KARAKTERISTIK UNSUR-UNSUR HALOGEN
I.
Tujuan
Adapun
tujuan dari percobaan ini adalah mahasiswa dapat mempelajari sifat-sifat unsur
halogen dan senyawanya.
II.
Waktu & Tempat Pelaksanaan
Waktu
: Selasa, 04, 2012 (13.30 – Selesai)
Tempat : Laboratorium Pendidikan Kimia FKIP
UNTAD
III.
Hasil
Pengamatan
Adapun hasil pengamatan yang diperoleh
dalam percobaan ini adalah sebagai berikut :
|
NO
|
NAMA
|
PERLAKUAN
|
HASIL
|
|
1.
2.
|
Pembuatan
Unsur Halogen
Uji
Sifat Unsur- Unsur halogen
|
Padatan KMnO4
+ HCl pekat
Uji kertas
saring (NaOH + Indikator phenolpthalein)
Padatan MnO2
+ HCl Pekat
Uji kertas
saring (NaOH + Indikator phenolpthalein)
Tabung 1
·
AgNO3 + KF
·
Tabung 2
·
AgNO3 + KCl
·
AgNO3 + KCl + NH4OH
·
Tabung 3
·
AgNO3 +
KBr
·
AgNO3 +
KBr + NH4 pekat
·
Tabung 3 dibagi 2:
·
Tabung 3 (I)
·
AgNO3 +
KBr + NH4 pekat + Na2S2O3
·
Tabung 3 (II)
·
AgNO3 +
KBr + NH4 pekat + KSCN
·
Tabung 4
·
AgNO3 + KI
·
Tabung 4 dibagi 2:
·
Tabung 4 (I)
·
AgNO3 + KI
+ KSCN
· AgNO3
+ KI + CuSO4
· Tabung
5
· FeCl3 + NaOH
· FeCl3 + NaOH + KF
· FeCl3
+ NaOH + KF + CHCl3
· Tabung
6
· FeCl3 + NaOH
· FeCl3 + NaOH + KCl
· FeCl3
+ NaOH + KCl + CHCl3
· Tabung
7
· FeCl3 + NaOH
· FeCl3 + NaOH +
KBr
· FeCl3
+ NaOH + KBr+ CHCl3
· Tabung
8
· FeCl3 + NaOH
· FeCl3 + NaOH + KI
· FeCl3
+ NaOH + KI + CHCl3
|
Padatan bercampur dengan larutan
HCl berwarna hitam dan terbentuk gas Cl2.
Warna ungu pada kertas saring
menghilang dengan cepat.
Padatan bercampur dengan larutan
HCl berwarna hitam dan terbentuk gas Cl2.
Warna ungu pada kertas saring
menghilang dengan lambat.
Bening, (tidak terbentuk endapan)
Keruh, terbentuk endapan putih
(+)
Endapan berkurang
Terbentuk endapan putih kehijauan
Keruh, endapannya berkurang
Bening, endapannya lebih larut
Bening, endapannya lebih larut
Terbentuk endapan putih kehijauan
(+++)
Larutan berwarna bening, endapan
larut
Terbentuk endapan merah
kecoklatan
Larutan berwarna Orange dan Terbentuk endapan
Terdapat 2 lapisan.
Lapisan pertama berwarna bening
dan lapisan bawah terdapat endapan berwarna orange
Terdapat 3 lapisan.
Lapisan pertama berwarna
bening, lapisan tengah terdapat
endapan berwarna orange dan lapisan bawah terdapat kloroform, terbentuk gas F2
Larutan berwarna Orange dan Terbentuk endapan
Terdapat 2 lapisan.
Lapisan pertama berwarna bening
dan lapisan bawah terdapat endapan berwarna orange
Terdapat 3 lapisan.
Lapisan pertama berwarna
bening, lapisan tengah terdapat
endapan berwarna orange dan lapisan bawah terdapat kloroform, terbentuk gas
Cl2
Larutan berwarna Orange dan Terbentuk endapan
Terdapat 2 lapisan.
Lapisan pertama berwarna bening
dan lapisan bawah terdapat endapan berwarna orange
Terdapat 3 lapisan.
Lapisan pertama berwarna
bening, lapisan tengah terdapat
endapan berwarna orange dan lapisan bawah terdapat kloroform, terbentuk gas
Br2
Larutan berwarna Orange dan Terbentuk endapan
Terdapat 2 lapisan.
