PERCOBAAN III
KROMATOGRAFI KERTAS
I.
Tujuan
Adapun
tujuan dari percobaan percobaan ini yaitu untuk memisahkan dan mengidentifikasi
zat warna dalam tinta secara kromatografi kertas.
II.
Dasar Teori
Kimiawan
Inggris Richard Laurence Millington Synge (1914-1994) adalah orang pertama yang
menggunakan metoda analisis asam amino dengan kromatografi kertas. Saat
campuran asam amino menaiki lembaran kertas secara vertikal karena ada fenomena
kapiler, partisi asam amino antara fasa mobil dan fasa diam (air) yang
teradsorbsi pada selulosa berlangsung berulang-ulang. Ketiak pelarut mencapai
ujung atas kertas proses dihentikan. Setiap asam amino bergerak dari titik awal
sepanjang jarak tertentu. Dari nilai Rf, masing-masing asam amino
diidentifikasi (Haryadi, 1990).
Kromatografi kertas merupakan salah satu metode pemisahan berdasarkan
distribusi suatu senyawa pada dua fasa yaitu fasa diam dan fasa gerak. Mekanisme
pemisahan dengan kromatografi kertas prinsipnya sama dengan mekanisme pada
kromatografi kolom. Adsorben dalam kromatografi kertas adalah kertas saring,
yakni selulosa. Sampel yang akan dianalisis ditotolkan ke ujung kertas yang
kemudian digantung dalam wadah. Kemudian dasar kertas saring dicelupkan kedalam
pelarut yang mengisi dasar wadah. Fasa mobil (pelarut) dapat saja beragam, bisa
menggunakan air, etanol, asam asetat atau campuran zat-zat ini dapat digunakan (Pudjaatmaka,
1989).
Kromatografi
kertas merupakan kromatografi partisi dimana fase geraknya adalah air yang
disokong oleh molekul-molekul selulosa dari kertas. Kertas yang digunakan adalah
kertas Whatman No.1 dan kertas yang lebih tebal Whatman No. 3 biasanya untuk
pemisahan campuran dalam jumlah yang lebih besar karena dapat menampung lebih
banyak cuplikan. Selain kertas Whatman dalam teknik kromatografi dapat pula
digunakan kertas selulosa murni. Kertas selulosa yang dimodifikasi dan kertas
serat kaca. Untuk memilih kertas, yang menjadi pertimbangan adalah tingkat dan
kesempurnaan pemisahan, difusivitas pembentukan spot, efek tailing, pembentukan
komet serta laju pergerakan pelarut terutama untuk teknik descending dan juga
kertas seharusnya penolak air. Kromatografi kertas terbagi atas dua jenis,
yaitu kromatografi kertas satu arah dan kromatografi kertas dua arah (Khopkar,
1990).
1. Kromatografi Kertas Satu Arah
Dalam
kromatografi kertas, fase diam adalah kertas serap yang sangat seragam. Fase
gerak adalah pelarut atau campuran pelarut yang sesuai. Sampel tinta diteteskan
pada garis dasar pinsil pada selembar kromatografi kertas. Beberapa pewarna
larut dalam jumlah yang minimum dalam pelarut yang sesuai, dan itu juga di
teteskan pada garis yang sama. Kertas digantungkan pada wadah yang berisi
lapisan tipis pelarut atau campuran pelarut yang sesuai didalamnya. Perlu
diperhatikan bahwa batas pelarut berada dibawah garis pada bercak diatasnya. Kadang-kadang
kertas hanya digulungkan secara bebas pada silinder dan diikatkan dengan klip
kertas pada bagian atas dan bawah. Silinder kemudian ditempatkan dengan posisi
berdiri pada bawah wadah. Alasan untuk menutup wadah adalah untuk meyakinkan
bahwa astmosfer dalam gelas kimia terjenuhkan denga uap pelarut. Penjenuhan
udara dalam gelas kimia dengan uap menghentikan penguapan pelarut sama halnya
dengan pergerakan pelarut pada kertas (Khopkar,
1990).
