsentrasi enzim, kehadiran aktiator atau inhibitor (Budiarta,
2011).
a. pH
(Derajat Keasaman)
pH
merupakan salah satu faktor penting yang harus diperhatikan apabila kita
bekerja dengan enzim, hal ini dikarenakan enzim hanya mau dan mampu bekerja
pada kondisi pH tertentu saja. Suatu kondisi pH di mana enzim dapat bekerja
dengan aktivitas tertinggi yang dapat dilakukannya dinamakan dengan pH optimum.
Sebaliknya pada pH tertentu enzim sama sekali tidak lagi aktif atau bahkan
rusak. Hal ini dapat dijelaskan karna kita ketahui bahwa enzim merupakan
molekul protein, molekul protein kesetabilannya dapat dipengaruhi oleh tingkat
keasaman lingkungannya, pada kondisi keasaman yang ekstrim molekul-molekul
protein dari enzim akan rusak (Budiarta, 2011).
b. Suhu
/ Temperatur
Seperti
halnya oleh pH, aktivitas kerja enzim juga dipengaruhi oleh temperatur
lingkungan dimana ia bekerja. Seperti reaksi kimia biasa suhu biasanya dapat
mempercepat proses reaksi, namun demikian pada titik suhu tertentu kecepatan
reaksi yang dikatalisis oleh enzim akan mulai menurun bahkan aktivitasnya tidak
lagi nampak. Kondisi suhu di mana enzim dapat menghasilkan aktivitas tertinggi
dinamakan suhu atau temperatur optimum. Oleh karena enzim berstruktur protein,
sebagaimana kita ketahui bahwa protein dapat dirusak oleh panas, sehingga pada
suhu tinggi tertentu aktivitas enzim mulai menurun dan bahkan aktiitasnya
menghilang. Hal ini sangat dimungkinkan karena terjadinya denaturasi atau
kerusakan struktur protein oleh pengaruh panas. Panas yang berlebihan akan
menybabkan terjadinya kerusakan struktur enzim yang dapat menybabkan kerusakan
enzim baik secara keseluruhan maupun sebagian terutama sisi aktifnya (Purnomo,
2011).
c. Konsentrasi
Substrat
Reaksi-reaksi
biokimia yang diktalisis oleh enzim diperngaruhi pula oleh jumlah substrat.
Jika kita melakukan pengujian konsentrasi substrat dari rendah ke tingi
terhadap kecepatan reaksi enzimatis, maka pada awalnya akan diperoleh hubungan
kesebandingan yang menyatakan kecepatan reaksi akan mkeningkat seiring dengan meninkatnya
konsentrasi substrat, namun kemudian akan diperoleh data yang menyatakan pada
konsentrasi substrat tinggi tertentu kecepatan reaksi tidak lagi bertambah.
Pada kondisi ini konsentrasi substrat menjadi jenuh dan kecepatan reaksi
menjadi maksimum yang sering juga disebut sebaai kecepatan maksimum (Vmax). Hubungan
antara konsentrasi substrat dan kecepatan reaksi biasanya dinyatakan dengan
konstanta Michelis-Menten (Purnomo, 2011).
III.
Alat
dann Bahan
Adapun alat dan
bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu sebagai berikut :
1. Pengaruh
Temperatur
a. Alat
· Plat
tetes
· Gelas
kimia
· Pipet
tetes
· Tabung
reaksi
· Wadah
es batu
· Penangas
listrik
· Spektronik
20
· Kuvet
· Rak
tabung reaksi
· Stopwatch
· Tissue
· Gegep
b. Bahan
· Filtrat
toge
· Amilum
· Aquades
· Larutan
I2 0,01 N
· Es
batu
2. Pengaruh
pH
a. Alat
· Tabung
reaksi
· Rak
tabung reaksi
· Penangas
listrik
· Spektronik
20
· Stopwatch
· Gelas
ukur 25 mL
· Botol
semprot
· Penjepit
tabung reaksi
· Kuvet
· Tissue
· Kertas
label
b. Bahan
· Aquades
· Larutan
Iodine 1 %
· Larutan
Amilum 1 %
· Ekstrak
toge
· Larutan
Buffer Fosfat pH 5
· Larutan
Buffer Fosfat pH 6
· Larutan
Buffer Fosfat pH 7
· Larutan
Buffer Fosfat pH 8
· Larutan
Buffer Fosfat pH 9
3. Pengaruh
Konsentrasi Substrat
a. Alat
· Tabung
reaksi
· Rak
tabung reaksi
· Pipet
tetes
· Gelas
ukur 25 mL
· Penangas
liatrik
· Stopwatch
· Gelas
kimia
· Spektronik
20
· Kuvet
· Ertas
label
· Tissue
b. Bahan
· Larutan
Iodine 1 %
· Larutan
Buffer pH 7
· Aquades
· Filtrat
toge
· Larutan
Amilum 1%
IV.