Lapisan pertama berwarna bening
dan lapisan bawah terdapat endapan berwarna orange
Terdapat 3 lapisan.
Lapisan pertama berwarna
bening, lapisan tengah terdapat
endapan berwarna orange dan lapisan bawah terdapat kloroform, terbentuk gas I2
|
IV.
Persamaan
Reaksi
A. Pembuatan
Unsur Halogen
1. -
MnO2(s) + 4H+ +
—–>
Mn2+ + 2H2O(aq)
2Cl- —–> Cl2(g) +
2Cl- —–> Cl2(g) +
________________________________________________________________________
MnO2
+ 2Cl- + 4H+
—–> Mn2+
+ 2H2O(aq)
+ Cl2(g)
-
MnO4- + 8H+ + 5e- —–> Mn2+
+ 4H2O(aq) ( x 2)
2Cl- —–> Cl2(g) + 2e- ( x 5)
2Cl- —–> Cl2(g) + 2e- ( x 5)
2MnO4- + 16H+ +
—–> 2Mn2+
+ 8H2O(aq)
10Cl- —–> 5Cl2(g) +
10Cl- —–> 5Cl2(g) +
__________________________________________________
2MnO4- + 16H+ + 10Cl- —–>
2Mn2+ + 8H2O(aq)
+ 5Cl2(g)
B. Uji
Unsur-Unsur Halogen
2. - AgNO3(aq) + KF(aq) —> AgF(l)
+ KNO3(aq)
- AgNO3 (aq) + KCl(aq) —> + KNO3(aq)
- AgNO3 (aq) + KCl(aq) —> + KNO3(aq)
endapan putih
- AgNO3 (aq) + KCl(aq) + NH4OH —>
+ KOH + NH4NO3(aq)
endapan putih
- AgNO3(aq) + KBr(aq) —> + KNO3(aq)
endapan putih kehijauan
- AgNO3(aq) + KBr(aq) + NH4 (aq)
—>
- AgNO3(aq) + KBr(aq) + NH4(aq) +
Na2S2O3(aq) —>
- AgNO3(aq) + KBr(aq) + NH4(aq) +
KSCN(aq) —>
- AgNO3(aq) + KI(aq) —> AgI(s) + KNO3(aq)
- AgNO3(aq) + KI(aq) + KSCN(aq) —>
AgI(s)
+ K2NO3(aq)
+ SCN-
- 2AgNO3(aq) + 2KI(aq) + CuSO4(aq) —> 2AgI(s)
+ K2SO4(aq)
+ Cu(NO3-)
- FeCl3(aq) + 3NaOH(aq) —> Fe(OH)3(s)
+ 3NaCl(aq)
- Fe3+ + 3NaOH(aq) —> Fe(OH)3(s) + 3Na+(aq)
- Fe3+ + 3NaOH(aq) —> Fe(OH)3(s) + 3Na+(aq)
- Fe(OH)3(s) + 3KF(aq) +
CHCl3(aq
- Fe(OH)3(s) + 3 KBr(aq) + CHCl3(aq)
-Fe(OH)3(s) + 3 KCl(aq) + CHCl3 (aq)
- Fe(OH)3(s) + 3KI(aq) —> FeI3(aq) + 3KOH(aq)
-Fe(OH)3(s) + 3 KCl(aq) + CHCl3 (aq)
- Fe(OH)3(s) + 3KI(aq) —> FeI3(aq) + 3KOH(aq)
V. Pembahasan
Unsur-unsur golongan
7A, halogen- fluorin (F), khlorin (Cl), bromin (Br), dan iodine (I) (astatine,
At, juga unsur golongan halogen tetapi unsur ini jarang dan bersifat
radioaktif, sehingga unsur ini sering diabaikan), di alam tidak pernah
ditemukan dalam keadaan bebas karena kereaktifan mereka yang tinggi. Nama
halogen berasal dari bahasa Yunani halos yang
berarti garam. Konfigurasi elektron terluar dari halogen adalah ns2np5, dimana n rentangan dari 2 hingga 6. Unsur-unsur
halogen mempunyai afinitas elektron yang besar dan mereka mencapai konfigurasi
gas-mulia dengan memperoleh sebuah elektron yang menghasilkan tahana oksidasi
-1 (Tim dosen Kimia Dasar II, 2011).
