Selasa, 10 Mei 2016

Tugas Awal Mata Kuliah Biokimia Lanjut Percobaan METABOLISME ASAM LEMAK DALAM BIJI BERKECAMBAH

1. Tuliskan rumus molekul fraksi komponen TAG, DAG, MAG dan FFA.
2. Apa Fungsi  campuran heksana : dietil eter : asam formiat = 80 : 20 : 2.
3. Silahkan buat resume sebanyak 3 lembar mengenai METABOLISME ASAM LEMAK DALAM BIJI BERKECAMBAH !
Catatan : Untuk pertanyaan 1 & 2, DITULIS TANGAN. Khusus untuk nomor 3 silahkan ketik dengan komputer. Nama, STB dan Kelompok harus jelas tertulis di tugas awal.

Jumat, 01 April 2016

NUTRISI DAN KULTIVASI MIKROORGANISME



A.      Prinsip Nutrisi Mikroba
Berdasarkan cara-cara pengambilan nutrient maka mikroba dapat dibagi atas jasad osmotrof dan jasad fagotrof. Jasad osmotrof mengambil nutrien dalam bentuk larutan, misalnya bakteri dan fungi, sedangkan jasad fagotrof mengambil nutrien secara fagositosis lalu dicerna di dalam vakuola makanan, misalnya protozoa, jasad osmotrof mengeluarkan eksoenzim untuk memecah molekul besar misalnya protease untuk memecah protein menjadi asam amino, amilase untuk memecah pati menjadi gula, lipase memecah lemak menjadi asam lemak dan gliserol. Selanjutnya asam amino, gula, asam lemak, dan gliserol diserap ke dalam sel untuk digunakan.

Ø  Nutrisi yang dierlukan mikroba
Mikroba memerlukan nutrien sebagai sumber materi dan energy untuk menyusun komponen sel seerti genom, membrane plasma dan dinding sel. Bentuk nutrient yang diperlukan bermacam-macam, tergantung jenis mikrobanya, misalnya kebutuhan karbon untuk jasad fotoautotrof dalam bentuk CO2, sedangkan bagi jasad kemoorganotrof dalam bentuk bahan organik. Dengan mengetahui keperluan nutrien mikroba, para ilmuwan dapat melakukan penelitian untuk menentukan peranan mikroba di alam dan kegunaannya dalam kehidupan manusia.
Ø  Metode Kultivasi Mikroba
Metode kultivasi merupakan metode untuk melipatgandakan jumlah mikroba dengan membiarkan mereka berkembang biak dalam media biakan yang telah disiapkan di bawah kondisi laboratorium terkendali.
Kultur mikroba digunakan untuk menentukan jenis organisme dengan kelimpahan dalam sampel yang diuji, atau keduanya. Ini adalah salah satu metode mikrobiologi yang digunakan sebagai metode diagnosis untuk menentukan penyebab penyakit infeksi dengan membiarkan agen infeksi berkembang biak dalam media yang telah disiapkan, seperti yang tertuang dalam Postulat Koch.
Di habitat alaminya, mikroorganisme biasanya tumbuh dalam populasi yang kompleks dan terdiri dari beberapa spesies. Hal ini menyebabkan penelitian mengenai mikroorganisme dalam berbagai habitat menjadi sulit untuk dilakukan. Oleh karena itu, diperlukan suatu teknik untuk memisahkan populasi yang kompleks ini menjadi spesies yang berbeda-beda sebagai biakan murni. Biakan murni adalah suatu populasi sel yang ditumbuhkan dari satu sel induk.
Proses isolasi dan upaya mempertahankan keadaan murni memerlukan teknik aseptik . Oleh karena itu, sebelum mengkultur suatu mikroba harus dilakukan suatu proses sterilisasi.  
A.      Teknik Kultivasi Mikroba
Setelah semua bahan dan alat yang akan digunakan dalam proses kultivasi disterilkan, maka dimulailah proses isolasi untuk mendapatkan biakan murni. Bahan yang diinokulasikan pada medium disebut inokulum. Di bawah ini ada beberapa teknik inokulasi yang umum dilakukan di laboratorium mikrobiologi.
a.    Teknik Penyebaran (The Spread-Plate Technique)
Teknik penyebaran yang lebih sering disebut dengan Spread-Plate adalah teknik langsung dan mudah untuk mendapatkan suatu biakan murni. Di bawah ini adalah gambar saat menginokulasi mikroba dengan menggunakan teknik Spread-Plate.  Campuran dari beberapa spesies bakteri disebarkan di permukaan medium agar, sehingga setiap sel akan tumbuh menjadi koloni yang terpisah sempurna dan dapat dilihat secara makroskopis berupa kumpulan mikroba di atas medium padat. Setiap koloni yang terbentuk merupakan biakan murni. Di bawah ini adalah gambar dari biakan murni yang diperoleh dengan menggunakan teknik Spread-Plate.