Prosedur
Kerja
Adapun prosedur
kerja yang dilakukan pada percobaan berikut ini yaitu sebagai berikut :
1. Pengaruh
Temperatur
a. Menyiapkan
4 tabung reaksi yang bersih dan mengisi larutan amilum 1 % masing-masing
sebanyak 5 mL dan buffer fosfat pH 7,0 sebanyak 1 mL.
b. Mencelupkan
tabung pertama ke dalam ember yang berisi es batu, tabung kedua pada temperatur
kamar dan tabung ketiga pada suhu 50oC.
c. Masing-masing
menambahkan 10 tetes filtrat toge ke dalam tabung. Khusus tabung keempat
menambahkan ekstrak terlebih dahulu lalu memanaskannya ke dalam air mendidih.
Mengocok campuran selama 30 menit dengan selang watu 5 menit, kemudian
mengambil contoh dari masing-masing tabung dan mengetes pada plat tetes dengan
menggunakan larutan iodium.
d. Menentukan
kecepatan penguraian masing-masing tabung.
e. Mengukur
absorbansinya pada panjang gelombang 625 nm dengan menggunakan spektronik 20.
2. Pengaruh
pH
a. Menyiapkan
5 tabung reaksi yang bersih dan mengisi masing-masing 0,75 mL larutan buffer
dengan nilai pH yang tersedia.
b. Ke
dalam larutan buffer memasukkan 0,5 mL larutan amilum 1 %, dan menambahan5
tetes filtrat toge, kemudian mengocok campuran selama 5 menit dan mendiamkannya
pada suhu ruang selama 15 menit.
c. Memasukan
tabung yang berisi larutan kedalam penangas air mendidih selama 5 menit kemudian
menambahkan larutan iodium 0,01 N dan mengocok campuran. Mengamati dan mencatat
hasil pengamatan.
d. Mengukur
serapannya pada panjang gelombang 625 nm dengan menggunakan spektronik 20.
3. Pengaruh
substrat
a. Menyiapkan
5 buah tabung reaksi yang bersih, kemudian mengisi larutan mengikuti tabel
berikut :
|
No
Tabung
|
Vol.
amilum 0,2% (mL)
|
Vol.Aquades
(mL)
|
Vol.
Buffer pH 7 (mL)
|
|
1.
|
1
|
2
|
0,75
|
|
2.
|
1,5
|
1,5
|
0,75
|
|
3.
|
1,5
|
1,5
|
0,75
|
|
4.
|
1,5
|
1,5
|
0,75
|
|
5.
|
1,5
|
1,5
|
0,75
|
b. Menambahkan
pada masing-masing tabung sebanyak 5 tetes filtrate toge, mengocok campuran pada
suhu ruang selama 15 menit
c. Memasukkan
tabung berisi larutan ke dalam penangas air mendidih selama 15 menit, kemudian
menambahkan 1 tetes larutan iodium 1% dan mengocok campuran. Mengamati hasil
yang diperoleh
d. Mengukur
serapan masing-masing tabung pada panjang gelombang 625 nm dengan menggunakan
spektronik 20.
V.
Hasil
Pengamatan
Adapun hasil
pengamatan yang diperoleh pada percobaan ini yaitu sebagai berikut:
1. Pengaruh
temperatur
|
No
|
Perlakuan
|
Hasil
Pengamatan
|
|
1
|
Tabung
1 (temperatur dingin)
5 mL amilum 1 % + 5 mL Buffer Fosfat pH 7,0
+ didiamkan dalam es batu selama 5 menit + 10 tetes filtrattoge + dikocok
selama 30 menit.