2. Kromatografi Kertas Dua Arah
Kromatografi kertas dua arah dapat digunakan dalam
menyelesaikan masalah pemisahan substansi yang memiliki nilai Rf yang
sangat serupa. Pada saat kromatogram
dibuat dari bercak tunggal dari campuran yang ditempatkan ke depan dari garis
dasar. Kromatogram ditempatkan dalam sebuah pelarut sebelum dan sesudah sampai
pelarut mendekati bagian atas kertas (Khopkar,
1990).
Pada kromatografi kertas terdapat tiga metode yang
digunakan dalam proses kromatografi kertas, yakni metode ascending, metode
descending, dan metode horizontal.
1.
Metode
Ascending
Pada
kromatografi kertas yang menaik, kertas itu digantung dari atas ruangan agar
kertas tersebut tercelup ke dalam larutan yang ada di dasar ruangan, dan
pelarut akan merangkak naik di seluruh bagian kertas secara perlahan-lahan
akibat kapilaritas kertas (Underwood.1996).
2.
Metode
Descending
Pada
bentuk yang menurun, kertas dikaitkan pada sebuah cawan yang mengandung pelarut
yang terletak diatas ruangan, dan pelarut bergerak ke bawah karena adanya
kapilaritas yang dibantu gravitasi. Pada kasus yang sukses, zat terlarut dari
campuran yang asli akan bergerak di sepanjang kertas dengan kecepatan yang
berbeda-beda, membentuk sederetan noda yang terpisah (Underwood.1996).
3.
Metode
Horizontal
Sangat
berbeda dari kedua metode diatas. noda cuplikan ditempatkan pada pusat dari
kertas (biasanya kertas saring berbentuk bilat) dan pelarut di teteskan juga
dipusat kertas. Aliran juga oleh gaya kapiler, senyawa-senyawa dalam campuran
segera berkembnag dengan pelarut (Underwood.1996).
Dalam
mengidentifikasi noda-noda dalam kertas sangat lazim menggunakan harga Rf
(reterdation factor) yang didefinisikan sebagai :
Nilai Rf harus sama baik pada
descending maupun ascending. Nilai Rf akan menunjukkan identitas suatu zat yang
dicari, contohnya asam amino dan intensitas zona itu dapat digunakan sebagai
ukuran konsentrasi dengan membandingkan dengan noda-noda standar (Khopkar,
1990).
III.
Alat dan Bahan
Alat
dan bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah sebagai berikut :
a. Alat
- Chamber
- Pipet
tetes
- Stopwatch
- Gunting
- Mistar
b. Bahan
- Kertas
saring
- Kertas
HVS
- Spidol
warna (hitam, hijau, coklat, merah, dan merah muda)
IV.
Prosedur Kerja
Adapun
prosedur kerja yang dilakukan pada percobaan ini adalah sebagai berikut :
1.
Menyediakan bahan yang digunakan dalam
proses kromatografi yaitu chamber, kertas saring tiga lembar, kertas HVS tiga
lembar dan spidol warna (hitam, cokelat, merah, merah muda dan hijau).
2.
Memasukan eluen (etanol-air = 1 : 1) kedalam
chamber.
3.
Menutup chamber tersebut dengan rapat
dan tunggu hingga 10 menit.
4.
Eluen telah jenuh dan siap digunakan.
5.
Menotolkan spidol pada kertas saring dan
kertas HVS masing-masing warna hitam, cokelat, serta merah pada kertas saring
dan warna merah muda, hitam, serta hijau pada kertas HVS dengan jarak 1,5 cm
dari batas bawah kertas saring dan kertas HVS.
6.
Memasukan kertas saring dan kertas HVS
yang telah ditotolkan dengan tinta spidol kedalam chamber berisi eluen.
Usahakan totolan pada kertas tidak terendam dalam eluen.
7.
Membiarkan kertas saring dan kertas HVS
tersebut beberapa menit sampai eluen terserap naik ke batas atas kertas.
8.
Mengangkat kertas saring dan kertas HVS
tersebut setelah eluen yang terserap naik sudah mendekati batas atas kertas.