Dalam percobaan ini, ada 2 hal yang
dipercobakan, yaitu pembuatan unsur halogen dan uji sifat unsur-unsur halogen.
Tujuan dari percobaan ini adalah agar mahasiswa dapat mempelajari sifat-sifat
unsur halogen dan senyawanya.
Pembuatan Unsur
Halogen
Pada
percobaan ini, ada beberapa langkah yang
dilakukan. Langkah pertama adalah
menyiapkan 2 buah tabung reaksi yang akan digunakan dalam percobaan ini.
Tabung pertama diisi dengan padatan MnO2 dan larutan HCl pekat,
kemudian ditutupi dengan kertas saring yang telah ditetesi larutan NaOH 0,001 M
dan larutan indikator phenolphthalein pada bagian tengahnya. Adapun hasil yang
diperoleh adalah larutan berwarna hitam, terbentuk gas, dan warna ungu pada
kertas saring menghilang. Demikian pula halnya dengan tabung kedua. Dimana pada
tabung kedua, bahan yang direaksikan adalah padatan KMnO4 dengan
larutan HCl pekat. Hasil yang diperoleh sama dengan hasil yang diperoleh pada
tabung pertama, yaitu larutan berwarna hitam, terbentuk gas, dan warna ungu
pada kertas saring menghilang. Warna ungu pada kertas saring ini disebabkan
karena setelah ditetesi larutan NaOH
0,001 M, kertas saring tersebut ditetesi lagi dengan indikator PP, dan warnanya
berubah menjadi ungu. Hal ini menandakan bahwa NaOH bersifat basa. Setelah itu kertas saring yang telah berwarna ungu
ini, digunakan untuk menutup lubang pada kedua tabung reaksi. Hal ini bertujuan untuk mengetahui
keberadaan gas Cl2. Pada proses ini, terlihat kertas saring yang
berwarna ungu berubah menjadi putih. Perubahan warna tersebut menandakan bahwa
dalam tabung reaksi tersebut positif
terdapat gas Cl2, dimana gas Cl2 bereaksi dengan ion Na+ pada senyawa NaOH yang menghasilkan garam
NaCl, sehingga sifat basa kuat dari NaOH pada kertas saring ternetralisasi oleh
HCl pekat yang bersifat asam kuat
(Walanda, K. Daud. 2007). Jika
dibandingkan antara perubahan warna kertas saring pada tabung reaksi yang
berisi MnO2 dengan kertas saring pada tabung reaksi yang berisi KMnO4
di atas, kertas saring pada KMnO4-lah yang lebih cepat mengalami perubahan warna,
hal ini disebabkan karena KMnO4 merupakan oksidator kuat, sehingga
gas klor yang dihasilkan KMnO4 lebih banyak dibandingkan pada MnO2.
Uji Sifat-Sifat Unsur
Halogen
Pada
percobaan ini, juga ada bebrapa langkah yang dilakukan, namun langkah yang
dilakukan lebih banyak dibandingkan pada tahap pertama. Pada tahap ini, uji
sifat-sifat unsur halogen terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama
mereaksikan larutan ke dalam 4 tabung reaksi, dan bagian kedua juga demikian.
Hanya saja larutan yang dicampurkan berbeda. Pada bagian pertama, bahan yang
direaksikan adalah AgNO3 0,1 M dengan larutan KF 0,5 M untuk tabung
pertama. Hasil yang diperoleh untuk tabung pertama ini adalah larutan bening
dan tidak ada endapan yang terbentuk. Untuk tabung kedua yang direaksikan
adalah larutan Ag NO3 dengan larutan KCl. Adapun hasil yang
diperoleh adalah larutan keruh dan terbentuk endapan. Pada tabung ketiga yang
direaksikan adalah larutan AgNO3 dengan larutan KBr. Hasil yang
diperoleh untuk tabung ketiga ini adalah larutan keruh dan terdapat endapan.
Untuk tabung yang terakhir atau tabung keempat, yang direaksikan adalah larutan
AgNO3 dengan larutan KI. Hasil yang diperoleh sama dengan hasil yang
diperoleh pada tabung kedua dan ketiga, dimana larutan menjadi keruh dab
terbentuk endapan.