Ø 5
menit (I) + 1 tetes I2
Ø 5
menit (II) + 1 tetes I2
Ø 5
menit (III) + 1 tetes I2
Ø 5
menit (IV) + 1 tetes I2
Ø 5
menit (V) + 1 tetes I2
Ø 5
menit (VI) + 1 tetes I2
Mengukur nilai
transmitannya
|
Larutan bening
Larutan keruh
Ungu kehitaman
Cokelat kehitaman
Cokelat tua
Cokelat muda
Cokelat kekuningan
Kuning kecoklatan
% T = 15 % / A = 0,82
|
|
2.
|
Tabung
II (temperatur kamar)
5
mL amilum 1 % + 5 mL Buffer Fosfat pH 7,0 + didiamkan pada suhu kamar selama
1 menit + 10 tetes filtrat toge + dikocok selama 30 menit.
Ø 5
menit (I) + 1 tetes I2
Ø 5
menit (II) + 1 tetes I2
Ø 5
menit (III) + 1 tetes I2
Ø 5
menit (IV) + 1 tetes I2
Ø 5
menit (V) + 1 tetes I2
Ø 5
menit (VI) + 1 tetes I2
Mengukur
nilai transmitannya
|
Larutan bening
Larutan keruh
Hitam kekuningan
Cokelat tua
Cokelat muda
Cokelat kekuningan
Kuning kecokelatan
Kuning
% T = 16 % / A = 0,80
|
|
3.
|
Tabung
III (temperatur panas)
5
mL amilum 1 % + 5 mL Buffer Fosfat pH 7,0 + dipanaskan pada suhu 50o
C selama 5 menit + 10 tetes filtrate toge + dikocok selama 30 menit.
Ø 5
menit (I) + 1 tetes I2
Ø 5
menit (II) + 1 tetes I2
Ø 5
menit (III) + 1 tetes I2
Ø 5
menit (IV) + 1 tetes I2
Ø 5
menit (V) + 1 tetes I2
Ø 5
menit (VI) + 1 tetes I2
Mengukur
nilai transmitannya
|
Larutan bening
Larutan keruh
Hitam keunguan
Cokelat kehitaman
Cokelat tua
Cokelat muda
Cokelat kekuningan
Kuning kecoklatan
% T = 34 % / A = 0,47
|
|
4.
|
Tabung
IV (pemanasan filtrat)
10
tetes filtrat toge dipanaskan pada suhu 50oC selama 5 menit + 5 mL
amilum + 5 mL buffer fosfat pH 7,0 + dikocok selama 30 menit.
Ø 5
menit (I) + 1 tetes I2
Ø 5
menit (II) + 1 tetes I2
Ø 5
menit (III) + 1 tetes I2
Ø 5
menit (IV) + 1 tetes I2
Ø 5
menit (V) + 1 tetes I2
Ø 5
menit (VI) + 1 tetes I2
Mengukur
nilai transmitannya
|
Filtrat mengendap
Larutan keruh
Ungu kehitaman
Cokelat kehitaman
Cokelat tua
Cokelat muda (+++)
Cokelat muda (++)
Cokelat muda (+)
% T = 11 % / A = 0,96
|
2.
Pengaruh pH
|
No.
|
Perlakuan
|
Hasil
|
|
1.
|
Tabung I
(0,75 mL larutan
Buffer pH 5 + 0,5 mL amilum)
Tabung II
(0,75 mL larutan
Buffer pH 6 + 0,5 mL amilum)
Tabung III
(0,75 mL larutan
Buffer pH 7 + 0,5 mL amilum)
Tabung IV
(0,75 mL larutan
Buffer pH 8 + 0,5 mL amilum)
Tabung V
(0,75 mL larutan
Buffer pH 9 + 0,5 mL amilum)
|
Larutan
bening
Larutan
bening
Larutan
bening
Larutan
bening
Larutan
bening
|
|
2.