9.
Mengeringkan kertas saring dan kertas
HVS tersebut sampai kering dan terlihat komponen warna pada kertas.
10. Mengukur
jarak eluen dan jarak komponen warna yang dihasilkan pada kertas.
11. Menghitung
nilai Rf tiap komponen warna tersebut.
V.
Hasil Pengamatan
Hasil
pengamatan yang diperoleh pada percobaan ini adalah sebagai berikut :
|
Bahan
Warna Tinta
|
Eluen
|
Absorben
|
Jumlah
Komponen
|
Warna
Komponen (cm)
|
Jarak
Eluen
|
Rf
|
|
Hitam
|
Etanol
95% : air (1:1)
|
Kertas
saring
|
3
|
Biru
= 4,5
Cokelat=1,8
Ungu
= 3,3
|
5,8
|
0,776
0,310
0,569
|
|
Cokelat
|
Etanol
95% : air (1:1)
|
Kertas
saring
|
1
|
Orange=1,4
|
5,4
|
0,259
|
|
Merah
|
Etanol
95% : air (1:1)
|
Kertas
saring
|
1
|
Merah
= 1,4
|
6
|
0,516
|
|
Merah
muda
|
Etanol
95% : air (1:1)
|
Kertas
HVS
|
2
|
Merah
muda = 2
Putih
= 1
|
3
|
0,666
0,333
|
|
Hitam
|
Etanol
95% : air (1:1)
|
Kertas
HVS
|
3
|
Biru
= 4,5
Cokelat=2,5
Ungu
= 3
|
5,8
|
0,775
0,431
0,517
|
|
Hijau
|
Etanol
95% : air (1:1)
|
Kertas
HVS
|
2
|
Biru
= 3,7
Kuning=2,8
|
4,1
|
0,902
0,682
|
VI.
Perhitungan
1. Adsorben
Kertas Saring
a. Hitam
Diketahui :
Jarak yang ditempuh eluen : 5,8 cm
Jarak yang ditempuh
komponen biru : 4,5 cm
Jarak yang ditempuh
komponen cokelat : 1,8 cm
Jarak yang ditempuh
komponen ungu : 3,3 cm
Ø Komponen
I Biru
Ø Komponen
II Cokelat
Ø Komponen
III Ungu
b. Cokelat
Diketahui :
Jarak yang ditempuh
eluen : 5,4 cm
Jarak yang ditempuh
komponen orange : 1,4 cm
c. Merah
Diketahui :
Jarak yang ditempuh
eluen : 6 cm
Jarak yang ditempuh
komponen merah : 3,1 cm
2. Adsorben
Kertas HVS
a. Merah
muda
Dikatahui :
Jarak yang ditempuh
eluen : 3
cm
Jarak yang ditempuh
komponen merah muda : 2 cm
Jarak yang ditempuh
komponen merah muda : 1 cm
Ø Komponen
I merah muda
Ø Komponen
II putih
b. Hitam
Diketahui :
Jarak yang ditempuh
eluen : 5,8 cm
Jarak yang ditempuh
komponen I cokelat : 4,5 cm
Jarak yang ditempuh
komponen II ungu : 1,8 cm
Jarak yang ditempuh
komponen III biru : 3,3 cm
Ø Komponen
I coklat
Ø Komponen
II ungu
Ø Komponen
III biru
c. Hijau
Jarak yang ditempuh
eluen : 3
cm
Jarak yang ditempuh
komponen merah muda : 2 cm
Jarak yang ditempuh
komponen merah muda : 1 cm
Ø Komponen
I kuning
Ø Komponen
II biru
VII. Pembahasan
Kimiawan
Inggris Richard Laurence Millington Synge (1914-1994) adalah orang pertama yang
menggunakan metoda analisis asam amino dengan kromatografi kertas. Saat
campuran asam amino menaiki lembaran kertas secara vertikal karena ada fenomena
kapiler, partisi asam amino antara fasa mobil dan fasa diam (air) yang
teradsorbsi pada selulosa berlangsung berulang-ulang. Ketiak pelarut mencapai
ujung atas kertas proses dihentikan. Setiap asam amino bergerak dari titik awal
sepanjang jarak tertentu. Dari nilai Rf, masing-masing asam amino
diidentifikasi (Haryadi, 1990).
