a perfect story
Dengan
langkah cepat ify menyusuri jalan taman dan menembus gerimis yang dingin di
bogor saat itu. Ify tau, dia tidak terlambat. Tapi, ify hanya ingin menguatkan
hatinya dan mempersiapkan mental untuk bertemu seseorang nanti.
Disebuah bangku
coklat yang sudah tua dan sedikit kotor dengan dedaunan kering, ify duduk.
Nafasnya masih tersenggal-senggal. Sebotol minuman isotonic-pun sudah ia teguk
habis. Diraihnya ponsel putih berlogo apel tergigit itu. Hanya untuk membaca
sebait pesan dari seseorang di luar sana.
“Ai, can you
meet me at 16.00? in our lake… thanks. Hope you still remember me..”
Walau nomor
pengirimnya tak tercantum di memory ponselnya, kata-kata itu cukup menjadi
petunjuk siapa yang mengirim SMS itu. Ify hafal benar jari siapa yang telah
menyusun kata-kata itu.
Berkali-kali
ify membaca pesan singkat yang membuat jantungnya hampir tidak bekerja lagi
karna daya detakannya yang dahsyat.. Padahal sudah ia hapal setiap huruf yang
menyusun pesan itu. Dan berkali-kali juga ify melirik jam tangan merahnya itu.
jarum jam masih memarkirkan dirinya di pukul 15.30. tapi, ify sudah risau..
Cantik.
Itulah kata yang sepadan dengan penampilan ify saat ini. Dengan dress putih
selutut dan cardigan hitam, ify terlihat begitu anggun. Rambut hitam panjangnya
dibiarkan terjatuh dipunggungnya.
Ify menunggu
dan menunggu. Hanya ada gemiricik air danau dan gesekan daun karna hembusan
angina-lah yang menemani ify. Seakan menjadi back sound bagi kegalauan hati ify
saat itu.
Sebuah mobil
merah berlogo kuda jingkrak berhenti tak jauh dari tempat ify. Seorang lelaki
dengan perawakan tinggi yang memakai baju sama warnanya dengan ify keluar dari
dalam kendaraan mewah itu.
Ify
menyipitkan matanya. Mencoba menerawang lelaki itu. Terlihat jelas dimatanya.
Lelaki tinggi itu. Terlihat keren dengan kemeja putih itu. Sehati. Rambutnya
yang berdiri bergoyang-goyang terhempas angin.
“hai…”
sapanya. Ify tertegun melihat lelaki itu. Sejenak matanya tak berkedip. Ify
kembali menggerakkan bola matanya. memastikan kembali diakah orang yang
mengirimkannya pesan tadi?
Lelaki itu
semakin mendekat hingga ia menempatkan dirinya disamping ify.
Segerombol
cerita masa lalu seperti menyerang ify secara tiba-tiba. Membuat semua cerita
yang pernah ada diantara mereka serasa bermain-main dihadapan ify. Sudah 10
tahun lelaki itu tak lagi terlihat di hadapan ify.
Tapi, yang
berubah hanya satu. Dia semakin tampan. Setiap lekuk wajahnya, Matanya yang
selalu tajam saat menatapnya, dan suaranya yang selalu merdu untuk didengar.
Semua sudah terekam jelas dalam ingatan ify.
Bagaimana
bisa ify melupakan sosok itu? Sosok yang sudah mengisi ribuan lembar hidupnya
dengan, tangis, tawa, cinta, dan persahabatan. Seseorang yang selalu datang
dalam mimpinya, seseorang yang sudah menggoreskan luka di relung hati ify yang
paling dalam, tapi, seseorang itu juga yang ify rasa hanya dialah yang memiliki
cinta ify seutuhnya.
“hai…” jawab
ify dengan senyum seadanya.
“how’s
life?”
“pretty
well, thanks, you?”
“fine….”
“Mmmm….”
Jawab ify seadanya.
Sejenak
kaheningan seperti bergelut diantara mereka. Ify hanya memainkan
kerikil-kerikil di bawah flat shoes-hitamnya. Mencoba menyiapkan kata-kata jika
suatu saat nanti dia menanyakan sesuatu yang tak bisa ify jawab.