|
Tabung I
(+3 tetes filtrat
toge + diocok selam 5 menit)
Tabung II
(+3 tetes filtrat
toge + diocok selam 5 menit)
Tabung III
(+3 tetes filtrat
toge + diocok selam 5 menit)
Tabung IV
(+3 tetes filtrat
toge + diocok selam 5 menit)
Tabung V
(+3 tetes filtrat
toge + diocok selam 5 menit)
|
Larutan
keruh
Larutan
keruh
Larutan
keruh
Larutan
keruh
Larutan
keruh
|
|
3.
|
Tabung I
(didiamkan selam 15
menit)
Tabung II
(didiamkan selam 15
menit)
Tabung III
(didiamkan selam 15
menit)
Tabung IV
(didiamkan selam 15
menit)
Tabung V
(didiamkan selam 15
menit)
|
Larutan
keruh
Larutan
keruh
Larutan
keruh
Larutan
keruh
Larutan
keruh
|
|
4.
|
Tabung I
(dipanaskan selama 5
menit)
Tabung II
(dipanaskan selama 5
menit)
Tabung III
(dipanaskan selama 5
menit)
Tabung IV
(dipanaskan selama 5
menit)
Tabung V
(dipanaskan selama 5
menit)
|
Terdapat
endapan
Terdapat
endapan
Terdapat
endapan
Terdapat
endapan
Terdapat
endapan
|
|
5.
|
Tabung I
(+ iodin 0,01 N)
Tabung II
(+ iodin 0,01 N)
Tabung III
(+ iodin 0,01 N)
Tabung IV
(+ iodin 0,01 N)
Tabung V
(+ iodin 0,01 N)
|
Larutan
berwarna biru tua
Larutan
keruh (+)
Larutan
keruh (+++)
Larutan
keruh (++)
Larutan
keruh (++++)
|
|
6.
|
Tabung I
(diukur pada )
Tabung II
(diukur pada )
Tabung III
(diukur pada )
Tabung IV
(diukur pada )
Tabung V
(diukur pada )
|
57
%
64
%
81
%
86
%
85
%
|
3.
Pengaruh
konsentrasi substrat
Perlakuan
ke-1
|
No.
|
Perlakuan
|
Hasil
|
|
1.
|
Tabung
I
1 mL amilum 0,2 % + aquades 2 mL + 0,75 mL larutan
buffer pH 7
+ 5 tetes filtrat toge (dikocok selama 15 menit)
Dipanaskan selama 5 menit + 1 tetes iodium 1 %
(dikocok)
Serapan panjang gelombang 625 nm
|
Bening
Larutan
keruh
Larutan
bening
T
= 79 %
A
= 0,10
|
|
2.
|
Tabung II
1,5 mL
amilum 0,12 % + aquades 1,5 mL + 0,75 mL larutan buffer pH 7
+ 5 tetes filtrat toge (dikocok selama 15 menit)
Dipanaskan selama 5 menit + 1 tetes iodium 1 %
(dikocok)
Serapan panjang
gelombang 625 nm
|
Bening
Keruh
Bening
T
= 77 %
A
= 0,11
|
|
3.
|
Tabung III
1,5 mL
amilum 0,12 % + aquades 1,5 mL + 0,75 mL larutan buffer pH 7
+ 5 tetes filtrat toge (dikocok selama 15 menit)
Dipanaskan selama 5 menit + 1 tetes iodium 1 %
(dikocok)
Serapan panjang
gelombang 625 nm
|
Bening
Keruh
Bening
T
= 81 %
A
= 0,09
|
|
4.
|
Tabung IV
1,5 mL
amilum 0,12 % + aquades 1,5 mL + 0,75 mL larutan buffer pH 7
+ 5 tetes filtrat toge (dikocok selama 15 menit)
Dipanaskan selama 5 menit + 1 tetes iodium 1 %
(dikocok)
Serapan panjang
gelombang 625 nm
|
Bening
Keruh
Bening
T
= 72 %
A
= 0,14
|
|
5.