b.   Teknik Goresan (The Streak-Plate Technique)
Biakan murni juga dapat diperoleh dengan teknik goresan ( Streak-Plate Technique ).
 Inokulum digoreskan di atas medium dengan memakai ose menurut pola tertentu, yaitu:
1.        Goresan T
Untuk membuat biakan murni dangan teknik goresan T, ada beberapa langkah yang harus diikuti, yaitu :
a.       Lempengan dibagi menjadi 3 bagian dengan hutuf T pada bagian luar dasar cawan petri.
b.      Inokulasi daerah I sebanyak mungkin dengan gerakan sinambung.
c.        Panaskan ose dan biarkan dingin kembali.
d.      Gores ulang daerah I sebanyak 3-4 kali dan teruskan goresan di daerah II.
e.       Pijarkan kembali ose dan biarkan dingin kembali.
f.       Prosedur diatas diulang untuk daerah III
2.        Goresan Kuadran
Teknik ini sama dengan goresan T, hanya lempengan agar dibagi menjadi empat
3.  Goresan Radian
a.       Goresan dimulai dari bagian pinggir lempengan.
b.      Pijarkan ose dan dinginkan kembali.
c.        Putar lempengan agar 90o dan buat goresan terputus dimulai dari bagian pinggir lempengan.
d.      Putar lempengan agar 900 dan buat goresan terputus di atas goresan sebelumnya.
e.       Pijarkan ose.

4.        Goresan Sinambung
a.       Ambil satu mata ose suspensi dan goreskan setengah permukaan lempengan agar.
b.      Jangan pijarkan ose, putar lempengan 1800, gunakan sisi mata ose yang sama dan gores pada sisa permukaan lempengan.
c.       Setelah inkubasi, sel-sel mikroba memperbanyak diri dan dalam waktu 18-24 jam akan terbentuk suatu massa sel yang disebut koloni. Koloni yang terbentuk ini adalah biakan murni. Di bawah ini adalah hasil kultivasi berupa biakan murni yang diperoleh dengan teknik goresan.

c.    Teknik lempeng tuang (Pour Plate Technique )
Teknik pour-plate (lempeng tuang) adalah suatu teknik di dalam menumbuhkan mikroorganisme di dalam media agar dengan cara mencampurkan media agar yang masih cair dengan stok kultur bakteri. Teknik ini biasa digunakan pada uji TPC (Total Plate Count). Kelebihan teknik ini adalah mikroorganisme yang tumbuh dapat tersebar merata pada media agar. Kultivasi mikroba dengan teknik ini dimulai dengan mengencerkan kultur bakteri yang telah ada dengan aquades. Selanjutnya, diaduk hingga rata dengan cara memutar tabung reaksi dengan telapak tangan selama beberapa kali. Larutan dilusi tadi sebanyak + 1 ml dituang ke dalam cawan petri. Cawan petri diputar secara perlahan-lahan di atas meja horizontal untuk mengaduk campuran media agar dengan dilusi kultur mikroba. Terakhir, inkubasi kultur ini pada kondisi yang sesuai.
Biakan murni yang dihasilkan, jika disimpan dalam jangka waktu yang lama akan mudah sekali mengalami mutasi. Ini berarti, biakan murni yang disimpan terlalu lama bukan lagi biakan murni yang semula. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk mencegah atau setidaknya mengurangi kemungkinan terjadinya mutasi, yaitu :
a.  Secara periodik, biakan harus dipindahkan ke medium baru, sebaiknya        pemindahan dilakukan pada fase log.
b.     Biakan harus disimpan pada suhu rendah dan terhindar dari radiasi. Mikroba diliofilisasikan, yaitu dimasukkan dalam ampul berisis susu kering bercampur CO2 kemudian disimpan pada tempat bersuhu rendah.