Kromatografi kertas merupakan salah satu metode pemisahan berdasarkan
distribusi suatu senyawa pada dua fasa yaitu fasa diam dan fasa gerak. Mekanisme
pemisahan dengan kromatografi kertas prinsipnya sama dengan mekanisme pada
kromatografi kolom. Adsorben dalam kromatografi kertas adalah kertas saring,
yakni selulosa. Sampel yang akan dianalisis ditotolkan ke ujung kertas yang
kemudian digantung dalam wadah. Kemudian dasar kertas saring dicelupkan kedalam
pelarut yang mengisi dasar wadah. Fasa mobil (pelarut) dapat saja beragam, bisa
menggunakan air, etanol, asam asetat atau campuran zat-zat ini dapat digunakan (Pudjaatmaka,
1989).
Percobaan
ini bertujuan untuk memisahkan dan mengidentifikasi zat warna dalam tinta
secara kromatografi kertas. Pada percobaan ini prosedur kerjanya
terbagi atas dua, yaitu proses penjenuhan eluen dan proses pemisahan
komponen-komponen dalam tinta melalui kromatografi kertas (Staf
Pengajar Pemisahan analitik, 2013).
Pada percobaan ini pertama-tama kita
akan menjenuhkan eluen yang akan digunakan dalam proses pemisahan
komponen-komponen warna dalam tinta spidol yang digunakan. Proses penjenuhan
ini dilakukan dengan cara memasukan eluen yang akan digunakan kedalam chamber
dan didiamkan selama 10 menit. Tujuan dari penjenuhan eluen adalah agar pada
saat proses elusi berjalan eluen dapat mengelusi fasa diam dengan baik. Pada
kromatografi kertas terdiri atas tiga tahap penting, yaitu tahap penotolan
cuplikan, tahap pengembangan dan tahap mengidentifikasi komponen warna yang
dihasilkan. Pada tahap penotolan mula-mula
menyiapkan kertas kromatografi dengan ukuran tertentu. Kertas yang digunakan
memiliki susunan serat kertas membentuk medium berpori yang bertindak sebagai
tempat untuk mengalirnya fase bergerak. Lalu membuat garis awal dengan jarak
2-3 cm dengan salah satu ujung kertas dengan menggunakan pensil. Kemudian
totolkan larutan cuplikan dengan menggunakan mikropipet atau pipa kapiler pada
garis awal tadi, kemudian keringkan. Selanjutnya pada tahap pengembangan, ujung
kertas kromatografi dekat garis awal yang telah berisi totolan cuplikan
dicelupkan ke dalam pelarut (pelarut untuk contoh ini misalnya etanol) yang
terdapat di dalam bejana kromatografi. Tahap Pencelupan diusahakan tidak
merendam totolan cuplikan atau garis awal. Kemudian bejananya ditutup. Biarkan
pelarut merembes melewati totolan cuplikan. Komponen-komponen cuplikan akan
terbawa oleh rembesan cuplikan. Perbedaan kelarutan komponen-komponen cuplikan
dalam pelarut akan mengakibatkan kecepatan bergerak komponen-komponen dalam
kertas juga berbeda. Perbedaan kecepatan bergerak komponen-komponen ini lebih
umum disebut migrasi deferensial. Pemisahan komponen-komponen ini terjadi
karena migrasi deferensial. Hasil pemisahan akan nampak sebagai noda-noda
berwarna pada kertas dengan jarak yang berbeda-beda dari garis awal. Noda-noda
ini selanjutnya disebut sebagai kromatogram. Perembesan pelarut dihentikan
setelah pelarut hampir mencapai ujung kertas. Pekerjaan selanjutnya adalah
memberi tanda batas gerakan pelarut, dan kemudian kertas diangkat dari cairan
pengelusi untuk seterusnya dikeringkan. Setelah proses pengembangan selesai,
selanjutnya dilakukan proses identifikasi terhadap komponen warna yang
diperoleh pada kertas yang ditotolkan dengan tinta. Pada tahap identifikasi
atau penampakan noda, jika noda sudah berwarna dapat langsung diperiksa dan
ditentukan harga Rf-nya. Bila noda tidak berwarna maka penampakan noda dapat
dilakukan dengan menyemprot kertas denngan pereaksi penimbul warna seperti
ditizon, ninhidrin, kalium kromat, amonium sulfida dan lain-lain. Kedua, dapat
dilakukan dengan menyinari kertas dengan sinar ultra violet. Dan terakhir dapat
dilakukan dengan mendedahkan kertas pada uap iodium (Khopkar,
1990).