|
Tabung V
1,5 mL
amilum 0,12 % + aquades 1,5 mL + 0,75 mL larutan buffer pH 7
+ 5 tetes filtrat toge (dikocok selama 15 menit)
Dipanaskan selama 5 menit + 1 tetes iodium 1 %
(dikocok)
Serapan panjang
gelombang 625 nm
|
Bening
Keruh
Bening
T
= 75 %
A
= 0,12
|
Perlakuan
ke-2
|
No.
|
Perlakuan
|
Hasil
|
|
1.
|
Tabung I
1 mL amilum 0,2 % + 2
mL aquades + 0,75 mL larutan Buffer pH 7
+ 5 tetes filtrat
toge (dikocok selama 15 menit)
Dipanaskan selama 5
menit + 1 tetes iodium 1 % (dikocok)
Serapan panjang
gelombang pada 625 nm
|
Bening
Larutan
keruh
Bening
T
= 78 %
A
= 0,10
|
|
2.
|
Tabung II
1,5 mL amilum 0,2 % +
1,5 mL aquades + 0,75 mL larutan Buffer pH 7
+ 5 tetes filtrat
toge (dikocok selama 15 menit)
Dipanaskan selama 5
menit + 1 tetes iodium 1 % (dikocok)
Serapan panjang
gelombang pada 625 nm
|
Bening
Keruh
Bening
T
= 56 %
A
= 0,25
|
|
3.
|
Tabung III
1,5 mL amilum 0,2 % +
1 mL aquades + 0,75 mL larutan Buffer pH 7
+ 5 tetes filtrat
toge (dikocok selama 15 menit)
Dipanaskan selama 5
menit + 1 tetes iodium 1 % (dikocok)
Serapan panjang
gelombang pada 625 nm
|
Bening
Keruh
Bening
T
= 38 %
A
= 0,42
|
|
4.
|
Tabung IV
2,5 mL amilum 0,2 % +
0,5 mL aquades + 0,75 mL larutan Buffer pH 7
+ 5 tetes filtrat
toge (dikocok selama 15 menit)
Dipanaskan selama 5
menit + 1 tetes iodium 1 % (dikocok)
Serapan panjang
gelombang pada 625 nm
|
Bening
Keruh
Bening
T
= 54 %
A
= 0,26
|
|
5.
|
Tabung V
3 mL amilum 0,2 % + 2
mL aquades + 0,75 mL larutan Buffer pH 7
+ 5 tetes filtrat
toge (dikocok selama 15 menit)
Dipanaskan selama 5
menit + 1 tetes iodium 1 % (dikocok)
Serapan panjang
gelombang pada 625 nm
|
Bening
Keruh
Bening
T
= 75 %
A
= 0,12
|
VII.
Pembahasan
Enzim berasal
dari bahasa Yunani “enzyme” yang berarti “di dalam sel”. Willy Kuchne
(1876) mendefinisikan enzim sebagai fermen (ragi) yang bentuknya tidak tertentu
dan tidak teratur, yang dapat bekerja tanpa adanya mikroba dan dapat bekerja di
luar mikroba. Definisi tersebut berubah setelah dilakukan penelitian lanjutan
oleh Buchner pada tahun 1897 (Budiarta, 2011).
Enzim merupakan
senyawa berstruktur protein yang dapat
berfungsi sebagai katalisator dan dikenal sebagai biokatalisator. Enzim
berperan sebagai katalisator yang mengkatalisis reaksi-reaksi kimia yang
terjadi dalam sistem biologis. Enzim dapat mengkatalisis sebuah reaksi yang
secara reaksi kimia biasa tidak mungkin terjadi dan seperti halnya katalisator
biasa, enzim juga tidak ikut bereaksi atau pun terurai menjadi produk reaksi
(Purnomo, 2011).
Adapun tujuan
dari percobaan ini adalah untuk mempelajari pengaruh temperatur, derajat
keasaman (pH) dan konsentrasi substrat terhadap kerja aktivitas enzim (Tim Pembina
Mata Kuliah, 2011).
1.
Pengaruh
Temperatur
Perlakuan
pertama dalam percobaan ini adalah mengamati pengaruh temperatur atau suhu
terhadap kerja enzim dalam sampel toge. Secara teoritis, pada temperatur
optimal menyebabkan aktivitas enzim berlangsung secara maksimal. Aktivitas
enzim akan menurun apabila berada di bawah atau di atas temperatur optimumnya
(Tim Dosen Mata Kuliah, 2013).