Tugas Awal Praktikum Kimia Dasar II dengan Materi ELEKTROLISIS

Soal
1. Dalam elektrolisis larutan Cu(NO3)2 dengan elektroda inert, 1,27 gram Cu (Ar Cu 63,5) diendapkan, volume gas yang dihasilkan di anoda pada 1 atm, 0 oC adalah ….
2. Fluorin dapat diperoleh dari elektrolisis leburan KHF2, sesuai dengan reaksi,
HF2 ⟶ HF + ½ F2 + e. Waktu yang diperlukan untuk memperoleh 23,2 liter F2 (pada 0oC, 1 atm) dengan arus 10 ampere adalah …. (Ar F = 19)

3. Tuliskan Reaksi yang terjadi di katoda dan anoda pada proses reaksi Elektrolisis ?
4. Sialahkan buat resume sebanyak 4 lembar, berisikan materi elektrolisis.

Catatan : a. Tugas Awal harus di tulis tangan.
                 b. Resume ditulis pada kertas HVS, dengan patron 2,2,2,2.
                 c. Jika Tugas Awal Tidak Sesuai dengan Intruksi dan memiliki kesamaan diatas                                65% dengan tugas awal teman lain, maka tugas anda bernilai 0.
 

Kamis, 24 September 2015

kriteria tumbuhan indikator alami

Pembuatan Indikator Alami
Dalam pembuatan indikator alami, bahan dasar pembuatan sebagian besar menggunakan  tumbuh-tumbuhan sebagai sumber utama ekstrak indikator. Namun harus dipahami, bahwa tidak semua tumbuh-tumbuhan dapat digunakan sebagai bahan dasar indikator alami. Terdapat beberapa sayarat dan kriteria tumbuhan yang dapat digunakan sebagai indikator alami, kriteria tersebut meliputi :
1. Tumbuhan tersebut memiliki pigmen warna primer atau sekunder(Merah, ungu, kuning biru dan lain sejenisnya).
2. Memiliki kandungan air kurang lebih 40-55%.
3. Tidak mudah mengalami oksidasi.
4. Bagian tubuh tumbuhan yang umumnya dapat digunakan yaitu umbi, buah dan bunga.
5. Bagian tubuh tumbuhan tidak tertutupi lapisan lilin seperti kaktus.
6. Mudah diekstrak menggunakan air.
Selain kriteria diatas, terdapat hal-hal lain yang harus diperhatikan dalam pembuatan indikator alami.
Dapat dilihat di postingan sebelumnya.

Rabu, 29 Oktober 2014

Redoks Unsur Nitrogen

Percobaan II
Redoks Unsur  Nitrogen
       I.            Tujuan Percobaan
Mahasiswa dapat mempelajari reaksi redoks unsur nitrogen dalam asam nitrat dan garam nitrat.

    II.            Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Ø  Hari, Tanggal  : Selasa, 04 Desember 2012
Ø  Waktu             : 13:00 – Selesai
Ø  Tempat            : Laboratorium Kimia Lanjut FKIP UNTAD

 III.            Hasil Pengamatan
No
Perlakuan
Hasil Pengamatan
1
Uji reaktivitas asam nitrat
1.      5 mL larutan HNO3  + Padatan Cu dan diuji dengan Lakmus
Merah.
2.      5 mL HNO3 7,0 M + 5 ml NaOH 0,05 M + Logam Al dan diuji dengan Lakmus merah

-Warna larutan berubah dari bening menjadi biru, terbentuk gas berwarna coklat dan bersifat asam.