“here’s
still beautiful, right?” ucapnya.
“yeah… gimana
new york?”
“as usual.
The busiest city as I know. so, gimana paris?”
“as usual
too. Kota paling romantis..” jawab ify sambil menyelipkan sebuah senyuman
tipis. Berharap lelaki itu tak tau bahwa jantungnya seperti kembang api yang
siap meledak.
Angin berhembus
kencang membuat rambut ify bergerak liar menutupi separuh wajahnya. lelaki itu
mendejat seperti membuat ribuan kilometer jarak diantara mereka berubah hanya
sepanjang jari telunjuk. Lelaki itu menyimpulkan rambut ify dan menyelipkannya
di belakang telinga ify.
Membuat
wajah ify terangkat dan memaksa mereka saling bertatap mata. Ify menatap
lekat-lekat lelaki dihadapannya itu. Sejenak beberapa detik. Ify berpaling. Tak
kuat melihat sepasang mata indah itu.
“thanks..”
“kamu tambah
cantik fy,”
“makasih,..”
jawab ify yang bingung harus membalas pujiannya atau tak perlu.
Ucapan rio
tadi seakan membuat jantung ify rasanya lompat kesana-kemari. Jika saja ada
lompat jauh kategori jantung, mungkin jantung ify-lah yang memenangkannya.
“kamu
sekarang punya-nya siapa fy?”
“ha??” jawab ify
bingung.
Rio hanya
terkekeh..
“punya orang
tuaku sama punya tuhan.” Jawab ify polos.
“kamu gimana
sama lyra?”
“gak ada
apa-apa.’
Ify
mengernyitkan alisnya.
“biasa aja
lagi.” Jawab rio lagi-lagi terkekeh.
“dia Cuma
cantik diluar. Tapi, hatinya ternyata busuk. Dia tega ngeduain aku sama temen
aku sendiri waktu di NY. Kita nyaris tunangan, tapi, untungnya tuhan masih berpihak
sama aku. Perempuan itu akhirnya pergi juga dari hidup aku. Dia bejat.
Hamil diluar nikah…” Jelas rio panjang lebar. Tersirat jelas rasa
kebencian yang mendalam dari mata rio.
“wew! sori…”
jawab ify yang benar-bena terkejut dengan pengakuan rio tadi.
“gak papa lagi. Aku seneng dia pergi
jauh-jauh dari hidup aku.”
Untuk kedua kalinya. Hening kembali.
Semua sibuk dengan pikiran masing masing. Menyiapkan sepatah dua patah kata
untuk diucapkan.
Angin berhembus. Cukup membuat badan
ify menggigil. Ify mengelus-elus badannya yang terasa dingin. Rio bangun dan
pergi menuju mobilnya dan meninggalkan ify.
“aku pakein ya?”.
“mm..”jawab ify dengan anggukan.
Rio memakaikan sebuah jaket dibadan
ify.
“makasih yo..” rio hanya tersenyum.
Senyum manis yang selalu membuat ify rasanya pengen terbang kelangit kedelapan.
Senyum manis yang selalu bisa menenangkan hatinya ketika sedang kacau. Dan
sekarang, pemilknya sedang memamerkan senyum termanis itu.
“fy?”
“hmm..”
“kamu masih cinta sama aku gak?”
Ini dia! Pertanyaan yang selalu
membuat ify begitu susah untuk menjawabnya. Sekejap ribuan kata yang ia
siapakan tadi hilang. Mungkin karena dirinya yang meleleh karena senyum manis
itu.
“aku gak suka kamu tanya kayak
gitu.”
“kenapa? aku Cuma tanya fy.. kamu
silahkan jawab sejujur-jujurnya. Aku gak akan marah..”
“aku gak tau…” jawabnya tanpa
menatap kearah rio.
“aku masih fy…”
“ha???” tanya ify yang hanya
berpura-pura tidak mendengar. Padahal, kata-kata itu terdengar jelas
ditelinganya. Darah ify serasa mengalir deras bagai banjir banding.