Pertama-tama
yaitu menyiapkan 4 buah tabung reaksi yang bersih dan kering yang kemudian
memasukan larutan amilum 0,1 % sebanyak 5 mL ke dalam masing-masing tabung
reaksi I, II, III dan menambahkan buffer fosfat pH 7 sebanya 5 mL. Hasil yang
diperoleh larutan bening. Amilum merupakan substrat untuk enzim yang akan
bekerja. Sedangkan buffer fospat digunakan untuk mempertahankan pH larutan,
sehingga pH larutan tidak mengalami perubahan karena harga pH suatu larutan dapat
mempengaruhi kerja enzim (Tim Dosen Mata Kuliah, 2013).
Untuk tabung I
didiamkan dalam es batu selama 5 menit. Tujuannya untuk meminimalisirkan kerja
enzim. Untuk tabung II mendiamkannya pada suhu kamar selama 1 menit yang bertujuan
untuk mengoptimalkan kerja enzim. Sedangkan untuk tabung III memanaskannya pada
suhu 50oC selama 5 menit. Hasil yang diperoleh dari ketiga tabung
tersebut sama, yaitu larutan menjadi keruh. Kemudian menambahkan 10 tetes
filtrat toge ke dalam ketiga tabung reaksi tersebut. Khusus tabung keempat,
ekstrak toge sebanyak 10 tetes ditambahkan terlebih dahulu kemudian memanaskannya
dalam air bersuhu 50oC selama 5 menit hingga didapatkan filtrat yang
mengendap (Tim Dosen Mata Kuliah, 2013).
Kemudian
melakukan pengocokan selama 30 menit. Pengocokan ini bertujuan untuk
menghomogenkan campuran dan memaksimalkan kerja enzim. Setelah selang 5 menit menguji
sampel pada masing-masing tabung pada plat tetes dengan menggunakan larutan
iodine. Penambahan larutan iodine berfungsi untuk melihat adanya amilum yang
belum mengalami penguraian oleh enzim dalam sampel (Tim Dosen Mata Kuliah,
2013).
Hasil pengamatan
terhadap perubahan warna yang terjadi, diperoleh pada tabung I untuk setiap
selang waktu 5 menit sampai pengocokkan selama 30 menit secara berurutan adalah
larutan berwarna ungu kehitaman, cokelat kehitaman, cokelat tua, coelat muda,
cokelat kekuningan dan kuning kecoklatan. Untuk tabung II adalah hitam
kekuningan, cokelat tua, cokelat muda, cokelat kekuningan, kuning kecokelatan
dan kuning. Untuk tabung II adalah hitam keunguan, cokelat kehitaman, cokelat
tua, cokelat muda, coelat kekuninga dan kuning kecokelatan. Sedangkan untuk
tabung IV adalah ungu kehitaman, cokelat kehitaman, cokelat tua, cokelat muda
(+++), cokelat muda (++) dan cokelat muda (+)(Tim Dosen Mata Kuliah, 2013).
Berdasarkan
hasil pengamatan, untuk waktu pengocokkan 5 menit, terlihat bahwa campuran pada
setiap tabung mengalami perubahan warna, untuk tabung I campuran menjadi
berwarna ungu kehitaman, tabung II campuran menjadi berwarna ungu kebiruan,
tabung III campuran menjadi berwarna ungu kecoklatan dan tabung IV campuran menjadi
berwarna ungu kehitaman (Budiarta, 2011).
Setelah mencapai
30 menit, kemudian mengukur masing-masing absorbansi dari keempat tabung
tersebut dengan menggunakan instrumen spektronik 20. Akan tetapi sebelum mengukur
absorbansinya, terlebih dahulu menambahkan larutan Iodin ke dalam sampel.