Adapun
endapan-endapan yang diperoleh pada perlakuan ini yaitu endapan AgCl untuk
tabung kedua, endapan AgBr untuk tabung ketiga, dan endapan AgI untuk tabung
keempat. Sedangkan untuk tabung pertama, hasil yang diperoleh tidak sesuai
dengan hasil reaksi yang diperoleh. Pada hasil reaksi diperoleh endapan AgF,
sedangkan pada hasil percobaan campuran larutan AgNO3 dengan larutan
KF tidak menghasilkan endapan. Kesalahan ini disebabkan karena kesalahan
praktikan yang disebabkan karena kurangnya ketelitian dalam mereaksikan larutan
tersebut.
Selain itu, pada perlakuan ini jumlah
endapan yang diperoleh tidak sama. Endapan yang dihasilkan oleh larutana KI
paling banyak, kemudian endapan yang dihasilkan dari larutan KBr. Lalu endapan
yang dihasilkan oleh larutan KCl, dan terakhir larutan KF yang dalam percobaan
ini malah tidak menghasilkan endapan sama sekali. Perbedaan jumlah endapan ini sesuai dengan literatur dimana tingkat kelarutan
dari unsur halogen dalam AgNO3 semakin ke bawah semakin kecil
(F>Cl>Br>I) hal ini sesuai dengan keterangan data pada tabel sistem
periodik bahwa dari atas ke bawah unsur-unsur halogen semakin reaktif, sehingga
dari percobaan ini, terlihat endapan yang paling banyak terbentuk secara
berturut-turut adalah KI yang ditambahkan pada AgNO3, KBr yang ditambahkan pada
AgNO3, KCl yang ditambahkan pada AgNO3, dan yang paling sedikit adalah KF yang
ditambahkan pada AgNO3. Selain itu juga diketahui bahwa fungsi AgNO3 yang
digunakan adalah untuk mengendapkan unsur-unsur halogen. (Walanda, K. Daud. 2007).
Bagian kedua dari uji sifat
unsur-unsur halogen juga dilakukan dengan beberapa tahap. Tahap pertama yaitu
menyiapkan kembali empat tabung reaksi yang diberi label 5, 6,7, dan 8. Tahap
selanjutnya adalah memasukkan ke dalam masing-masing tabung reaksi tersebut 2,5
ml larutan (NH4)Fe(SO4)3. Kemudian,
mereaksikan larutan tersebut dengan 0,5 ml larutan NaOH 0,1 M. adapun hasil
yang diperoleh dari reaksi kedua larutan ini adalah larutan bening kekuningan.
Kemudian tahap selanjutnya adalah
menambahkan masing-masing 2,5 ml larutan KF 0,5 M ke dalam tabung 5,
larutan KCl 0,5 M ke dalam tabung 6, larutan KBr 0,5 M ke dalam tabung 7, dan
larutan KI 0,5 M ke dalam tabung 8 . adapun hasil yang diperoleh untuk tahap
ini adalah pada tabung 5 larutan berwarna putih keruh, tabung 6 warna kuning
bening yang dihasilkan pada pencampuran NaOH 0,1 M berkurang, pada tabung 7
warna kuning larutan yang juga dihasilkan dari penambahan NaOH 0,1 M pada awal
tadi bertambah pekat, sedangkan pada tabung 8 warna kuning pudae berubah
menjadi merah tua. Selanjutnya, menambahkan masing-masing 0,5 ml larutan CCl4
ke dalam keempat tabung. Hasil yang diperoleh adalah untuk tabung 5
terbentuknya endapan, sedangkan untuk tabung 6, 7, dan 8 terbentuk 2 lapisan.
Namun, pada tabung ke-8 warna 2 lapisan yang dihasilkan berbeda. Lapisan
pertama berwarna merah tua sedangkan lapisan kedua berwarna ungu.