-Logam Al tidak larut dalam campuran larutan HNO3 dan larutan NaOH, larutan terbagi 2 warna bening di bagian bawah dan silver di bagian atas.
2
Uji reaktivitas garam nitrat
1.      Padatan KNO3 + dipanaskan dan diuji dengan Lakmus Merah
2.      Padatan Cu(NO3)2 +
dipanaskan dan diuji dengan Lakmus Merah

-Padatan KNO3 tidak berubah dan terbentuk gas dan lakmus tetap berwarna merah.
-Padatan Cu(NO3)2 mencair dan     terbentuk gas dan lakmus tetap berwarna merah.
3
Uji reaktivitas asam dan garam nitrat
1.      10 mL larutan H2SO4 0,05 M + didinginkan + 1 gram padatan NaNO3

2.      10 mL larutan H2SO4 0,05 M + didinginkan + 1 gram NaNO3 + padatan KI

3.      10 mL larutan H2SO4 0,05 M + didinginkan + 1 gram NaNO3 + 10 tetes KMnO4 0,05 M

4.      10 mL larutan H2SO4 0,05 M + didinginkan + 1 gram NaNO3 + dipanaskan


-Padatan NaNO3 larut dalam larutan H2SO4  dan larutan bening.


-Padatan KI larut dalam larutan H2SO4  dan larutan bening.



-Larutan berwarna ungu, seperti warna spesifik KMnO4


-Terdapat gelembung gas.


 IV.            Reaksi-reaksi
Ø    Uji reaktifitas asam nitrat
4HNO3(aq) + Cu(s)                  Cu(NO3)2(aq) + 2NO2(g) + 2H2O(aq)
6HNO3(aq) + 6NaOH(aq) + 2Al(s)              2Al(OH)3(Aq) + 3Na2O(s)
                                                               6NO2(g) +  3H2O(L)


Ø    Uji reaktifitas garam nitrat
 


2 Cu(NO3)2(s)                  2CuO(s) + 4NO2(g) + O2(g)
2KNO3(s)                  2KNO2(s) + O2(g)


Ø    Uji reaktifitas asam dan garam nitrat
­HNO3(aq) + KI(s)                    2KNO3(aq)  + HI(aq)
­HNO3(aq) + KMnO4(aq)                     Tidak bereaksi
H2SO4(aq) + 2NaNO3(s)                    Na2SO4(aq) + 2­