Penambahan iodin ini bertujuan untuk melihat adanya amilum pada sampel yang
ditandai dengan berubahnya warna sampel. Sampel yang ada diukur absorbansinya
menggunakan spektronik 20 dengan panjang gelombang 625 nm karena pada panjang
gelombang ini warna biru komplementer yang merupakan hasil reaksi dari amilum
dan iodine dapat terserap, sehingga transmitan (T) dari setiap sampel pada
masing-masing tabung reaksi dapat terbaca. Jika masih terbentuk warna biru
kehitaman pada sampel maka dalam sampel tersebut masih terdapat amilum,
sehingga ketika serapannya diukur pada spektronik 20 serapannya bernilai besar.
Semakin besar nilai absorbansi (serapan) maka enzim pada sampel tersebut tidak
bekerja maksimal kerena masih ada amilum yang bereaksi dengan iodine (Tim Dosen
Mata Kuliah, 2013).
Setelah melakukan
pengukuran serapan pada panjang gelombang 625 nm dapat diperoleh nilai
absorbansinya yaitu pada tabung I sebesar 0,82, pada tabung II sebesar 0,80,
pada tabung III diperoleh 0,47 dan pada tabung IV diperoleh nilai absorbansinya
0,96 (Purnomo, 2011).
Berdasarkan
percobaan tersebut, maka dapat diketahui bahwa amilum tersebut telah
terhidrolisis atau terurai menjadi asam-asam amino penyusunnya. Sedangkan perubahan warna yang
terjadi secara perlahan-lahan dan dengan kecepatan yang berbeda-beda untuk
setiap sampel menunjukkan bahwa pada saat itu amilum tersebut belum terurai
sempurna menjadi asam amino penyusunnya (Budiarta, 2011).
Sesuai dengan
literatur bahwa enzim rata-rata bekerja pada suhu optimum sekitar 30-40 oC,
jika diatas suhu tersebut, maka enzim akan terdenaturasi (rusak) sehingga tidak
bekarja lagi dan begitu pula jika enzim bekerja dibawah suhu optimumnya, maka
enzim tidak akan bekerja (Budiarta, 2011).
2.
Pengaruh
pH
Pada perlakuan
ini pertama menyiapkan 5 buah tabung reaksi yang bersih dan kering. Kemudian
mengisinya dengan 0,75 mL larutan buffer pH 5pada tabung I, buffer pH 6 pada
tabung II, buffer pH 7 pada tabung III, buffer 8 pada tabung IV dan buffer 9
pada tabung V dan menambahkan 10 tetes amilum pada masing-masing tabung. Hasil
yang diperoleh dari tabung I, tabung II, tabung III, tabung IV dan tabung V adalah
sama, yaitu larutan bening. Penambahan larutan buffer ini bertujuan untuk
menjaga agar pH dari tiap larutan yang ada dalam 5 tabung reaksi tersebut
relatif tetap sesuai dengan yang diharapkan (Tim Dosen Mata Kuliah, 2013).
Kemudian
menambahkan 3 tetes filtrat toge dan mengocoknya selama 5 menit dan hasil yang
diperoleh untuk masing-masing tabung sama, yaitu larutan keruh. Selanjutnya
mendiamkannya selama 15 menit. Setelah 15 menit berlalu, memanaskan kelima
tabung tersebut selama 5 menit dan hasil yang dieperoleh terbentuk endapan.
Setelah terbentuk endapan, kemudian menambahkan larutan Iodium 0,01 N dan
terjadi perubahan yang sedikit berbeda, dimana pada tabung I larutan berwarna
biru pekat, pada tabung II larutan keruh (+), pada tabung III larutan keruh
(+++), pada tabung IV larutan keruh (++) dan pada tabung IV larutan keruh
(++++) (Tim Dosen Mata Kuliah, 2013).
Selanjutnya
melakukan pengukuran panjang gelombang untuk setiap larutan dalam kelima tabung
tersebut, dimana serapan panjang gelombangnya adalaha 625 nm. Hasil
percobaan yang diperoleh, menunjukan
bahwa enzim amilase memiliki pH optimal
pada pH 8, karena pada pH ini diperoleh aktivitas enzim yang tinggi (kecepatan
reaksi enzimatik tinggi). Parameter yang digunakan adalah nilai
absorbannya.Umumnya, kecepatan reaksi enzimatik meningkat hingga mencapai pH
optimal dan menurun setelah pH lebih besar dari pH optimal (Tim Dosen Mata
Kuliah, 2013).