Setelah penjenuhan eluen selesai, proses
selanjunya kita akan membuat totolan pada kertas (kertas saring dan kertas HVS)
dengan menggunakan spidol warna yang telah disediakan. Penotolan tinta
dilakukan masing-masing untuk kertas saring ditotolkan tinta spidol berwarna
hitam, cokelat, serta merah dan untuk kertas HVS ditotolkan tinta spidol
berwarna merah muda, hitam, dan hijau. Setelah penotolan selesai dilakukan,
kertas saring dan kertas HVS yang telah di totolkan dengan tinta spidol
tersebut dimasukan dalam chamber yang berisi eluen. Pada percobaan ini fasa
gerak yang digunakan adalah air-etanol 95% (1:1) dan fasa diamnya adalah kertas.
Penggunaan air-etanol 95% (1:1) sebagai fasa gerak karena air-etanol 95%
merupakan pelarut yang bersifat semi polar. Pada saat kertas saring dan kertas
HVS tersebut dimasukan kedalam chamber, usahakan totolan tinta spidol pada
kertas saring dan kertas HVS tidak terendam dalam eluen. Pada proses ini
terjadi elusi sampel
oleh fasa gerak yang ada dalam chamber dengan
metode ascending. Metode ascending merupakan metode dimana arah
fase geraknya menaik, dengan memanfaatkan gaya kapiler. Pada metode ini, kertas itu digantung dari atas ruangan agar kertas
tersebut tercelup ke dalam larutan yang ada di dasar ruangan, dan pelarut akan
merangkak naik di seluruh bagian kertas secara perlahan-lahan akibat
kapilaritas. Proses elusi dihentikan pada saat fasa gerak yang bergerak naik membawa
sampel sudah mendekati ujung dari kertas saring dan kertas HVS. Setelah kertas
saring dan kertas HVS diangkat dari dalam chamber selanjutnya, kertas saring
dan kertas HVS tersebut dikeringkan. Proses pengeringan tersebut bertujuan
untuk menampakkan noda yang dihasilkan pada kertas saring dan kertas HVS. Setelah
kertas saring dan kertas HVS mengering, ukur jarak eluen yang ditempuh pada
masing kertass dan ukur komponen yang dihasilkan pada kertas tersebut. Dari
perlakuan tersebut diperoleh hasil untuk kerta saring yang ditotolkan dengan
spidol berwarna hitam diperoleh tiga komponen penyusun yaitu biru, cokelat dan
ungu dengan nilai Rf masing-masing untuk biru sebesar 0,776, untuk cokelat
sebesar 0,310, dan untuk ungu sebesar 0,569. Untuk kertas saring yang
ditotolkan dengan spidol berwarna cokelat hasil yang diperoleh terdapat satu
komponen penyusun yaitu orange dengan nilai Rf sebesar 0,259. Dan selanjutnya
untuk kertas saring yang ditotolkan dengan spidol berwarna merah diperoleh
hasil terdapat satu komponen penyusun yaitu warna merah itu sendiri dengan
nilai Rf sebesar 0,516. Hal ini disebabkan karena merah merupakan warna dasar
(warna primer). Sedangkan untuk kertas HVS diperoleh hasil untuk yang
ditotolkan dengan spidol berwarna merah muda terdapat dua komponen yaitu merah
muda dengan nilai Rf 0,666 dan putih dengan nilai Rf 0,333. Untuk kertas HVS
yang ditotolkan dengan spidol berwarna hitam diperoleh hasil terdapat tiga
komponen yaitu biru dengan nilai Rf sebesar 0,775, cokelat dengan nilai Rf
0,431 dan ungu dengan nilai Rf 0,517. Dan untuk kertas HVS yang ditotolkan
dengan spidol berwarna hijau diperoleh hasil terdapat dua komponen yaitu biru
dengan nilai Rf sebesar 0,902 dan kuning dengan nilai Rf sebesar 0,682. Dari
kedua kertas yang digunakan dalam kromatografi kertas yang lebih baik untuk
digunakan adalah kertas saring. Hal ini disebabkan karena susunan serat kertas
saring membentuk medium berpori yang bertindak sebagai tempat untuk
mengalirkannya fase bergerak. Sedangkan pada kertas saring penyerapan terjadi
dengan cepat sehingga proses berjalannya elusi berjalan dengan cepat pula sehingga
proses elusi tidak akan berjalan dengan baik (Hardjono, 2002).