    V.            Pembahasan
Nitrogen biasanya ditemukan sebagai gas tanpa warna, tanpa bau, tanpa rasa  dan merupakan gas diatomik bukan logam yang syabil. Nitrogen sangat sulit bereaksi dengan unsur atau senyawa lain. Nitrogen sendiri memiliki 5 elektron valensi. Gas ini mengembun pada suhu 77K(-196oC) pada tekanan atmosfir (King, 1994).Unsur nitrogen memiliki bilangan oksidasi berkisar antara +5, 0 dan -3, nilai bilangan oksidasi ini adalah nilai yang paling umum dan stabil di antara bilangan oksidasi lain dari unsur nitrogen. Nitrogen terdapat bebas di atmosfir sebanyak 78% volume. Pada keadaan N2 menyumbang sebanyak 75% volume pada lapisan udara atsmofir. Bagi mahluk hidup terkhusus tumbuhan, nitrogen sangat bermanfaat khususnya untuk proses pematangan buah. Nitrogen memiliki 2 istop yaitu N14 dan N15. Nitrogen dapat diperoleh dengan cara destilasi udara cair atau dapat pula dengan cara mendekomposisikan 2NaN3. Nitrogen cair juga dapat digunakan sebagai pendingin dan sebagai bahan baku dalam perindustrian pupuk nitrogen (Penanggung Jawab Kimia Anorganik I, 2012). Percobaan kali ini bertujuan untuk melihat redoks unsur nitrogen dalam asam nitrat, garam nitrat dan ammonia. Percobaan ini dilakukan sebanyak 3 kali perlakuan yaitu, uji reaktifitas asam nitrat, uji reaktifitas garam nitrat dan uji reaktifitas asam dan garam nitrat (Penuntun Praktikum Kimia Anorganik I, 2012)
Pada perlakuan awal, yaitu uji reaktivitas asam nitrat. Diawali dengan memasukan larutan HNO3 7,0 M ke dalam tabung reaksi 1 dan tabung reaksi 2. Selanjutnya pada tabung reaksi 1 padatan Cu dan dipanaskan, tabung reaksi menjadi panas dan warna larutan menjadi biru. Warna biru yang terlihat merupakan warna khas dari ion Cu3+ yang dihasilkan ketika padatan Cu larut dalam larutan HNO3 7,0 M, setelah diuji dengan kertas lakmus merah, teramati bahwa warna kertas tidak berubah, hal ini menandakan bahwa terbentuk gas yang bersifat asam yaitu gas NO2. Secara reaksi dapat dituliskan sebagai berikut :
4HNO3(aq) + Cu(s)            Cu(NO3)2(aq) + 2NO2(g) + 2H2O(aq)
Untuk perlakuan ini, pemanasan bertujuan untuk mempercepat terbentuknya hasil reaksi. Reaksi yang terjadi pada perlakuan ini adalah reaksi redoks, dimana nitrogen mengalami reduksi yaitu dari +5 pada HNO3 menjadi +4 pada NO2. Sedangkan untuk tabung reaksi 2, sebelum padatan Al dimasukan, maka terlebih dahulu dimasukan larutan NaOH sebanyak 5 mL yang berfungsi sebagai zat pereduksi, kemudian ditambahkan dengan logam Al, hasil yang diperoleh yaitu logam Al tidak larut dalam campuran larutan HNO3 dan larutan NaOH dan larutan terbagi dalam 2 warna, yaitu silver di bagian atas dan bening di bagian bawah. Pada saat diuji dengan lakmus merah, lakmus merah tetap berwarna merah yang menandakan larutan yang dihasilkan bersifat asam. Adapun persamaan reaksi pada perlakuan ini yaitu sebagai berikut:
3HNO3(aq) + 5NaOH(aq) + 8Al(s)             3NH3(g) +     
                                                               8[Al(OH)4]Na(aq) + H2O(aq)
Pada reaksi diatas terjadi reaksi redoks, dimana unsur nitrogen mengalami reduksi yaitu dari +5 pada HNO3 menjadi +3 pada NH3. Dari pengujian ini, dapat diketahui bahwa Cu lebih reaktif dari pada Al karena Cu dapat larut seluruhnya dan membentuk larutan homogen sedangkan Al saat melarut masih membentuk 2 lapisan (Anonim, 2012).
Kemudian perlakuan yang berikutnya yang dilakukan adalah uji reaktivitas garam nitrat. Pada percobaan ini digunakan 2 buah tabung reaksi. Pada tabung reaksi 1 dimasukkan padatan KNO3. Kemudian padatan tersebut dipanaskan dan mengujinya dengan kertas lakmus merah. Hasil yang diperoleh adalah padatan KNO3 tidak mengalami perubahan wujud dan terbentuknya gas yang bersifat asam. Adapun reaksi yang terjadi pada perlakuan ini yaitu sebagai berikut :
2KNO3(s)                  2KNO2(s) + O2(g)
Pada percobaan ini dilakukan pemanasan yaitu agar mempercepat proses penguraian senyawa KNO3. Pada tabung 2 yaitu kita memasukkan padatan Cu(NO3)2 dan kemudian memanaskannya. Hasil yang diperoleh yaitu padatan Cu(NO3)2 menjadi cair dan setelah diuji dengan kertas lakmus merah, diperoleh bahwa gas yang terbentuk bersifat asam karena tidak terjadi perubahan warna pada kertas lakmus merah tersebut. Reaksi yang terjadi pada perlakuan ini yaitu :
2 Cu(NO3)2(s)                  2CuO(s) + 4NO2(g) + O2(g)