Pada pH 5 dan 6,
dan 7 kerja enzim sangat tidak begitu
optimal. Hal ini terlihat pada nilai absorbannya yaitu: 0,24; 0,19 dan 0,09.
Hal ini disebabkan pada pH kurang dari 8, enzim amilase menjadi tidak aktif. Sedangkan Pada pH 9,
aktivitas enzim menurun karena telah terlewati pH optimal dari enzim tersebut
(Budiarta, 2011).
Pengaruh pH
terhadap aktivitas enzim adalah untuk enzim amilase, anzim bekerja secara
maksimum pada pH basa, yaitu pH 9. Sedangkan pH asam dan netral kualitas enzim
berkurang. Jia dibandingan dengan literatur, dimana pengaruh pH berbanding
lurus dengan aktivitas enzim (Budiarta, 2011).
3.
Pengaruh
Konsentrasi Substrat
Pada perlakuan
ini bertujuan melihat pengaruh konsentrasi substrat terhadap aktivasi enzim. Pertama-tama
yaitu menyiapkan 5 buah tabung reaksi yang bersih dan ering. Kemudian pada
tabung I memasukkan 1 mL amilum 0,1 % dan menambahkannya dengan 2 mL aquades
dan kemudian menambahkan lagi larutan buffer pH 7 sebanyak 0,75 mL dan hasil
yang diperoleh larutan bening (Tim Dosen Mata Kuliah, 2013).
Kemudian
menambahkan 5 tetes filtrat toge sambil mengocoknya selama 15 menit dan larutan
menjadi keruh. Selanjutnya memanaskannya selama 5 menit dengan menambahan 1
tetes iodium 1 % dan mengocoknya. Hasil yang diperoleh larutan bening.
Perlakuan selanjutnya mengukur nilai transmitan dan absorbansinya menggunaan spektronik
20 dengan serapan 625 nm (Tim Dosen Mata Kuliah, 2013).
Alasan digunakan
serapan 625 nm adalah karena sampel akan terserap dan memberikan nilai panjang
gelombang maksimal pada daerah tersebut. Adapun hasil yang diperoleh
transmitannya sebesar 79 % dan absorbansinya 0,10 (Tim Dosen Mata Kuliah,
2013).
Pada tabung II,
III, IV dan IV prosesnya sama seperti pada tabung I namun volume amilum yang
digunakan lebih sedikit, yaitu 1,5 mL dan aquades dengan volume 1,5 mL, dimana
hasil yang diperoleh untu setiap perlakuan sama dengan tabung I. Sedangan nilai
transmitan tabung II, III, IV dan V adalah 77 %, 81 %, 72 % dan 75 %. Sedangan
nilai absorbansinya adalah 0,11; 0,09; 0,14 dan 0,12 (Tim Dosen Mata Kuliah,
2013).
Pengaruh
konsentrasi substrat terhadap aktivitas enzim adalah semakin tinggi konsentrasi
substrat, maka semakin rendah kinerja enzim (Purnomo, 2011).
VIII. Kesimpulan
Adapun
kesimpulan yang dapat ditarik dari percobaan ini yaitu sebagai berikut:
1. Pengaruh
temperatur padaativitas enzim adalah semakin tinggi suhu, maka kualitas erja
enzim semakin berkurang, dimana enzim beerja optimal pada suhu 30-40oC.
2. Pengaruh
pH terhadap aktivitas enzim adalah untuk enzim amilase, anzim bekerja secara
maksimum pada pH basa, yaitu pH 9. Sedangkan pH asam dan netral kualitas enzim
berkurang. Jia dibandingan dengan literatur, dimana pengaruh pH berbanding
lurus dengan aktivitas enzim.
3. Pengaruh
konsentrasi substrat terhadap aktivitas enzim adalah semakin tinggi konsentrasi
substrat, maka semakin rendah kinerja enzim.
DAFTAR PUSTAKA
Diakses pada tanggal 18 Desember 2013.
Tim Pembina Mata
Kuliah. 2013. Teori dan Penuntun
Praktikum Biokimia. Palu: UNTAD-Press.