Berdasarkan hasil yang diperoleh
pada percobaan didapatkan pada kertas yang ditotolkan dengan warna hitam,
merah, dan hijau komponen penyusun warnanya sudah sesuai dengan yang ada pada
literatur. Dimana berdasarkan literatur komponen penyusun warna hitam adalah
biru, ungu serta cokelat. Untuk merah komponen penyusun warna adalah warna
merah itu sendiri. Dan untuk hijau komponen penyusun warnanya adalah biru dan
kuning. Sedangkan hasil yang diperoleh untuk komponen penyusun warna cokelat
dan merah muda belum sesuai dengan yang ada dalam literatur. Dimana pada literatur,
komponen penyusun warna dari cokelat adalah orange dan hitam sedangkan yang
diperoleh pada percobaan hanya orange saja dan
penyusun warna merah muda adalah merah dan putih sedangkan yang
diperoleh pada percobaan adalah warna merah muda dan putih. Hal ini disebabkan
karena adanya kesalahan praktikan dalam melakukan praktikum sehingga hasil yang
diperoleh belum sesuai dengan hasil yang ada pada literatur (Hardjono, 2002).
VIII. Kesimpulan
Berdasarkan
tujuan dan hasil percobaan yang diperoleh pada percobaan ini dapat disimpulkan
bahwa :
1. Prinsip
dasar pada kromatografi kertas adalah brdasarkan kromatografi partisi
(cair-cair) dimana dengan adanya perbedaan kelarutan pada tiap-tiap komponen
yang akan dipisahkan berdasarkan fasa diam dan fasa gerak.
2. Nilai
Rf dari tiap komponen adalah :
a. Kertas
Saring
Ø
Hitam Biru : 0,776
Cokelat :
0,310
Ungu :
0,569
Ø Cokelat Orange : 0,259
Ø Merah
Merah : 0,516
b. Kertas
HVS
Ø Merah muda
Merah muda :
0,666
Putih : 0,333
Ø Hitam
Biru : 0,775
Cokelat : 0,431
Ungu :
0,517
Ø Ungu
Biru :
0,902
Kuning : 0,682
Daftar Pustaka
Haryadi.1990. Ilmu Kimia Analitik
Dasar. PT. Gramedia. Jakarta.
Khopkar, S.M. 1990. Konsep Dasar
Kimia Analitik. UI-Press. Jakarta
Pudjaatmaka,
Hadyana.1989. Kimia Untuk Universitas. Erlangga. Jakarta.
Sastrohamidjojo, Hardjono. 2002.
Kromatografi. Liberti. Yogyakarta.
Staf
Pengajar Pemisahan analitik. 2013. Penuntun
Praktikum Dasar-Dasar pemisahan analitik. Universitas Tadulako. Palu.
Underwood,
A.L. 1996. Kimia Analisis Kuantitatif. Erlangga.
Jakarta.