Sama halnya dengan perlakuan terhadap tabung 1, pemanasan pada perlakuan ini bertujuan untuk mempercepat tejadinya penguraian senyawa Cu(NO3)2. Gas yang terbentuk adalah gas O2.
Pada perlakuan yang ketiga yang dilakukan adalah uji reaktivitas asam dan garam nitrat. Pada percobaan ini diawali dengan memasukkan 10 mL H2SO4 0,05 M ke dalam tabung reaksi. Setelah itu mendinginkan larutan asam sulfat tersebut. Pendinginan larutan H2SO4 bertujuan untuk menghindari panas yang berlebih saat larutan dicampurkan. Hal ini disebabkan karena sifat dari H2SO4 yang cukup reaktif(Penanggung Jawab Kimia Anorganik I, 2012). Selanjutnya menambahkan sebanyak 1 gram NaNO3 dan diperoleh hasil larutan bening dan NaNO3 larut dalam H2SO4. Selanjutnya membagi larutan hasil reaksi tersebut ke dalam 3 tabung reaksi dengan volume yang sama pada tiap-tiap tabung. Pada tabung reaksi 1, ditambahkan padatan KI dan diperoleh hasil bahwa padatan KI larut sepenuhnya dalam larutan tersebut, hal iniditandai dari warna larutan yang bening.
Reaksi yang terjadi pada perlakuan ini yaitu :
­HNO3(aq) + KI(s)                    2KNO3(aq)  + HI(aq)
Selanjutnya, pada tabung reaksi 2 dilakukan penambahan larutan KMnO4, dari perlakuan ini diperoleh hasil bahwa KMnO4 tidak dapat bereaksi dengan HNO3, ini ditandai dengan perubahan warna larutan dari bening menjadi ungu, sesuai warna spesifik KMnO4. Penyebab KMnO4 tidak dapat bereaksi dengan HNO3 dikarenakan keduanya merupakan oksidator kuat. Ini dapat dilihat dari tingginya nilai bilangan oksidasi Mn yaitu +7 dan nilai bilangan oksidasi N yaitu +5. Tingginya bilangan oksidasi ini menyebabkan proses reaksi reduksi tidak dapat berlangsung (Anonim, 2012). Selanjutnya, pada tabung reaksi 3, dilakukan pemanasan di atas penangas listrik dan diperoleh hasil pengamatan bahwa larutan tetap bening dan terdapat gelembung-gelembung gas. Pada perlakuan ini terjadi penguraian HNO3. Reaksi yang terjadi pada perlakuan ini yaitu :
HNO3(aq)                   H+(g) + NO3(g)
Sehingga dari ke tiga pengujian diatas dapat diketahui bahwa asam nitrat lebih stabil dibandingkan dengan garam nitrat. Dan terjadinya reaksi redoks pada unsur nitrogen, yang dapat dilihat dari nilai bilangan oksidasi nitrogen dalam percobaan yaitu +5, +4, +3 dan +2.

 VI.            Kesimpulan
Dari beberapa reaksi redoks tersebut nitrogen mengalami perubahan bilangan oksidasi +5, +4, +2, dan +3 dan menunjukkan bahwa asam nitrat lebih reaktif dari pada garam nitrat.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Unsur Nitrogen.
http://kimia nitrogen.upi.edu/utama/bahanajar/kuliah web/2007/Utama.html.
          (diunduh 1 november 2011)

R.B. King, ed. (1994).Encyclopedia of Inorganic Chemistry. Diterjemahkan oleh
          Mukmar Ali thn 2001 . Jakarta 2004. Penerbit : Erlangga

Staf Pengajar. 2012. Penangung Jawab Mata Kuliah Kimia Anorganik I. FKIP Untad. Palu.                                                                      

Staf Pengajar. 2012. Penuntun Praktikum Kimia Anorganik I. Untad Press.