“iya fy. Aku udah sadar. Aku selalu
menyia-nyiakan kamu sebagai sahabatku dulu. Padahal, kamu selalu ada buat aku.
Tapi, aku selalu maksa diri aku buat jauh dari kamu.”
“kenapa? Kamu benci sama aku?”
“bukan. Aku takut.” Jedanya.
“takut apa?”
“takut kalo kamu gak punya perasaan
yang sama aku.”
Ify terdiam mempersiapkan sebuah
kata yang pantas untuk ia ucapkan.
“maaf sudah bohong. Tapi aku juga
yo…”
Untuk kesekian kalinya, semua diam.
Sibuk mengenang masa lalu mereka. Mengingat masa-masa indah yang pernah terjadi
diantara mereka. Dan membuang jauh-jauh kenangan buruk diantara mereka.
Ify tersenyum tipis. Matanya menatap
lurus kearah danau yang terhampat dihadapan mereka. Tanpa ia sadari, sepasang
mata indah disampingnya memperhatikannya.
“dia memang sempurna.” batin rio.
Rio tersenyum sendiri melihat gadis berwajah tirus itu. Hidungnya yang mancung,
bulu mata yang panjang dan lentik, matanya yang selalu berkilau, seperti
lukisan tuhan yang terindah yang pernah rio saksikan.
Sejenak, rio kembali keposisinya.
Mengepal kedua tangannya diatas lututnya. Dan menyandarkan dagunya diatas
kepalan tangan itu. Ify memperhatikan sosok yang sempurna disampingnya itu.
Mengingat kembali saat terakhir kali rio bersikap seperti itu dihadapannya.
Walau sudah 10 tahun lalu, tapi, masih terekam jelas. seperti baru terjadi
beberapa detik lalu saja.
“terimakasih telah membuat dia sadar
atas rasa ini tuhan….” Batin ify.
“terimakasih atas perasaannya yang
sama sepertiku tuhan…” batin rio.
rio menggenggam tangan ify. Memaksa
ify untuk bangun. Rio
berlutut. Mengangkat wajahnya dan menatap sesosok mahluk tuhan yang cantik yang
ada dihadapannya itu.
“fy….”
“ha??”
“tatap aku.”
“kenapa sih fy? Kamu gak pernah
tatap mata aku?”
“karena….” Kata-kata ify terpotong.
“karena aku takut yo… aku takut kalo
aku natap mata indah itu, aku akan semakin jatuh kedalam perangkap cinta kamu.
dan, yang lebih aku takutkan, aku takut kalo kamu gak cinta juga sama aku..”
jawab ify lirih.
Ify menunduk. Berusaha membalas
tatapan mata rio. Entahlah, ada kekuatan dari mana? Mengapa kali ini ify begitu
berani menatap sepasang mata itu? Padahal dulu, ify selalu bermain mata jika
dia ada dihadapannya. Alasannya, Agar ada alasan baginya yang tak dapat menatap
mata itu.
“fy, aku ingin jadi pemilikmu
setelah orang tuamu dan tuhan. Aku ingin mengobati kembali luka-luka yang
pernah aku gores dihati kamu. aku ingin mencintai kamu dengan caraku. Aku ingin
menghilangkan semua ketakutan kamu. aku ingin menulis cerita indah
dilembar-lembar hidupmu yang selanjutnya untuk selamanya. Aku ingin kamu orang
pertama yang aku lihat dan aku butuh saat aku jatuh dan terluka. Aku ingin jadi
orang memberimu hal terbaik dalam hidup kamu. Dan…. Aku ingin itu semua bukan
hanya sekedar keinginan.”
“……” ify tertegun sejenak. Mencoba
mencerna kembali kata-kata yang tersusun indah tadi.
“Alyssa saufika umari, Would you
want to be the one I build my home with? Would you want to be the one I die
with?”
“Marry me,,,, Alyssa saufika
umari?”
“yes!” jawab ify mantap.
Cerita itu-pun menjadi sempurna saat
kita bersabar untuk merangkainya.
The end..