Terbentuknya 2 lapisan pada setiap
tabung reaksi tersebut, disebabkan karena adanya perbedaan sifat kepolaran
antara CCl4 dan
campuran larutan yang ada pada setiap tabung reaksi tersebut, dimana CCl4
merupakann senyawa yang bersifat nonpolar yang disebabkan tidak adanya elektron
bebas dalam molekulnya, sehingga tidak
dapat dilarukan oleh campuran yang ada dalam setriap tabung reaksi yang
sifatnya polar. Hal ini sesuai dengan yang ada pada literatur bahwa suatu larutan akan larut jika dilarutkan ke dalam pelarut yang sifatnya
sama, yang berarti bahwa senyawa yang bersifat non polar akan dapat larut pada
senyawa yang bersifat non polar juga. Dalam percobaan ini diketahui iodin
memiliki tingkat kepolaran yang begitu rendah sehingga sebagian dari unsur ini
dapat bereaksi dengan CCl4.
VII. Kesimpulan
Berdasarkan tujuan dan hasil
pengamatan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Gas khlorin dapat dibuat dengan
mereaksikan padatan KMnO4 atau MnO2 dengan larutan HCl
pekat.
2. Kelarutan unsur halogen dari atas ke bawah dalam satu
golongan cenderung semakin kecil F>Cl>Br>I.
3. Kepolaran unsur halogen dari atas ke
bawah dalam satu golongan cenderung semakin kecil F>Cl>Br>I.
Lampiran
1. Tuliskan
persamaan reaksi yang terjadi pada tahap kerja D1 (3) dan (4)!
2. Bandingkan
reaksi dengan MnO2 dan KMnO4 sebagai pengoksidasi dalam
dua tahapan tersebut.
3. Tuliskan
persamaan reaksi yang terjadi dalam tahapan D2 dan urutkan unsur-unsur halogen
menurut daya mengoksidasi yang besar.
JAWAB
1.
(3)MnO2(s) + 4H+
+
—–>
Mn2+ + 2H2O(aq)
2Cl- —–> Cl2(g) +
2Cl- —–> Cl2(g) +
________________________________________________________________________
MnO2
+ 2Cl- + 4H+
—–> Mn2+ + 2H2O(aq) + Cl2(g)
(4) MnO4- + 8H+
+ 5e- —–> Mn2+
+ 4H2O(aq) ( x 2)
2Cl- —–> Cl2(g) + 2e- ( x 5)
2Cl- —–> Cl2(g) + 2e- ( x 5)
2MnO4- + 16H+ +
—–>
2Mn2+ + 8H2O(aq)
10Cl- —–> 5Cl2(g) +
10Cl- —–> 5Cl2(g) +
__________________________________________________
2MnO4- + 16H+ + 10Cl- —–>
2Mn2+ + 8H2O(aq)
+ 5Cl2(g)
2. KMnO4
lebih kuat mengoksidasi Cl disbanding dengan MnO2, pada reaksi
terlihat MnO2 saat reaksi berlangsung hanya menghasilkan satu mol
gas Cl2 sedangkan KMnO4 menghasilkan 5mol gas Cl2.
Hal ini menandakan KMnO4 merupakan oksidator kuat.
3. Reaksi
D2
D2.
dengan larutan AgNO3
·
AgNO3(aq) +
KF(aq) —–>
AgF(s)
+ KNO3(aq)
·
AgNO3(aq) +
KCl(aq) —–>
AgCl(s)
+ KNO3(aq)
·
AgNO3(aq) +
KBr(aq) —–>
AgBr(s)
+ KNO3(aq)
·
AgNO3 (aq)
+ KI (aq) —–>
AgI
(s) + KNO3 (aq)
D2. Dengan larutan FeCl3
dan NaOH
FeCl3(aq)
+ 3NaOH(aq) —–>
Fe(OH)3(s) + 3NaCl(aq)
Fe(OH)3(s)
+ 3KF(aq) + CHCl3 (aq)
Fe(OH)3(s)
+ 3KCl(aq) +CHCl3 (aq)
Fe(OH)3(s)
+ 3KBr(aq) + CHCl3(aq)
Fe(OH)3(s)
+ 3KI(aq) —–>
FeI3(aq)+ 3KOH(aq)
FeI3(aq)
+ NaOH(aq) —–>
FeOH(aq) + I2(g)
+ NaI(aq)
F>Cl>Br>I
Daftar Pustaka
Penanggung Jawab Mata Kuliah. 2012. Penuntun Praktikum Kimia Anorganik I.
Untad Press. Palu.
Pudjaatmaka, Hadyana. 1984. Kimia Untuk Universitas. Erlangga. Jakarta.
Walanda K, Daud. 2011. Kimia
Anorganik I. Untad Press. Palu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar